LANGIT7.ID-, Jakarta - - Artis sekaligus aktivis
Wanda Hamidah mengingatkan masyarakat untuk merenungi makna
Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November.
Lewat unggahan di akun Instagram miliknya, Wanda Hamidah menuliskan keprihatinannya akan Hari Pahlawan yang telah kehilangan makna.
Terlebih salah satu penerima anugerah gelar
Pahlawan Nasional kali ini memiliki catatan sebagai pelanggar
hak asasi manusia (HAM).
Baca juga: Berlayar ke Gaza, Wanda Hamidah Bawa Pesan: Setop Normalisasi Genosida di Palestina“
Hari Pahlawan kehilangan makna, ketika pemimpin rezim otoriter yang membungkam demokrasi dengan pembunuhan demi pembunuhan, melanggengkan korupsi, nepotisme, dan oligarki, diangkat menjadi pahlawan” tulis Wanda dalam unggahannya, dikutip Langit7.id, Senin (10/11/2025).
Dalam keterangan di unggahannya, eks anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014 ini mengenang perjuangan mahasiswa di masa reformasi 1998.
"Tahun 1998, ribuan mahasiswa di seluruh Indonesia serempak melakukan demonstrasi berhari-hari, berbulan-bulan. Mengorbankan nyawa teman-teman kami di Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2, untuk mengakhiri rezim otoriter yang penuh sejarah kelam," tulisnya.
“Hari ini, rezim itu kembali, dengan mengangkat pelanggar HAM sebagai 'pahlawan'," tandas Wanda Hamidah.
Tulisan Wanda Hamidah seolah menyindir gelar
Pahlawan Nasional yang diberikan kepada
Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Baca juga: Tertahan di Kairo, Wanda Hamidah Kabarkan Sehat WalfiatSebelumnya, Wanda terang-terangan menolak usulan Soeharto untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional lewat unggahan ulang tulisan KH Ahmad Mustofa Bisri (
Gus Mus) yang menyoroti berbagai peristiwa kelam di masa
Orde Baru, termasuk dugaan intimidasi politik di Losarang menjelang Pemilu 1971.
Selain Wanda Hamidah, sejumlah selebritas Tanah Air juga menyoroti pemberian gelar Pahlawan Nasional pada Soeharto, di antaranya Kunto Aji hingga Ernest Prakasa.
(est)