Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El Yunusiyah menegaskan pengakuan negara terhadap peran penting tokoh-tokoh Islam dalam membangun fondasi pendidikan dan moral bangsa.
Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, A Rusdiana menyebut profesi pendidik sebagai profesi kepahlawanan. Rusdiana mengatakan, pahlawan hari ini bukan hanya yang mengangkat senjata, tetapi juga yang mengangkat martabat pendidikan.
Bung Tomo sebagai salah satu pemegang komando menggerakkan Arek-arek Suroboyo dengan pidato yang menggelegar dipungkasi dengan pekik takbir. Berikut kesaksian salah satu pasukan Bung Tomo.
Salah satu veteran perang yang berjuang bersama Bung Tomo dalam pertempuran 10 November di Surabaya mengisahkan Bung Tomo pernah merampas ribuan senjata milik tentara Jepang dan mengangkutnya dengan becak. Senjata itu kemudian digunakan berjuang melawan Sekutu.
Setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang perjuangan Arek-arek Suroboyo menghalau penjajah yang dikomandoi Bung Tomo. Putra Bung Tomo, HM Bambang Soelistomo, menceritakan awal mula Bung Tomo mengomandoi pertempuran di Surabaya melawan tentara Sekutu
Di balik pekikan takbir Bung Tomo dalam peristiwa 10 November 1945. Kala itu, ada seorang dokter beragama Kristen yang ikut bergerak melawan tentara sekutu karena mendengar teriakan takbir Bung Tomo.
Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember, Rijal Mumazziq Z, menceritakan pertempuran para santri dan pemuda-pemuda Surabaya pada 10 November 1945.
Dai kondang, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menilai Hari Pahlawan pada 10 November merupakan momentum tepat untuk mengenang dan mendoakan para pahlawan. Terutama para ulama dan habib yang memiliki jasa sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia.