LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap tanggal
10 November diperingati sebagai
Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang perjuangan Arek-arek Suroboyo menghalau penjajah. Tokoh sentral di balik peristiwa tersebut adalah Sutomo atau lebih dikenal Bung Tomo.
Putra Bung Tomo, HM Bambang Soelistomo, menceritakan awal mula Bung Tomo mengomando pertempuran di Surabaya melawan tentara Sekutu. Pria kelahiran Yogyakarta, 22 April 1950 mengatakan, jiwa patriotisme Bung Tomo lahir saat mengikuti Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Baca Juga: Kekuatan Takbir Bung Tomo, Gerakkan Hati Nonmuslim Berjuang Lawan Belanda
Bung Tomo bukan dari keluarga kaya raya. Hanya sederhana, bahkan masuk dalam kategori miskin. Itu yang menyebabkan Bung Tomo tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan formal. Meski begitu, ayah Bung Tomo, Kartawan Tjiptowidjojo tak melupakan Pendidikan sang anak.
Selain mengikuti Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), Kartawan juga sering mengajak Bung Tomo remaja ke tempat-tempat diskusi para pendiri bangsa seperti tempat diskusi HOS Cokroaminoto di Surabaya. Selain itu, Bung Tomo merupakan pembaca yang baik. Itu terbukti dari kebiasaan Bung Tomo yang gemar menulis dan menjadi wartawan.
Baca Juga: KH Ahmad Sanusi, Ulama Pejuang Kemerdekaan Keturunan Sunan Giri
Saat menjadi wartawan, Bung Tomo banyak melahirkan artikel yang membela perjuangan para pendiri bangsa. Dia juga berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional, salah satunya KH Hasyim Asy’ari. Aktivitas itu membuatnya semakin mendalami makna kemerdekaan.
“Dia merasa bahwa menjadi bangsa terjajah itu terhina. Tidak semua orang bisa mendapat Pendidikan. Dia merasa bahwa bangsa ini harus merdeka,” kata Bambang saat berdiskusi di kanal Zulfan Lindan Unpacking Indonesia, dikutip Rabu (9/11/2022).
Dari situ, Bung Tomo tumbuh sebagai pemuda yang berani berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tentu perjuangan paling terkenal adalah perjuangan 10 November 1945 di Surabaya.
Baca Juga: Detik-detik Pertempuran 10 November di Surabaya, Dari Ultimatum Sekutu Hingga Resolusi Jihad
Ultimatum Dibalas UtimatumBambang menceritakan, Bung Tomo pernah berkisah saat dirinya diultimatum oleh tentara Sekutu untuk menyerahkan senjata yang direbut dari Jepang.
Sebelum ultimatum itu keluar, Bung Tomo sudah mendirikan pemancar radio sendiri. Pemancar itu awalnya didirikan untuk mengordinir perjuangan di Surabaya. Melalui pemancar itu pula, Bung Tomo memuntahkan rasa revolusionernya.
Baca Juga: Prof Sardjito: Pejuang Ilmuan Bidang Pendidikan dan Kesehatan Asal Magetan
“Jadi, pada saat itulah, bapak menggunakan radio untuk komunikasi dengan masyarakat. Pada saat diultimatum dari sekutu, dijawab langsung. Bapak konsultasi dengan gubernur Jawa Timur, Suryo. Pak Suryo bilang, ya sudah balas ultimatum sekutu itu,” kenang Bambang.
Di sisi lain, Pak Suryo juga menelpon ke Jakarta untuk mengabarkan kabar ultimatum itu ke Presiden Soekarno. Setelah mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia, Bung Tomo membalas ultimatum itu lebih keras lagi.
Sempat Membingungkan JepangAwal kemerdekaan, belum ada strategi militer yang diiterapkan secara pasti. Setiap tokoh pergerakan memiliki laskar masing-masing. Alhasil, itu sempat membuat tentara Sekutu tidak bisa bergerak selama tiga pekan.
Baca Juga: 5 Pahlawan Wanita yang Berjasa Bagi Kemerdekaan Indonesia
“Jadi, Sekutu bingung, ditembak sebelah sini, muncul sebelah sana. Jadi komunikasi belum ada. Waktu itu, salah satunya pakai radio. Radio memungkinkan menceritakan bahwa di sana ada pertemuan besar. Jadi, pasukan harus ke sana. Itu pun sering dilakukan untuk menipu sekutu. Dengan kode-kode itu bapak memberikan instruksi kepada pasukan yang sedang bertempur,” ujar Bambang.
Bertemu Tokoh Nasional di JakartaBung Tomo pernah datang ke Jakarta untuk menyaksikan para pendiri bangsa berembuk merumuskan dasar-dasar negara Indonesia. Kala itu, Bung Tomo berstatus sebagai wartawan Antara. Dia datang ke Jakarta setelah terjadi perebutan senjata di Markas Jepang.
“Dia ingin melihat apa sih yang dilakukan oleh Badan Persiapau Kemerdekaan Indonesia. Yang nyambut itu, karena waktu itu bapak wartawan Antara, yang nyambut beliau adalah Adam Malik,” ujar Bambang.
Baca Juga: Mengenang KHR As’ad Syamsul Arifin, Ulama Pejuang yang Gemar Menulis Syair
Adam Malik sempat mengajak Bung Tomo keliling Jakarta. Dia membawa Bung Tomo melihat sidang-sidang BPUPKI. Itu yang membuat semangat Bung Tomo terus berkobar mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Bapak lihat (sidang dan pertemuan tokoh nasional). Semangatnya memang semangat ingin merdeka. Merdeka itu kan tidak ingin dijajah, memperjuangkan keadilan,” pungkas Bambang.
(jqf)