Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home sosok muslim detail berita

KH Ahmad Sanusi, Ulama Pejuang Kemerdekaan Keturunan Sunan Giri

Muhajirin Jum'at, 04 November 2022 - 16:43 WIB
KH Ahmad Sanusi, Ulama Pejuang Kemerdekaan Keturunan Sunan Giri
KH Ahmad Sanusi (foto: ib times)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah Indonesia akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional KH Ahmad Sanusi dari Jawa Barat. Beliau merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang belum mendapat gelar pahlawan nasional. Tak hanya itu, beliau merupakan muhaddits atau Ulama Hadits besar keturunan Sunan Giri.

Munandi Shaleh dalam buku KH Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangannya dalam Pergolakan Nasional mencatat mencatat riwayat hidup KH Ahmad Sanusi lahir di Kampung Cicantayan, Desa Cicantayan, Kec. Cikembar Cibadak, Sukabumi pada 12 Muharram 1306 H/18 September 1888 M.

KH Ahmad Sanusi merupakan putra KH Abdurrahim bin H Yasin. Nasabnya tersambung ke Sunan Syekh Ainul Yaqin atau Sunan Giri, hingga ke Nabi Muhammad SAW. Dia dibesarkan di tengah lingkungan Pesantren selama kurang lebih 16 tahun.

Baca Juga: Sunan Giri, Paus Van Java Rujukan Umat Islam se-Nusantara

Sebagai santri muda, dia belajar langsung secara intensif dari ayahnya, ajengan H. ‘Abdurrahīm, sebelum melanjutkan pendidikan di beberapa pesantren. Pada 1905 M, saat berusia 17 tahun, dia mulai mondok di beberapa pesantren di wilayah Jawa Barat, seperti Cisaat, Sukaraja Sukabumi, Cianjur, Garut, dan Tasikmalaya.

Mukhtar Effendi dalam buku Garis Besar Keturunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan mengatakan, pendidikan Ahmad Sanusi sangat diperhatikan oleh keluarga besarnya, terutama pada dasar-dasar ilmu agama Islam. Dia bahkan menghafal 30 juz Al-Qur’an di bawah bimbingan sang ayah. Itu tidak terlepas dari statusnya sebagai keturunan ulama besar Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi dan keturunan Rasulullah SAW.

Kiai Sanusi menghafal 30 juz Al-Qur’an komplek Pesantren Cantayan Sukabumi sampai menginjak usia 16 tahun. Dia menyelesaikan pendidikan pesantren di Jawa Barat selama empat setengah tahun sebelum menikah dan menunaikan ibadah haji pada 1910.

Setelah haji, dia bersama istri menetap di Mekkah selama lima tahun memperdalam ilmu agama dari para ulama di sana. Dia juga berkunjung kepada ulama asal Nusantara dan tokoh pergerakan yang ada di Mekkah untuk bertukar pikiran.

Baca Juga: Sejarah Giri Kedaton, Pesantren Sunan Giri yang Jadi Kerajaan

Asep Mukhtar Mawardi dalam buku Haji Ahmad Sanusi dan Kiprahnya menulis beberapa tokoh yang ditemui KH Sanusi selama di Mekkah. Di antaranya muḥaddits Syekh Mahfudz dari Tremas Pacitan, yang menulis beberapa karya penting dalam ranah ‘Ulūm alḤadīth seperti kitab Manhaj Dhawī al-Naẓar dan Sharḥ Manẓūmah al-Atharli alSuyūṭī.

Kesungguhan Kiai Sanusi dalam menyerap ilmu dari para ulama mengundang kekaguman mereka. Sampai dikatakan masyarakat Sukabumi tidak perlu datang ke Makkah bila hanya untuk mempelajari ilmu agama, mereka cukup mendatangi Ahmad Sanusi.

KH Ahmad Sanusi hanya menempuh pendidikan non-formal dari pesantren ke pesantren, dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal di Sekolah maupun Universitas. Namun demikian, hal itu tidak berarti bahwa dirinya tidak menguasai bidang ilmu umum.

Peran Politik dan Mendirikan Pesantren

Peran politik KH Ahmad Sanusi dimulai sejak dirinya menyatakan tertarik dan secara praktis ikut dalam keanggotaan Sarekat Islam (SI). Memang tidak ada seremonial pelantikan, tapi dia ditemui langsung Ketua SI Regional Sukabumi, Haji Sirod, saat pulang dari Mekkah.

Selain itu, KH Ahmad Sanusi tertarik masuk politik karena kondisi politik yang dibangun oleh pejajah Belanda dan Jepang yang kali tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Dia melihat politik menjadi strategi jitu dalam melawan penjajahan yang terjadi agar tidak nampak kentara oleh pihak penjajah.

Baca Juga: Mengenal Hasyim Ashari dan Ahmad Dahlan, Ternyata Keturunan Wali

Maka itu, dia menerima jabatan sebagai anggota BPUPKI dan pengurus AII/ PUII,46 Bersama K.H. Wahid Hasyim, putra K.H. Hasyim Asy’ari. Itu merupakan bagian dari ikhtiar perjuangan melawan pendudukan penjajah.

Adapun saat berada di Sukabumi, KH Ahmad Sanusi aktif memberikan pandangan-pandangan politik, terutama saat dimintai pandangan oleh pejuang Letkol. Eddie Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat (TKR), saat terjadi peristiwa pertempuran konvoy Sukabumi-Cianjur pada tahun 1945-1946.

Selain itu, pada 1921, sang ayah menyarankan agar KH Ahmad Sanusi mendirikan pesantren sendiri di kampung Genteng Babakan Sirna, Sukabumi. Dari situ, dia dijuluki ajengan Genteng. Selain itu, ia juga membentuk beberapa Majlis Ta’lim sebagai forum kajian di masyarakat Cikukulu, Cipelang Gede Sukabumi, dan Cijengkol Cianjur.

Diasingkan oleh Belanda

Dalam kurun waktu enam tahun memimpin Pesantren dan mengelola Majlis Ta’lim, K.H. Ahmad Sanusi menghasilkan banyak karya tulis. Baik yang murni berkaitan dengan bahasan keilmuan dan upaya mematik semangat juang.

Karya tulis KH Ahmad Sanusi yang membuat ketar-ketir adalah tulisan yang diproyeksikan untuk menegur para tokoh agama yang menjadi kaki tangan Belanda. Kala itu tokoh agama kaki tangan Belanda dikenal dengan julukan ulama Pakauman.

Baca Juga: Buya Hamka Tak Hanya Ulama dan Sastrawan tapi juga Pejuang Kemerdekaan

Belanda merespon itu dengan keras. Belanda lalu siasat memenjarakan diri KH Ahmad Sanusi melalui tuduhan memobilisasi massa pada momentum perusakan jaringan kawat telepon yang menghubungkan Bogor-Sukabumi-Bandung.

Maka pada 1927, KH Ahmad Sanusi dipenjarakan selama sembilan bulan di Penjara Cianjur, dan dipindahkan ke Penjara Sukabumi sampai dengan November 1928, untuk selanjutnya diasingkan (internir) ke Batavia Centrum Senen.

Munandi Shaleh dalam buku KH Ahmad Sanusi: Pemikiran dan Perjuangan mengatakan, pengasingan KH Ahmad Sanusi ke Batavia Centrum Senen memiliki hikmah besar. Di pengasingan itu, dia dapat fokus mencurahkan buah pikiran dalam bentuk karya tulis, yang didominasi oleh responnya terhadap berbagai persoalan khilāfiyyah yang mengemuka di tengah masyarakat.

Pada 20 Februari 1939, KH Ahmad Sanusi akhirnya dapat menghirup udara bebas melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 3, yang terbit atas usulan pejabat baru Advicer Voor Inlandse Zaken, G.F. Pijper, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.W.L. Tjarda.

SK itu menyatakan, penahanan terhadap KH Ahmad Sanusi harus segera dicabut. Sebab, alasan kekhawatiran para pejabat akan rongrongan K.H. Ahmad Sanusi terhadap wibawa pemerintah Hindia Belanda di Indonesia dianggap terlalu berlebihan.

Baca Juga: Mengenang KHR As’ad Syamsul Arifin, Ulama Pejuang yang Gemar Menulis Syair

Saat Sukabumi dikuasai oleh penjajah Jepang di tahun 1942, Ahmad Sanusi dan BII memiliki andil besar dalam membuka informasi kepada pihak militer Jepang tentang basis-basis pertahanan Hindia Belanda yang tersebar di Sukabumi. Dengan modal informasi itu, Belanda dapat ditumpas dengan mudah.
Hengkangnya Belanda pada tahun 1943, menjadi babak baru pendudukan militer Jepang di Sukabumi. Semangat perjuangan untuk meraih kemerdekaan pun terus digelorakan dengan siasat memanfaatkan keadaan.

Di antara perjuangan KH Ahmad Sanusi adalah menginisiasi pelatihan khusus bagi para ulama dengan dalih memperkuat militer Jepang. Pelatihan itu berlokasi di Kantor Masjoemi, Jl. Imamura, No. 1 Jakarta, di mana K.H. Ahmad Sanusi, K.H. Agus Salim dan Dr. Amrullah ditunjuk sebagai instruktur beserta beberapa tokoh penting lainnya.

Pada tahun yang sama, K.H. Ahmad Sanusi menyetujui pengangkatan dirinya sebagai Giin Bogor Shu Sangi Kai (Dewan Penasehat Daerah Bogor) oleh otoritas Jepang. Itu menjadi siasat untuk melawan penjajah.

Baca Juga: Duta Sheila On 7 Ternyata Keturunan Ulama Penasihat Pangeran Diponegoro

Miftahul Fatah dalam buku Riwayat Perjuangan KH Ahmad Sanusi mengatakan, KH Ahmad Sanusi memanfaatkan kedudukannya sebagai Penasehat Daerah Bogor, K.H. Ahmad Sanusi memanfaatkannya dengan segera membentuk tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Pesantren Gunungpuyuh. Dia memilih K.H. Abdullah bin Nuh Bogor dan K.H. Acun Basyuni Sukabumi sebagai komandan.

Pada 1944, KH Ahmad Sanusi masuk dalam kepengurusan Jawa Hokokai (kebangkitan Jawa) mewakili Masyumi bersama dengan K.H. Wahid Hasyim dan Djoenaedi. Lalu, pada 28 Mei 1945 dia diangkat sebagai anggota BPUPK bentukan Jepang, bersama R. Soekarjo Wirjopranoto, Mr. R. Syamsudin dan lainnya.

Pada 1948, KH Ahmad Sanusi terpaksa hijrah ke Jogjakarta sesuai kesepakatan Renville, bersama dengan para pejabat RI lain, karena Jawa Barat pada saat itu telah dikuasai penjajah. Sampai menjelang tahun 1950, dia masih berada di Yogyakarta, sehingga tidak dapat menengok ayahnya yang wafat pada 1949. Baru pada awal tahun 1950 dia pulang ke Sukabumi.

Pada Ahad, 15 Syawwal 1369 H/ 31 Juli 1950 M, KH Ahmad Sanusi meninggal dunia di Pondok Pesantren Gunungpuyuh Sukabumi dalam usia 61 tahun, 10 bulan, 22 hari.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)