LANGIT7.ID - 4 Agustus merupakan tanggal wafatnya ulama kharismatik asal Situbondo Jawa Timur, KH Raden As’ad Syamsul Arifin. Beliau wafat di usia yang amat senja, yakni pada 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun.
Selain Kiai besar, Kiai As’ad juga merupakan pahlawan nasional. Pria kelahiran Mekkah pada 1897 itu merupakan pengasuh kedua dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo di Situbondo, salah satu pesantren terbesr NU di Jawa bagian timur.
Bagi kalangan Nahdliyin, sosok Kiai As’ad adalah ulama yang amat berjasa untuk Nahdlatul Ulama (NU). Beliau adalah mediator berdirinya NU, membesarkan NU sehingga menjadi partai politik yang besar dan menempatkan NU pada posisi 3 pada pemilu 1955 serta mengembalikan NU ke Khittah 1926 dengan mengadakan muktamar NU ke-27 di Situbondo.
Beliau tidak hanya dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang sangat luas. Dia pernah menulis kitab syair berbahasa Madura yang ditulis dengan huruf Arab.
Baca Juga: Syaikh Yasin Al-Fadani: Ulama Rujukan Hadits Sedunia, Dermawan Meski Tak Kaya
Mengutip situs resmi Pesantren Sukorejo, penulis buku biografi Kiai As’ad, Syamsul A Hasan mengungkapkan, sekitar 232 baris syair yang ditulis Kiai As’ad pada Ramadhan. Namun, tahunnya tak disebutkan.
Kiai As’ad menulis syair itu pada waktu liburan Ramadhan, saat santri lain pulang ke rumah masing-masing. Dalam kata pengantar kitab itu, putra Kiai As’ad, KHR Achmad Fawaid, memperkirakan syair tersebut ditulis pada 1992.
Syair-syair Kiai As’ad di antaranya berisi nasihat untuk generasi muda, mulai tata cara berguru hingga tata cara memilih jodoh. Dalam memilih jodoh, Kiai As’ad menekankan pentingnya mencari istri yang baik akhlak dan baik hati, yakni wanita bertakwa, patuh pada guru, taat sama orang tua dan mertua, serta setia pada suami.
Sedangkan dalam masalah tata cara nyantri, Kiai As’ad menganjurkan sebelum belajar agar orang tua dan anaknya menghadap guru, pasrah dunia akhirat. Dalam pergaulan sehari-hari, santri harus bersikap tenang, berpakaian sederhana, tak suka guyon namun selalu tersenyum, jarang berbicara tapi selalu berkata baik, rajin belajar, dan sering membaca Al-Qur’an.
Baca Juga: 5 Teladan M Natsir dalam Kenangan Sang Putri, Sosok Pendidik yang Tak Manfaatkan Jabatan
Berjuang Melawan PenjajahKiai As’ad sejak kecil sudah mendapatkan ilmu agama dari sang ayah, KH Syamsul Arifin. Setelah itu, dia memperdalam ilmu agama di berbagai pesantren, salah satunya di Pesantren Syaikhona Kholil. Bahkan, dia sudah berangkat haji pada usia muda sekaligus memperdalam ilmu agama.
Latar belakang itu mengasah semangat juang Kiai As’ad muda. Dia tak hanya menyebarkan ilmu agama dan memimpin pesantren, dia juga turun Gunung bergerilya berjuang mengusir penjajah Jepang dari Jember.
Di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono yang menjadi markas utama Kiai As’ad. Di sana dia menyusun strategi dan melancarkan serangan untuk melumpuhkan penjajah.
As’ad muda menjadi pemimpin para pejuang melawan serdadu Jepang di Garahan, Kecamatan Silo. Dia bergerilya dari Sumberwringin menyusuri jalan puluhan kilometer, naik turun lembah, menembus hutan belantara, dan menyeberang sungai. Gerakannya sempat tercium musuh dan dicegat pasukan penjajah di Sungai Kramat.
Baca Juga: Buya Hamka Tak Hanya Ulama dan Sastrawan tapi juga Pejuang Kemerdekaan
Sosok kharismatik membuat Kiai As’ad disegani masyarakat yang berada di kawasan Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan.
Dia juga sangat disegani tiga laskar di kawasan itu yakni laskar Sabilillah, Hizbullah, dan Pelopor. Semua kiai yang berada di laskar Sabilillah menaati semua strategi yang dibuat.
Begitu juga dengan santri yang berada di laskar Hizbullah. Tak hanya kiai dan santri, masyarakat sampai preman yang berada di laskar Pelopor mengikuti strategi Kiai As’ad.
Pesan KH As’ad Syamsul Arifin dalam berjuang membela negara adalah dengan niat. Niat memperjuangkan agama dan negara. Memperjuangkan agama untuk akhiratnya dan memperjuangkan negara untuk dunia.
Pada 3 November 2016, Kiai As’ad dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) RI No.90/TK/Tahun 2016.
(jqf)