Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 17 Januari 2026
home masjid detail berita

Istana Aceh 1640-an di Bawah Safiyyat al-Din Syah: Ulama, Ratu, dan Api Perdebatan

miftah yusufpati Ahad, 05 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Istana Aceh 1640-an di Bawah Safiyyat al-Din Syah: Ulama, Ratu, dan Api Perdebatan
Pertarungan al-Raniri dan Sayf al-Rijal di Aceh abad ke-17 bukan sekadar perebutan pengaruh istana, tapi cermin kosmopolitanisme Islam: antara teks dan mistik, ortodoksi dan muhaqqiqin. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada awal dekade 1640-an, istana Aceh kembali gegap gempita. Sultan Iskandar II wafat, dan tampuk kekuasaan beralih ke jandanya, Safiyyat al-Din Syah. Sebuah transisi yang bagi sebagian istana dianggap genting, tapi tidak bagi Nur al-Din al-Raniri. Ulama asal Gujarat yang pernah memerintahkan eksekusi Syekh Kamal al-Din itu justru semakin menguat.

Al-Raniri bukan hanya penasihat keagamaan. Ia praktis menguasai urusan agama dan negara, memanfaatkan kedekatan dengan sang ratu. Bahkan, kebijakan perdagangan yang menguntungkan Gujarat—yang membuat Belanda ketar-ketir—membuatnya semakin percaya diri.

Namun, kedigdayaan itu tak lama. Pada Agustus 1643, seorang ulama muda Minangkabau bernama Sayf al-Rijal muncul di Banda Aceh. Murid Kamal al-Din ini datang dengan reputasi besar: belajar di Gujarat dan kemungkinan besar di al-Azhar, Kairo.

Dokumen yang baru ditemukan mengungkap Sayf al-Rijal juga menyebut dirinya sebagai Sayf al-Din al-Azhari, tanda ia pernah menimba ilmu di masjid al-Azhar, pusat otoritas hukum Islam sejak abad ke-10.

Koneksi ini penting. Sejak abad ke-16, Aceh memang punya ikatan dengan Mesir. Naskah Bustan al-Salatin menyebut adanya ulama bergelar al-Azhari yang tinggal di istana Aceh sejak 1570-an. Dengan begitu, kedatangan Sayf al-Rijal bukan sekadar nostalgia, melainkan membawa aura otoritas keilmuan Timur Tengah langsung ke jantung Kesultanan.

Baca juga: Aceh Serambi Makkah: Balairung, Ulama, dan Api Kitab yang Dibakar

Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011; terj. Indonesia, 2015) mencatat, pertarungan antara al-Raniri dan Sayf al-Rijal memperlihatkan tarik-menarik kosmopolitanisme Islam Nusantara. Aceh saat itu bukan hanya pusat dagang rempah, melainkan gelanggang teologi global.

Pertarungan Teologi dan Politik

Sayf al-Rijal menuding al-Raniri membatasi ajaran Islam hanya pada teks hukum dan menolak dimensi mistis. Sebaliknya, ia membela tradisi muhaqqiqin—para pencari kebenaran hakiki Tuhan—yang diwariskan Syams al-Din al-Sumatra’i dan Hamzah Fansuri.

Al-Raniri geram. Ia menuduh lawannya menghidupkan kembali bid’ah: doktrin bahwa Tuhan dan manusia adalah “ruh dan wujud” yang bisa saling dipertukarkan. Tuduhan itu menggemakan eksekusi Kamal al-Din beberapa tahun sebelumnya.

Namun kali ini, arus berbalik. Ratu Safiyyat al-Din tampaknya tak sekeras suaminya dalam mendukung al-Raniri. Tekanan ulama lokal, ditambah legitimasi Sayf al-Rijal sebagai “al-Azhari”, membuat al-Raniri terdesak. Pada 1644, ia diusir dari Aceh.

Baca juga: Aceh dan Utsmani: Meriam, Surat, dan Harapan di Tengah Ancaman Portugis

Sebelum terusir, al-Raniri sempat memerintahkan pembakaran kitab-kitab Hamzah Fansuri dan Syams al-Din. Ia menganggap karya-karya mistik itu berbahaya. Tapi, ironisnya, meski ia gagal menundukkan lawan-lawannya, karya-karya fiqhnya tetap bertahan dalam kanon Melayu-Islam hingga berabad-abad kemudian.

“Periode al-Raniri di Aceh,” tulis Laffan, “menunjukkan bahwa Islam Nusantara tidak pernah tunggal. Ia selalu diperebutkan: antara teks dan mistik, antara ortodoksi dan kosmopolitanisme.”

Muhaqqiqin dari Serambi Mekah

Menariknya, naskah terjemahan lokal atas risalah al-Manufi—mufti Kairo abad ke-17—justru menambahkan catatan tersendiri. Di sana, nama-nama besar Islam Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syams al-Din, Kamal al-Din, hingga Sayf al-Din Azhari disebut sebagai muhaqqiqin: ulama yang mencari haqq, kebenaran sejati.

Seolah, lewat pena anonim, penyalin itu mengoreksi sejarah resmi: Aceh bukan hanya istana megah dan perang dagang, melainkan medan pertemuan gagasan besar Islam dunia, dari Gujarat hingga Kairo, dari Mekah hingga Sumatra.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 17 Januari 2026
Imsak
04:18
Shubuh
04:28
Dhuhur
12:06
Ashar
15:30
Maghrib
18:19
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan