LANGIT7.ID-Suatu hari di abad ke-16, sebuah rombongan utusan dari ujung Sumatra tiba di Istanbul. Mereka datang bukan dengan tangan kosong. Rempah wangi, burung beo warna-warni, dan kain-kain halus dibawa sebagai tanda hormat. Namun inti kedatangan mereka bukanlah hadiah, melainkan sebuah permohonan: meriam.
Aceh, kerajaan Islam yang tengah naik daun di utara Sumatra, mengirimkan surat langsung kepada Sultan Sulayman al-Qanuni—atau Suleiman the Magnificent, penguasa Kekaisaran Utsmani yang berkuasa antara 1520–1566. Dalam surat itu, Sultan Alauddin Ri’ayat Shah al-Kahar memohon agar Istanbul mengirim ahli artileri dan persenjataan untuk melawan Portugis yang sejak merebut Malaka pada 1511, terus menguasai jalur rempah.
“Permintaan itu adalah strategi Aceh meneguhkan dirinya sebagai bagian dari dunia Islam global,” tulis sejarawan Muhammad Haykal dalam artikelnya di
El Tarikh: Journal of History, Culture and Islamic Civilization (2022).
Jejak diplomasi itu terekam dalam naskah lokal seperti Bustan al-Salatin dan Hikayat Meukota Alam. Sumber-sumber tersebut menyebut Aceh menjanjikan kesetiaan politik kepada Utsmani, dengan harapan bantuan militer datang. “Surat itu memperlihatkan betapa Aceh memahami kekuatan simbolik pengakuan khalifah Utsmani,” tulis Majalah Ilmiah Tabuah dalam artikel “
The Ottoman Empire Relations with the Nusantara (Spice Islands)” (2020).
Suleiman kala itu dikenal sebagai penguasa global: Istanbul mengendalikan tiga benua, dari Balkan hingga Teluk Persia. Jika ada yang bisa menandingi Portugis di laut, Aceh percaya jawabannya hanya Turki Utsmani.
Janji dan RealitasMenurut catatan akademis, respons Istanbul tidak serta-merta hadir dalam bentuk armada besar. Meirison, Trinova, dan Eri Firdaus mencatat (Tabuah, 2020) bahwa Utsmani mengirim ahli pembuat meriam, teknisi militer, dan sejumlah persenjataan ke Aceh. Beberapa kapal juga disebut berlayar dari Laut Merah ke Samudra Hindia, meski sebagian tak sampai tujuan.
“Pada 1565–1566, ada kabar bahwa Utsmani menyiapkan kapal perang untuk Aceh. Namun situasi politik internal dan perang di Mediterania membatasi bantuan itu,” tulis situs Hidayatullah (2020).
Walau tak sebesar harapan, pengiriman teknisi artileri dan meriam Utsmani tetap menjadi titik penting. Aceh bahkan masih menyimpan sejumlah meriam berukiran kaligrafi Arab yang dipercaya berasal dari Istanbul.
Diplomasi Aceh-Utsmani memperlihatkan betapa Nusantara tidak berada di pinggiran sejarah Islam, melainkan bagian dari arus besar. Hubungan itu memperkuat posisi Aceh sebagai pusat Islam di Asia Tenggara.
Lukman Hakim, Murodi, dan Andi Rahman menulis dalam Historia Madania (2022) bahwa Aceh memanfaatkan hubungan dengan Utsmani bukan semata untuk senjata, tetapi juga untuk legitimasi politik. “Aceh ingin menunjukkan dirinya bukan kerajaan kecil di Sumatra, melainkan bagian dari perlawanan global terhadap kolonialisme Iberia,” ujar mereka.
Bagi Portugis, surat-surat yang melintas antara Banda Aceh dan Istanbul adalah ancaman. Bagi Aceh, itu adalah harapan.
Signifikansi SejarahMengapa episode diplomasi ini penting?
-
Jaringan Islam Global – Aceh menautkan dirinya ke pusat kekuasaan Islam terbesar abad ke-16.
-
Teknologi Perang – Meriam dan ahli artileri menjadi simbol kesenjangan militer antara kerajaan lokal dan kekuatan kolonial Eropa.
-
Identitas Politik – Dengan menjalin hubungan dengan Utsmani, Aceh membangun citra sebagai pelindung Islam di Asia Tenggara.
Akhirnya, meski bantuan militer tak sepenuhnya tiba, diplomasi Aceh dengan Utsmani menorehkan bab penting: bahwa dari ujung Sumatra, ada kerajaan yang berani mengulurkan tangan hingga Istanbul, demi mempertahankan jalur rempah dan keyakinan.
(mif)