LANGIT7.ID- “Betapa megahnya balairung Penguasa kita Yang Mulia. Banyak negeri di bawah dan atas angin telah kita lihat, tetapi dari semua istana raja-raja agung, tak satu pun bisa dibandingkan balairung Penguasa kita Yang Sempurna. Sungguh, negeri Aceh Dar al-Salam adalah serambi Mekah!”
Begitu catatan seorang pengelana abad ke-17, ketika menatap istana megah Kesultanan Aceh. Pada masa itu, di bawah Sultan Iskandar Muda (1607–1636), Aceh bukan sekadar kerajaan maritim di ujung Sumatra. Ia adalah pusat kosmopolitan yang menandingi hegemoni Melaka, sekaligus poros penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Aceh masa Iskandar Muda sering digambarkan sebanding dengan kekuatan global: Portugis di Malaka, Mughal di India, hingga Utsmani di Istanbul. Kapal-kapal Gujarat merapat di pelabuhan Banda Aceh, memuat lada dan rempah-rempah, sementara istana megahnya mengundang kekaguman para pelaut Eropa.
Sejarawan Michael Laffan dalam
The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011; terj. 2015) mencatat, para sultan Aceh bukan hanya penguasa politik, tetapi juga pembentuk narasi sejarah. Batu nisan lama raja-raja Pasai diganti, seolah-olah menegaskan kesinambungan: Aceh adalah pewaris sah awal mula Islam di kepulauan ini.
Bersama kejayaan politik, istana Aceh menjadi pusat intelektual Islam. Syams al-Din al-Sumatra’i (w. 1630), cendekiawan besar yang fasih berbahasa Arab, memainkan peran penting memperkenalkan filsafat mistis tujuh martabat wujud, gagasan yang dipengaruhi risalah Muhammad b. Fadl Allah al-Burhanpuri, ulama Gujarat.
Teologi itu rumit, tak untuk orang awam. Namun, bagi para sultan, ulama, dan patron istana, ia menandai posisi Aceh dalam jaringan intelektual Samudra Hindia. “Inilah wajah Islam kosmopolitan, terhubung ke India, Yaman, dan Arab,” tulis Laffan.
Meski begitu, hubungan istana dan ulama tak selalu harmonis.
Nur al-Din al-Raniri dan Api PerdebatanTahun 1637, Nur al-Din al-Raniri, ulama Hadrami dari Gujarat, tiba di Banda Aceh. Ia segera berhadapan dengan Kamal al-Din, penerus Syams al-Din, yang berani menyatakan Tuhan adalah “ruh dan wujud” manusia. Pernyataan itu dianggap sesat.
Al-Raniri, yang sebelumnya memuji Syams al-Din, berbalik arah. Ia menuding ajaran-ajaran Hamzah Fansuri dan Syams al-Din sebagai berbahaya. Debat sengit pun berlangsung di hadapan Sultan Iskandar II (1636–1641).
Kamal al-Din menolak bertobat. Ia akhirnya dieksekusi. Buku-buku karya pendahulunya—Hamzah Fansuri dan Syams al-Din—diperintahkan dibakar di halaman istana. Sebuah peristiwa yang menandai benturan tajam antara sufisme filosofis dan ortodoksi fiqh yang kian menguat.
Kini, memori tentang Aceh abad ke-17 sering diperas dalam simbol: “serambi Mekah”, pintu masuk Islam ke Nusantara. Namun, di balik simbol itu, ada dinamika panjang: perjumpaan global, perebutan tafsir, hingga api yang melalap kitab-kitab mistik Melayu.
Sejarawan Denys Lombard dalam
Le Carrefour Javanais (École des Hautes Études, 1990) menempatkan Aceh dalam konteks “pusat pertemuan peradaban”. Sementara Azyumardi Azra dalam
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Kencana, 2004) menegaskan, Aceh adalah simpul penting jaringan ulama dari Haramayn ke Asia Tenggara.
Sebagai kata penutup: Kejayaan Aceh bukan sekadar pada megahnya balairung, tetapi pada warisan wacana yang terus diperdebatkan—antara mistik dan syariah, kosmopolitanisme dan ortodoksi. Dan di sanalah, sejarah Islam Nusantara menemukan wajahnya yang penuh warna.
(mif)