Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 16 Mei 2026
home masjid detail berita

Sejarah Berhala Hubal: Bagaimana Amru bin Luhay Mengubah Wajah Teologi Makkah

miftah yusufpati Sabtu, 16 Mei 2026 - 04:00 WIB
Sejarah Berhala Hubal: Bagaimana Amru bin Luhay Mengubah Wajah Teologi Makkah
Kehidupan agama bangsa Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad adalah potret sebuah bangsa yang kehilangan arah namun tetap merindukan Tuhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di bawah terik matahari Hijaz yang membakar, Ka’bah berdiri dengan sunyi, namun suasananya tak pernah benar-benar sepi. Di sekeliling bangunan kubus yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu, bukan lagi kalimat talbiyah murni yang menggema, melainkan ratusan pasang mata beku dari batu dan kayu. Ada 360 berhala yang mengepung rumah Tuhan, sebuah anomali spiritual yang tumbuh dari rahim kebingungan sejarah yang panjang.

Makkah dan Madinah (Yatsrib) sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan sekadar wilayah tanpa Tuhan. Sebaliknya, wilayah ini sangat religius, namun dalam bentuk yang terdistorsi. Masyarakat Arab kala itu berada dalam fase transisi teologis yang rumit: mereka mengakui keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta, namun merasa terlalu kotor atau terlalu jauh untuk menyapa-Nya secara langsung.

Asal-usul penyimpangan ini sering kali ditarik ke satu nama: Amru bin Luhay bin Qum’ah. Ia bukan orang jahat dalam definisi sosial kabilahnya. Amru, dari suku Khuza’ah, adalah sosok yang sangat dihormati, dimuliakan, dan dikenal karena kedermawanannya yang meluap. Namun, justru karena pengaruhnya yang besar itulah, sebuah inovasi spiritual yang ia bawa dari perantauan menjadi arus utama yang mematikan ajaran tauhid hanif di Jazirah.

Infiltrasi dari Syam

Perjalanan Amru menuju Syam (wilayah Levant) menjadi titik balik. Di sana, ia terpesona melihat penduduk setempat yang maju secara peradaban namun menyembah berhala. Logika Amru saat itu sederhana namun fatal. Ia bertanya mengapa mereka menyembah patung-patung itu. Jawaban penduduk Syam bersifat pragmatis: berhala-berhala itu mendatangkan hujan saat kemarau dan memberi kemenangan saat perang.

Silau oleh efektivitas semu tersebut, Amru membawa pulang sebuah berhala bernama Hubal ke Makkah. Hubal bukan sekadar batu biasa; ia adalah patung dari batu akik merah berbentuk manusia. Sebagaimana dicatat oleh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam Hazal Habib Muhammad Rasulullah SAW Yaa Muhibb (Cetakan Darul Hadist, Kairo), Hubal diletakkan di samping Ka’bah dan segera naik takhta menjadi dewa tertinggi orang Arab.

Inilah awal mula benih kemusyrikan menebar. Ajaran Nabi Ibrahim yang murni, yang dibawa Hajar dan Ismail sebagai penduduk pertama Makkah, perlahan terkikis. Padahal, Allah SWT telah mengangkat Ismail sebagai rasul untuk kabilah Jurhum yang datang dari Yaman, memastikan bahwa pada mulanya, Islam adalah napas pertama lembah tersebut. Namun, ketiadaan wahyu dalam waktu yang lama—masa fatrah—membuat masyarakat berpaling pada sisa-sisa ritual yang mereka modifikasi sendiri.

Penting untuk dipahami bahwa bangsa Arab jahiliah tidak menganggap berhala-berhala itu sebagai pencipta alam semesta. Mereka tetap percaya pada kekuasaan Allah. Di sinilah letak interpretasi yang keliru: mereka memposisikan berhala sebagai syafa'at atau perantara (wasilah). Berhala-berhala itu dianggap sebagai "pejabat suci" yang mampu mendekatkan urusan manusia kepada Tuhan yang Maha Tinggi.

Al-Quran mengabadikan pola pikir sosiologis ini dalam Surat Az-Zumar ayat 3:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Artinya: "Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."

Keyakinan ini menciptakan dualisme yang ganjil. Di satu sisi mereka melakukan tawaf, di sisi lain mereka menyembelih kurban untuk Uzza, Manat, atau Lata. Mereka mengenal Allah, namun melupakan hak-hak ketuhanan-Nya. Hal ini dipertegas dalam Surat Luqman ayat 25:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Artinya: "Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, 'siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' tentu mereka akan menjawab, 'Allah'."

Pakar sejarah Philip K. Hitti dalam bukunya History of the Arabs (2002) menyebut fenomena ini sebagai sisa-sisa paganisme yang bercampur dengan tradisi monoteisme kuno. Masyarakat Makkah terjebak dalam bid’ah dan khurafat karena mereka hanya melihat perbuatan pendahulu tanpa memahami esensi ajaran aslinya. Ritual haji tetap dilaksanakan, namun dicemari dengan tepuk tangan, siulan, dan pemujaan pada simbol-status kabilah masing-masing.

Madinah: Oasis Keyakinan yang Beragam

Berbeda dengan Makkah yang didominasi oleh paganisme Quraisy, Madinah atau Yatsrib memiliki lanskap keagamaan yang lebih heterogen. Di sana, pengaruh agama Yahudi sangat kuat melalui kabilah Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa. Keberadaan pemeluk Yahudi di Madinah memberikan warna tersendiri; masyarakat Arab asli di sana, yakni suku Aus dan Khazraj, menjadi lebih akrab dengan istilah-istilah kenabian dan kitab suci dibandingkan masyarakat Makkah.

Meskipun Aus dan Khazraj masih menyembah berhala—terutama berhala Manat yang terletak di Al-Mushallal di pesisir Laut Merah—interaksi mereka dengan kaum Yahudi menciptakan "ruang tunggu" spiritual. Kaum Yahudi sering mengancam suku-suku Arab bahwa seorang nabi akan segera datang dan mereka akan memerangi suku Arab bersama nabi tersebut. Ironisnya, peringatan inilah yang kemudian membuat penduduk Madinah lebih cepat merespons dakwah Rasulullah di kemudian hari.

Selain paganisme dan Yahudi, terdapat kelompok kecil yang disebut Al-Hunafa (orang-orang yang hanif). Mereka adalah individu-individu yang muak dengan penyembahan berhala dan memilih untuk mencari "Agama Ibrahim" yang asli. Tokoh-tokoh seperti Waraqah bin Naufal atau Zaid bin Amru bin Nufail adalah contoh orang-orang yang tetap bertauhid di tengah kepungan 360 patung di Makkah. Zaid, misalnya, dikenal sering bersandar di Ka’bah sambil berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, demi Tuhan yang jiwa Zaid ada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku."

Pergeseran dari tauhid ke syirik bukan sekadar urusan ritual, melainkan berdampak pada tatanan moral. Ketika Tuhan dipandang jauh dan dapat disogok melalui perantara berhala, maka tanggung jawab personal manusia di hadapan hukum moral pun menipis. Makkah menjadi kota yang makmur secara ekonomi karena perdagangan, namun kering secara spiritual. Perjudian, khamar, dan eksploitasi terhadap kaum lemah menjadi pemandangan harian yang dilegalkan oleh adat.

Dalam karya ilmiah bertajuk Pre-Islamic Arabia: Societies, Politics, and Cultural Setting, para peneliti menekankan bahwa agama berhala di Makkah berfungsi sebagai semen sosial yang mengikat kabilah-kabilah, bukan sebagai kompas moral. Setiap suku memiliki berhala sendiri di dalam Ka’bah, yang menjamin mereka akan terus kembali ke Makkah untuk berziarah, yang pada gilirannya menguntungkan kantong para elit Quraisy.

Kehidupan agama bangsa Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad adalah potret sebuah bangsa yang kehilangan arah namun tetap merindukan Tuhan. Mereka memiliki fondasi bangunan suci (Ka’bah), mereka memiliki silsilah yang mulia (Ismail), namun mereka kehilangan cahaya pemandu (wahyu). Kekosongan inilah yang membuat sepotong batu akik merah bernama Hubal bisa dianggap sebagai pemberi solusi.

Hingga akhirnya, dari rahim silsilah Adnaniyun yang terhormat, di tengah-tengah sinkretisme yang akut itu, fajar baru bersiap menyingsing. Makkah sedang menunggu kepulangan ajaran Ibrahim yang dibawa oleh al-Amin, yang kelak akan membersihkan 360 berhala itu bukan hanya dari pelataran Ka’bah, tapi juga dari relung hati manusia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 16 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)