Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Bedah Teologis: Mengapa Perdamaian Sekuler Gagal Mengakhiri Permusuhan Yahudi-Islam

miftah yusufpati Senin, 06 April 2026 - 15:47 WIB
Bedah Teologis: Mengapa Perdamaian Sekuler Gagal Mengakhiri Permusuhan Yahudi-Islam
Penyelesaian tunggal yang dipahami bahkan oleh bangsa Yahudi itu sendiri adalah perlawanan yang bersandar pada iman. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID - Sejarah sering kali disederhanakan menjadi deretan angka koordinat dan garis batas di atas peta. Di ruang-ruang diplomasi internasional, konflik antara umat Islam dan bangsa Yahudi kerap dipotret sebagai persoalan teknis: sengketa wilayah, pembagian sumber air, atau status pengungsi. Narasi ini digulirkan secara masif oleh musuh-musuh Islam untuk membentuk opini bahwa pertikaian panjang ini dapat berakhir dengan jabatan tangan, hidup berdampingan secara damai, atau pendirian negara sekuler kecil yang layu di bawah bayang-bayang moncong senjata Zionis.

Namun, bagi mereka yang bersedia menyelami kedalaman wahyu dan catatan historis, penyederhanaan itu adalah ilusi yang berbahaya. Sejatinya, pertarungan ini bukanlah sekadar rebutan tanah, melainkan benturan eksistensi, identitas, dan yang paling fundamental: akidah. Ini adalah permusuhan lama yang telah menyalak sejak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendirikan tatanan Islam di Madinah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membedah hakikat kedengkian ini dalam firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS. al-Maidah: 82).

Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan Yahudi mendahului kaum musyrik. Sebuah penegasan bahwa meski kekafiran adalah satu milah, tingkat kebencian mereka terhadap pengikut Muhammad memiliki gradasi yang berbeda. Sejarah mencatat, Nabi sendiri tidak pernah luput dari upaya pembunuhan oleh mereka, mulai dari percobaan menjatuhkan batu giling, racun dalam daging kambing, hingga sihir Labid bin Asham.

Kini, wajah permusuhan itu bertransformasi dalam sokongan persenjataan canggih dari Barat. Di saat dunia disibukkan dengan gegap gempita politik global, pembunuhan massal terhadap anak-anak, wanita, dan lansia di Palestina terus berlangsung. Hiburan-hiburan kosong seperti pertandingan olahraga dan acara unfaedah digunakan sebagai narkotika untuk menina-bobokan umat agar abai terhadap robeknya perut wanita hamil dan runtuhnya fondasi Masjid Al-Aqsha.

Bagaimana mungkin ini disebut sengketa perbatasan, ketika masjid-masjid diubah menjadi toko minuman keras, tempat judi, hingga kandang ternak? Ini adalah perang budaya dan peradaban. Kaum Yahudi tidak menginginkan perdamaian dalam arti kesetaraan; yang mereka inginkan adalah penaklukan total. Mereka menghendaki umat ini ruku dan menghapus terminologi jihad dari kamus hidupnya, agar bisa dijadikan budak yang patuh di bawah cambuk zionisme.

Konflik sejati ini tidak akan usai dengan sekadar berdirinya negara kecil yang menanggalkan syariat Islam. Bagaimana mungkin perdamaian itu tercapai secara hakiki, sementara setiap muslim setidaknya tujuh belas kali sehari dalam salatnya membaca:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Bukan jalan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (Nasrani).

Para ahli tafsir telah bersepakat bahwa al-maghdhubi alaihim adalah kaum Yahudi. Kesadaran ini tertanam dalam setiap sujud umat Islam. Maka, opini yang dibentuk media massa tentang perdamaian sekuler hanyalah pagar pengaman bagi eksistensi Zionis.

Penyelesaian tunggal yang dipahami bahkan oleh bangsa Yahudi itu sendiri adalah perlawanan yang bersandar pada iman. Rasulullah yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu telah menjanjikan sebuah pertempuran dahsyat di akhir zaman, di mana bahkan batu dan pohon akan berbicara menunjukkan keberadaan mereka. Ini adalah janji yang benar, sebuah kepastian bahwa pertarungan identitas ini akan mencapai titik puncaknya melalui janji Allah, bukan melalui meja perundingan yang penuh tipu daya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)