LANGIT7.ID-Sejarah dunia sering kali mencatat bagaimana sebuah bangsa jatuh ke dalam jurang kehancuran justru saat mereka merasa berada di puncak kemuliaan yang tak tersentuh. Dalam konstelasi sosial dan keagamaan, kaum Yahudi muncul sebagai kelompok yang memelihara sebuah keyakinan rasisme teologis yang sangat mendalam. Di balik jubah-jubah literatur mereka, tersimpan narasi yang mereduksi martabat manusia lain hingga ke level yang serendah-rendahnya.
DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql dalam karya mereka,
Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Muashirah, membedah secara tajam karakter ini. Sebagaimana dirangkum oleh Adi Abdul Jabbar, sifat merendahkan orang lain bukan sekadar masalah etika sosial bagi mereka, melainkan sebuah doktrin yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Mereka membangun sebuah delusi kolektif bahwa hanya mereka bangsa yang dipilih Allah, para wali-Nya, dan kekasih-kekasih-Nya yang paling berhak atas surga.
Keyakinan sebagai bangsa pilihan ini melahirkan pandangan yang sangat diskriminatif terhadap umat lain. Mereka memberikan label Umamiyyin atau Ummiyyin bagi kaum muslimin, orang-orang Nasrani, dan bangsa-bangsa selain mereka. Dalam kamus mereka, istilah ini bukan sekadar bermakna buta huruf, melainkan sebuah penegasan kasta sosial bahwa umat lain adalah makhluk kelas dua yang tidak memiliki kemuliaan.
Implikasi dari cara pandang ini sangatlah mengerikan. Karena merasa berada di atas angin secara spiritual, mereka merasa memiliki lisensi untuk menghalalkan harta, darah, bahkan kehormatan bangsa-bangsa lain. Al-Quran dalam Surah Ali Imran ayat 75 mengabadikan kalimat keji yang keluar dari lisan mereka: Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Kalimat pendek ini menjadi payung pembenar bagi segala bentuk penjarahan dan perampasan hak. Bagi mereka, mengambil harta orang luar kelompok bukanlah sebuah dosa, melainkan hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Lebih jauh lagi, literatur dan rencana-rencana strategis mereka sering kali menggunakan analogi yang merendahkan harkat manusia. Mereka menyamakan orang-orang di luar Yahudi dengan sekawanan kambing, sementara mereka sendiri memposisikan diri sebagai serigala. Analogi ini memberikan gambaran jelas tentang bagaimana mereka melihat hubungan antarbangsa: bukan sebagai mitra dalam kemanusiaan, melainkan sebagai hubungan antara pemangsa dan mangsa. Ketika serigala berhasil menembus kandang kambing, tidak ada belas kasihan, yang ada hanyalah penaklukan dan konsumsi.
Ulama-ulama dunia, termasuk Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sering kali menyoroti bagaimana sifat sombong ini yang dahulu membuat mereka berani menolak kebenaran jika tidak datang melalui golongan mereka. Merendahkan manusia lain menjadi mekanisme pertahanan untuk menutupi kehampaan karakter mereka sendiri. Pandangan bahwa manusia lain setara dengan binatang ternak yang diciptakan untuk melayani kepentingan Yahudi adalah puncak dari segala kerusakan akhlak.
Dalam perspektif modern, mentalitas ini menjelaskan mengapa berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan pengabaian terhadap norma-norma internasional sering kali dilakukan tanpa ada rasa bersalah. Jika sebuah bangsa sudah meyakini bahwa manusia lain tidak setara dengannya, maka empati akan mati dan kekejaman akan dianggap sebagai keniscayaan strategi. Doktrin yang menganggap bangsa lain sebagai mangsa ini merupakan ancaman bagi tatanan perdamaian dunia yang berasaskan keadilan.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa keangkuhan selalu berujung pada kejatuhan. Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam Kitab-Nya yang Maha Bijaksana, telah memaparkan sifat-sifat ini sebagai peringatan bagi umat manusia agar tidak terperdaya oleh makar mereka. Kesombongan yang membuat mereka merasa sebagai wali Allah pada akhirnya hanya menjauhkan mereka dari kasih sayang-Nya yang sesungguhnya. Kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh garis keturunan, karena rahmat Tuhan hanya akan berpihak pada mereka yang memiliki ketakwaan, bukan mereka yang gemar merendahkan hamba-hamba-Nya yang lain.
(mif)