LANGIT7.ID-Sejarah panjang peradaban manusia sering kali menyisakan tanda tanya tentang apa yang sebenarnya menjadi penggerak utama di balik ambisi penaklukan dan penguasaan lahan. Dalam konstelasi sejarah agama, kaum Yahudi muncul sebagai kelompok yang identitasnya berkelindan rapat dengan ambisi materi. Bukan sekadar soal bertahan hidup, melainkan sebuah dorongan yang dalam literatur Islam disebut sebagai loba terhadap kehidupan dunia.
DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, dalam karya mereka
Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Muashirah, menguliti sifat ini sebagai bagian dari karakter sistemik. Berdasarkan ulasan Adi Abdul Jabbar, sifat Yahudi yang serakah, tamak, dan ambisius bukanlah sebuah kebetulan sosiologis. Ini adalah konsekuensi dari pandangan hidup yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, sebuah orientasi yang kemudian melahirkan berbagai bentuk makar dan kerusakan di muka bumi.
Kalamullah dalam Surah Al-Baqarah ayat 96 memberikan diagnosis yang sangat tajam:
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan dunia. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang keinginan untuk hidup, tetapi tentang ketamakan yang luar biasa terhadap segala pernak-pernik keduniawian. Bagi mereka, setiap jengkal tanah, setiap keping harta, dan setiap posisi kekuasaan adalah harga mati yang harus dikejar, bahkan jika harus mengabaikan prinsip-prinsip ketuhanan yang pernah mereka terima melalui para nabi.
Ketamakan ini pada gilirannya melahirkan sifat protektif yang agresif. Ketika sebuah bangsa menjadikan dunia sebagai sesembahannya, maka siapapun yang membawa cahaya kebenaran atau nilai-nilai ukhrawi akan dianggap sebagai ancaman eksistensial. Di sinilah letak akar permusuhan mereka yang sangat keras terhadap kaum muslimin. Al-Quran dalam Surah Al-Maidah ayat 82 menegaskan bahwa orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Para ulama dunia sering kali menyoroti bahwa permusuhan ini bersifat ideologis sekaligus materialistis. Kaum muslimin, dengan prinsip tauhid dan kezuhudannya, dipandang sebagai penghalang bagi ambisi hegemoni Yahudi. Rasa benci tersebut kemudian bertransformasi menjadi makar yang tak putus-putus. Makar atau tipu daya dipilih karena sesuai dengan watak mereka yang pengecut namun licik; lebih suka menikam dari belakang melalui penguasaan ekonomi dan infiltrasi pemikiran daripada berhadapan secara jantan di medan laga.
Keinginan mereka untuk hidup seribu tahun, sebagaimana disebut dalam sambungan ayat di Surah Al-Baqarah, mencerminkan ketakutan yang mendalam akan kematian. Ketakutan inilah yang membuat mereka membangun benteng-benteng pertahanan, baik berupa tembok fisik maupun sistem keuangan global yang menjerat. Namun, syahwat duniawi yang tak terbatas itu justru menjadi lubang kehancuran mereka sendiri. Kebutaan akan akhirat membuat mereka menghalalkan segala cara, termasuk melakukan kerusakan di tanah Palestina yang kini mereka klaim sebagai hak milik abadi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ambisi yang tidak terkendali oleh etika ketuhanan hanya akan melahirkan penjajahan. Yahudi dalam konteks ini menjadi prototipe dari entitas yang kehilangan kompas moral demi tumpukan materi. Sifat serakah ini pula yang menjelaskan mengapa diplomasi sering kali menemui jalan buntu; karena bagi pemuja dunia, tidak ada kata cukup kecuali setelah mereka menguasai segalanya.
Pada akhirnya, apa yang dipaparkan dalam kitab Al-Mujaz menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat akidah. Menghadapi lawan yang memiliki ambisi duniawi setinggi langit memerlukan keteguhan iman yang sedalam samudra. Sejarah telah membuktikan bahwa kemuliaan tidak akan pernah diraih melalui ketamakan, dan makar sehebat apapun akan selalu kandas di hadapan ketetapan Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati.
(mif)