LANGIT7.ID-Di masa-masa awal kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq, stabilitas negara Islam yang baru saja kehilangan Rasulullah mendapat ujian berat. Salah satu episentrum ketegangan itu muncul ketika kabar wafatnya Nabi dimanfaatkan oleh berbagai faksi untuk memulihkan otonomi kesukuan dan menantang kekuasaan sentral di Madinah. Di tengah perpecahan internal Banu Tamim mengenai kewajiban zakat, muncul sosok perempuan dari wilayah utara Jazirah Arab yang membawa ancaman baru.
Dia adalah Sajah bint Al-Harith. Berdasarkan catatan dalam buku
Abu Bakr As-Siddiq, Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, Sajah datang dari barat laut Mesopotamia, Irak. Namun, di balik kemunculannya sebagai peramal atau nabi perempuan, ada motif yang lebih dalam.
Beberapa sejarawan berpendapat bahwa kedatangan Sajah dari Irak utara ke Semenanjung Arab yang diikuti oleh orang-orangnya dan kabilah-kabilah sekitarnya, bukan sekadar karena kedukunannya atau ambisi pribadi semata.
Gerakan tersebut dicurigai sebagai dorongan dari pihak Persia dan pejabat-pejabatnya di Irak, supaya pemberontakan di Semenanjung Arab makin berkobar. Maksud utama dari operasi ini adalah untuk mengembalikan kekuasaan Persia di beberapa tempat yang sudah mulai menurun setelah Nabi Muhammad menempatkan Bazan sebagai wakilnya di Yaman, yang sebelum itu berstatus sebagai penguasa Kisra.
Dalam studi sejarah Islam, intervensi kekaisaran tetangga terhadap Jazirah Arab adalah fenomena yang wajar dalam politik internasional masa itu.
Menurut Ibnu Katsir dalam kitab
Al-Bidayah wa an-Nihayah, Persia merasa terancam dengan pesatnya perkembangan Islam yang menyatukan bangsa-bangsa Arab. Agama baru ini tidak hanya menyatukan umat, tetapi juga telah memberikan penduduk setempat harga diri dan kemerdekaan berpikir, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dihargai oleh pihak Persia.
Persia memandang kawasan Arab sebagai wilayah yang dapat diperalat untuk memecah belah kekuatan sentral di Madinah. Adakalanya, seperti yang juga dibenarkan oleh sumber-sumber sejarah, Sajah adalah satu-satunya perempuan yang mendakwakan diri sebagai nabi.
Pada setiap zaman, perempuan-perempuan semacam itu kerap digunakan sebagai mata-mata dan alat propaganda untuk menyebarkan ide pembangkangan sebelum kembali menetap di daerah asalnya.
Sikap Persia yang memperalat Sajah bertujuan untuk menimbulkan kekacauan. Sebelum munculnya Islam, Persia memandang kawasan Arab dengan sebelah mata, seolah tidak perlu diperangi dengan pasukan bersenjata secara langsung, melainkan cukup dengan membiarkannya terisolasi dan berada di bawah kendali mereka. Tidak ada yang lebih tepat untuk mencapai tujuan mengikis habis agama baru ini selain dengan memicu perpecahan internal di antara kabilah-kabilah Arab yang telah dibangun selama ini.
Sajah datang ke Semenanjung ini karena sangat terpengaruh oleh situasi tersebut. Wajar saja bila yang menjadi target utamanya adalah kaumnya sendiri, yakni Banu Tamim. Kedatangan Sajah dengan rombongan besar sangat mengejutkan Banu Tamim, yang saat itu memang sedang berada dalam kondisi kebingungan dan perpecahan internal.
Suku Banu Tamim terbagi menjadi beberapa faksi dan pandangan. Satu kelompok berpendapat bahwa zakat harus tetap ditunaikan dan mereka harus taat kepada Khalifah Rasulullah. Sebaliknya, kelompok lain berpendapat bahwa kewajiban tersebut telah gugur dengan wafatnya Nabi. Selain itu, ada juga kelompok yang bersikap gamang dan menunggu arah angin. Akibat perselisihan ini, sempat terjadi perkelahian dan ketegangan di antara sesama mereka.
Ketika Sajah datang bersama pasukannya dari kabilah Taghlib, Rabiah, Nimr, Iyad, dan Syaiban, posisi Banu Tamim semakin tertekan. Kehadiran pasukan yang gegap gempita membuat mereka yang masih bertahan dalam Islam merasa lebih menderita dan terintimidasi. Mereka dikejutkan oleh pengumuman kenabian Sajah dan ajakan untuk beriman kepadanya.
Dalam kondisi yang membingungkan tersebut, muncul perdebatan psikologis di kalangan Banu Tamim. Sebagian dari mereka teringat pada ucapan Uyainah bin Hisn tentang Tulaihah, di mana ia pernah berkata bahwa seorang nabi dari Banu Yarbu jauh lebih baik daripada nabi dari Kuraisy.
Pemikiran semacam ini memicu godaan untuk bergabung dengan Sajah demi menyelamatkan kepentingan suku. Mereka berpikir bahwa jika Muhammad telah wafat dan Sajah masih hidup, mungkin kenabian perempuan ini akan membawa keuntungan dan kebanggaan bagi Banu Yarbu.
Namun, di sisi lain, ada keraguan apakah mereka harus mendukung Sajah atau membiarkannya bertempur sendiri melawan pasukan Abu Bakar. Jika Sajah menang, mereka akan mendapat bagian kekuasaan karena masih termasuk keluarga dekat. Jika Sajah kalah, mereka berharap badai kerusuhan akan berlalu dengan sendirinya dan mereka tetap aman.
Dinamika ini menunjukkan betapa rapuhnya tatanan sosial ketika ikatan ashabiyyah atau fanatisme kesukuan mengalahkan prinsip persatuan dan kebenaran. Dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai pentingnya menjaga persatuan dan tidak membiarkan diri dipecah belah oleh kepentingan kelompok. Hal ini tercantum dalam Surah Al-Anfal ayat 63:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌArtinya:
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat ini memberikan penegasan bahwa persatuan sejati hanya dapat dicapai melalui petunjuk Allah dan kepemimpinan yang adil. Pada akhirnya, gerakan Sajah tidak mampu bertahan lama menghadapi ketegasan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq.
Peristiwa ini menjadi catatan sejarah yang penting, bagaimana intervensi politik asing dan fanatisme kesukuan dapat digagalkan oleh solidaritas yang didasari oleh prinsip kebenaran dan ketaatan kepada negara.
(mif)