Kisah Sajah adalah paradoks sejarah. Dari ancaman nyata penyerbuan Madinah hingga berakhir sebagai persekutuan singkat penuh intrik yang tidak masuk akal dengan Musailimah di Yamamah.
Perkawinan Musailimah dan Sajah bukan sekadar ikatan cinta, melainkan transaksi politik yang menghapuskan syariat demi ambisi kekuasaan di tengah kemelut Jazirah Arab pasca-wafatnya Nabi.
Kekalahan Sajah di Nibaj memaksanya mengubah haluan dari Madinah menuju Yamamah. Di sana, pertemuan antara Sajah dan Musailimah melahirkan persekutuan baru yang penuh intrik politik.
Kedatangan Sajah dari Mesopotamia bukan sekadar ambisi spiritual, melainkan operasi politik Persia untuk menggoyahkan kekuasaan Islam dan mengembalikan hegemoni mereka di Jazirah Arab.
Kedatangan Sajah bint Al-Harith ke wilayah Banu Tamim membawa ancaman baru bagi stabilitas negara Islam. Di tengah pusaran konflik, ia memanfaatkan sentimen keagamaan dan kesukuan untuk menyerang Abu Bakar.
Kiamat tidak akan datang sebelum munculnya sekitar tiga puluh nabi palsu. Dari Musailamah hingga Mirza Ghulam Ahmad, para pendusta ini menjadi ujian iman dan isyarat dekatnya akhir sejarah dunia.
Kecurigaan ulama tidak datang tanpa sebab. Munculnya Ahmadiyah di Qadian, India, pada akhir abad ke-19, menciptakan simpul kontradiktif dalam sejarah reformasi Islam modern.
Di era Umar bin Khattab menjadi khalifah, Tulaihah datang dan ikut membaiatnya. Tetapi Umar masih menegurnya: Kau sudah membunuh Ukkasyah dan Sabit! Aku samasekali tidak menyukaimu!
Dia memang dikenal sebagai orang yang pandai berbicara, mahir dalam menarik simpati orang lain, dan memiliki pengaruh besar di Bani Hanifah. Oleh sebab itu, dia menjadi seseorang yang diikuti kaumnya.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorum Niam Sholeh, akan terus konsisten (istiqamah) menjaga akidah umat Islam dari paham-paham yang menyimpang.