Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home masjid detail berita

Ahmadiyah: Mirza Ghulam Ahmad dan Masakan dari Dapur Kolonial

miftah yusufpati Jum'at, 08 Agustus 2025 - 15:38 WIB
Ahmadiyah: Mirza Ghulam Ahmad dan Masakan dari Dapur Kolonial
Di Indonesia, perdebatan seputar status Ahmadiyah kerap muncul di ranah publik, terutama saat konflik horizontal terjadi. Pemerintah gamang. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dibumbui mistik, disajikan dengan rasionalisme, dan disiram loyalitas kepada Inggris, gerakan Ahmadiyah yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad kerap dipandang lebih menyerupai produk kolonial ketimbang revolusi spiritual. Dari dapur itulah, masakan ideologisnya menghidang aroma yang membelah umat.

Sukses yang dicapai Ahmadiyah di berbagai wilayah muslim dunia, termasuk Indonesia, telah menyulut rasa tak nyaman di kalangan ulama sejak awal abad ke-20. Gerakan yang dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad itu dianggap tampil kesiangan, namun menyodok ke garis depan.

Sebagaimana dicatat dalam buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah karya Abdullah Hasan Alhadar (1980), “daerah-daerah yang dibabatnya bukan hutan lagi”, mengisyaratkan bahwa Ahmadiyah bukan pionir, melainkan pengklaim lahan pemikiran yang telah digarap lebih dulu oleh gerakan Islam lain.

Kecurigaan ulama tidak datang tanpa sebab. Munculnya Ahmadiyah di Qadian, India, pada akhir abad ke-19, menciptakan simpul kontradiktif dalam sejarah reformasi Islam modern. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai mujaddid (pembaharu), Mahdi, dan bahkan sebagai penjelmaan Isa Almasih. Namun substansi ajarannya yang menolak jihad bersenjata dan menekankan loyalitas kepada Inggris mencuatkan pertanyaan: siapa sesungguhnya yang dilayani oleh gerakan ini?

Baca juga: Jaga Akidah, Kemenag Diminta Komunikasi ke MUI Soal Baha'i dan Ahmadiyah

Ulama besar seperti Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip dalam Thoughts and Reflections of Iqbal, menyebut Ahmadiyah sebagai “suatu aliran mistik yang aneh, mencakup mistik-mistik bangsa Semit dan Arya.” Bagi Iqbal, Ahmadiyah adalah reaksi terhadap gerakan Aligarh yang dipimpin oleh Sir Syed Ahmad Khan, tokoh rasionalis India yang menjadi pelopor pendidikan Barat bagi umat Islam. “Revivalisme rohani” dalam Ahmadiyah, kata Iqbal, “bukan lagi tentang penyucian jiwa, tetapi tentang memuaskan massa dengan menghadirkan sosok Mesias.”

Kaitannya dengan Sir Syed Ahmad Khan inilah yang menjadi benang merah penting. Maryam Jameelah, seorang penulis Muslimah yang keras mengkritik modernisme Islam, mengatakan Mirza Ghulam “mengambil semua langkah dan ide Sir Syed dan membawanya ke kesimpulan yang ekstrem.” (Islam and Modernism, 1968, hal. 54).

Sementara Prof. H.A.R. Gibb, orientalis kenamaan dari Inggris, menilai Ahmadiyah sebagai “gerakan sinkretis” yang muncul dari kekecewaan terhadap Islam lama dan sebagai “reaksi terhadap gerakan Aligarh” (Islam dalam Lintasan Sejarah, hal. 153).

Jejak Sir Syed tampak terang dalam sikap politik Ahmadiyah. Kedua tokoh itu sama-sama menolak jihad dalam bentuk perang melawan Inggris. Sir Syed menganggap penjajah sebagai katalis kemajuan, dan Mirza Ghulam lebih jauh lagi menganggap jihad melawan Inggris sebagai “kejahatan yang terkutuk.” Ini memperkuat penilaian bahwa Ahmadiyah tak hanya menjiplak Aligarh, tetapi menjelma menjadi sayap ekstrem dari proyek modernisasi Islam versi kolonial.

Baca juga: Asyura di Negeri Syiah: Duka yang Dirawat, Luka yang Dirayakan

Namun persoalan tak berhenti di sana. Nama “Ahmadiyah” sendiri bukan orisinal. Dalam Al-Khutbatu Al-Ahmadiyah (1842), Sir Syed telah lebih dulu memakai istilah itu untuk menyusun pandangan keagamaannya. Bahkan, 600 tahun sebelumnya, Syekh Ahmad al-Bedawi telah mendirikan tarekat bernama Ahmadiyah (atau Bedawiyah).

Dalam hal ini, nama “Ahmadiyah” lebih merupakan strategi branding ketimbang warisan spiritual. Beberapa kalangan, seperti yang dikutip oleh Saleh A. Nahdi (Ahmadiyah Membantah Tuduhan Wahid Bakry, hal. 88), bahkan menyebut seharusnya gerakan itu dinamai “Mirzaiyah” atau “Qadianiyah”, sesuai asal-muasalnya, namun istilah itu justru dijauhi oleh para pengikutnya.

Penolakan ini menunjukkan adanya kecanggungan identitas dalam tubuh Ahmadiyah. Ia ingin tampil sebagai Islam, tetapi sekaligus menolak batas-batas tradisional Islam. Ia memakai baju agama, tetapi menjahitnya dengan benang kolonial. Ia berbicara wahyu, tetapi dalam nada pasrah kepada kekuasaan imperium Inggris.

Pola seperti ini bukan tanpa preseden. Di dunia Kristen, gerakan sinkretik yang mencampur doktrin lama dengan reinterpretasi modern, seperti Unitarianisme atau Teosofi, juga pernah lahir dalam konteks zaman yang sedang bingung mencari makna spiritual. Tapi dalam Islam, di mana legitimasi agama erat dengan otoritas wahyu, pencampuran macam ini kerap dianggap bid’ah atau bahkan kufr. Tak heran jika banyak ulama dan organisasi Islam arus utama, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, menolak mengakui Ahmadiyah sebagai bagian dari umat Islam.

Baca juga: Perbedaan Sunni dan Syiah: Rukun Islam, Rukun Iman dan Kitab Suci

Dampaknya jelas. Di satu sisi, Ahmadiyah berhasil membangun jaringan global, mengelola misi dakwah yang canggih, dan mendirikan masjid di negara-negara Barat. Namun di sisi lain, mereka hidup dalam isolasi sosial dan konflik berulang di banyak negara mayoritas muslim, termasuk Pakistan yang secara resmi mengeluarkan mereka dari Islam pada 1974.

Di Indonesia, perdebatan seputar status Ahmadiyah kerap muncul di ranah publik, terutama saat konflik horizontal terjadi. Pemerintah gamang. Sementara Komnas HAM dan kelompok civil society mendorong toleransi, sebagian ormas Islam menuntut pembubaran. Dilema ini memperlihatkan bahwa Ahmadiyah bukan sekadar persoalan teologi, tetapi juga identitas dan politik. Sejauh mana negara bisa menjamin hak kelompok minoritas tanpa melukai mayoritas, atau sebaliknya, membela mayoritas tanpa mengorbankan pluralisme?

Kembali ke akar sejarah, kita melihat bahwa Ahmadiyah tak lahir di ruang hampa. Ia adalah bagian dari mosaik respons umat Islam terhadap tekanan kolonial, guncangan modernitas, dan krisis otoritas keagamaan. Namun, sebagaimana dicatat Alhadar dalam bukunya, untuk memahami “siapa dan apa itu Ahmadiyah,” diperlukan lebih dari sekadar kutipan. Ia harus ditelusuri sampai ke “pintu dapur”-nya, ke dalam jantung ideologinya, di mana “masakan Mirza Ghulam Ahmad digarap.”

Itulah dapur ideologis yang kini masih mengepul dengan aroma yang tak semua orang sanggup menghirupnya.

Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)