Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home masjid detail berita

Kisah Sajah bint Al-Harith Menggoyang Banu Tamim Pasca Wafatnya Nabi

miftah yusufpati Senin, 04 Mei 2026 - 17:00 WIB
Kisah Sajah bint Al-Harith Menggoyang Banu Tamim Pasca Wafatnya Nabi
Di tengah pusaran konflik, ia memanfaatkan sentimen keagamaan dan kesukuan untuk menyerang Abu Bakar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Matahari di gurun pasir selalu membawa kisah tentang pergulatan kekuasaan dan tradisi. Di masa-masa awal kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq, stabilitas negara Islam yang baru saja kehilangan Rasulullah mendapat ujian berat. Salah satu episentrum ketegangan itu muncul ketika kabar wafatnya Nabi dimanfaatkan oleh berbagai faksi untuk memulihkan otonomi kesukuan.

Di tengah perpecahan internal Banu Tamim mengenai kewajiban zakat, muncul sosok perempuan cerdas yang membawa ancaman besar dari wilayah utara Jazirah Arab.

Dia adalah Sajah bint Al-Harith. Berdasarkan catatan dalam buku Abu Bakr As-Siddiq, Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, Sajah datang dari barat laut Mesopotamia, Irak. Perempuan ini berasal dari kelompok Yarbu yang masih merupakan bagian dari Banu Tamim. Namun, afiliasi sosialnya lebih kompleks dari sekadar identitas kesukuan.

Ia tinggal di tengah-tengah kabilah Taghlib yang masih memiliki hubungan kekerabatan dari pihak ibu. Di lingkungan tersebut, ia menganut agama Nasrani dan hidup di bawah bayang-bayang politik Romawi dan Persia yang saat itu memandang Islam sebagai kekuatan baru yang mengancam eksistensi dan pengaruh mereka di wilayah perbatasan.

Kecerdasan dan kemampuan Sajah dalam memimpin tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia mengukuhkan dirinya sebagai seorang dukun atau peramal untuk menarik simpati kaum laki-laki yang masih terikat erat dengan tradisi klenik dan kepercayaan masa lalu.

Sebagaimana dijelaskan oleh Haekal, seperti halnya penganut agama tertentu yang memendam kebencian kepada Nabi Muhammad, Sajah menjadikan sentimen tersebut sebagai bahan bakar untuk menggerakkan massa.

Setelah mendengar kabar wafatnya Rasulullah, ia tidak tinggal diam. Ia segera mendatangi golongannya dan kabilah-kabilah di sekitarnya dengan satu tujuan besar, yakni mengerahkan kekuatan militer untuk menyerbu Madinah dan menggulingkan kekhalifahan Abu Bakar.

Langkah Sajah ini tentu saja didukung oleh koalisi kabilah yang beragam. Dalam buku Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya Imam At-Tabari, disebutkan bahwa pasukan yang dibawa Sajah terdiri dari kabilah Taghlib, Rabiah, Nimr, Iyad, dan Syaiban.

Keberadaan pasukan gabungan ini memperlihatkan bahwa gerakan tersebut bukan sekadar gerakan spiritual, melainkan konspirasi politik dan ekonomi yang bertujuan untuk memecah belah kekuatan sentral di Madinah. Mereka melihat kekosongan kekuasaan sebagai peluang emas untuk memulihkan supremasi suku dan melepaskan diri dari ikatan sistemik kekhalifahan.

Dalam konteks sosiologi politik saat itu, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan fanatisme kesukuan atau ashabiyyah. Sosiolog sejarah seperti Ibnu Khaldun dalam karyanya Muqaddimah, menjelaskan bahwa ketika otoritas sentral melemah, kelompok-kelompok pinggiran yang merasa tersisih akan berusaha membangun aliansi untuk menantang pusat kekuasaan.

Sajah memanfaatkan celah ini dengan cerdik. Ia menggunakan identitasnya sebagai bagian dari Banu Tamim untuk mendekati kabilah-kabilah yang sedang berselisih agar bersatu di bawah komandonya.

Perpecahan di tubuh Banu Tamim sendiri, sebagaimana telah disinggung dalam riwayat mengenai perselisihan zakat antara Malik bin Nuwairah dan pengikut lainnya, membuat kelompok ini sangat rentan terhadap pengaruh luar. Ketika Sajah tiba dengan pasukannya, kabilah yang sedang gamang tersebut dihadapkan pada pilihan sulit. Sebagian dari mereka tergoda untuk bergabung dengan gerakan Sajah demi mempertahankan harta dan kebebasan kesukuan mereka yang telah lama mengakar.

Periode krisis eksistensial

Kondisi ini membuktikan bahwa masa-masa awal kekhalifahan Abu Bakar adalah periode krisis eksistensial bagi umat Islam. Ancaman murtad dan pembangkangan tidak hanya datang dari dalam, tetapi juga mendapat dukungan dari luar Jazirah Arab. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan mengenai pentingnya bersatu dalam menghadapi ancaman perpecahan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Terjemahan: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.

Tantangan yang dibawa oleh Sajah menunjukkan bagaimana dinamika politik pada abad ketujuh Masehi sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai kepentingan. Meskipun gerakan ini pada akhirnya gagal dan Sajah sendiri bertobat setelah pertemuan politiknya dengan Musailamah al-Kadzab, peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana stabilitas sebuah negara harus ditegakkan melalui ketegasan hukum dan solidaritas sosial.

Pada akhirnya, kisah kedatangan Sajah kepada Banu Tamim bukan sekadar catatan sejarah masa lalu. Ini adalah refleksi bagaimana ambisi kekuasaan dan identitas kesukuan sering kali dibungkus dengan narasi keagamaan atau spiritual untuk memobilisasi massa. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq dengan ketegasannya membuktikan bahwa negara harus bertindak cepat dalam meredam setiap bentuk anarki yang dapat merusak tatanan sosial dan persatuan umat.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)