Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 28 Mei 2026
home masjid detail berita

Tinjauan Historis: Mengapa Konflik Yahudi-Islam Melampaui Persoalan Teritorial?

miftah yusufpati Ahad, 05 April 2026 - 05:54 WIB
Tinjauan Historis: Mengapa Konflik Yahudi-Islam Melampaui Persoalan Teritorial?
Permusuhan Yahudi terhadap Islam adalah sebuah garis panjang yang ditarik dari kedengkian masa lalu menuju ambisi masa depan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah sering kali menjadi panggung bagi konflik yang tidak berkesudahan. Di antara sekian banyak drama kemanusiaan, perseteruan antara kaum Yahudi dan Islam menempati posisi yang unik sekaligus pelik. Selama beberapa dekade terakhir, opini publik global cenderung menggiring hakikat pertarungan ini ke dalam ranah sekuler: perebutan wilayah, sengketa air, hingga urusan pengungsi. Seolah-olah, jika sebuah garis perbatasan disepakati di atas meja perundingan, maka dendam sejarah itu akan menguap begitu saja.

Namun, bagi mereka yang bersedia menyelami kedalaman literatur sejarah dan wahyu, narasi tersebut tampak seperti upaya penyederhanaan yang dipaksakan. Substansi permusuhan Yahudi terhadap Islam bukanlah persoalan geografis, melainkan persoalan eksistensial yang berakar pada agama dan akidah. Permusuhan ini tidak lahir saat berdirinya negara modern di Timur Tengah, melainkan sudah menampakkan taringnya bahkan sebelum Muhammad bin Abdullah menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Jejak permusuhan ini dapat ditelusuri sejak masa kanak-kanak Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika Abu Thalib membawa keponakannya berdagang ke Syam, pendeta Buhairah memberikan peringatan yang sangat spesifik.

Buhairah mengenali tanda-tanda kenabian pada sang bocah dan memerintahkan Abu Thalib untuk segera membawanya pulang ke Mekah, menjaganya dengan ketat dari incaran kaum Yahudi.

Ketakutan Yahudi saat itu bukanlah ketakutan akan kehilangan tanah, melainkan ketakutan akan hancurnya hegemoni spiritual dan rencana besar mereka jika nabi terakhir tidak berasal dari kalangan Bani Israil.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabadikan karakter permusuhan ini dalam Al-Quran melalui firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS. al-Maidah: 82).

Ayat ini, menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, menjelaskan bahwa kekerasan hati kaum Yahudi muncul karena pembangkangan mereka terhadap kebenaran yang nyata. Mereka mengenal kebenaran tersebut sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, namun rasa dengki (hasad) terhadap kenabian yang berpindah ke garis keturunan Ismail menjadi bahan bakar permusuhan yang abadi.

Dalam tinjauan historis, permusuhan ini dapat dikerucutkan dalam tiga marhalah atau fase utama. Pertama, fase pra-kenabian dan periode awal di Mekah, di mana upaya perusakan dilakukan melalui stigmatisasi.

Kedua, fase Madinah, saat Rasulullah mendirikan tatanan politik baru. Di sini, pengkhianatan terhadap Piagam Madinah oleh Bani Qainuqa, Bani Nadzir, dan Bani Quraizhah menjadi bukti nyata bahwa hidup berdampingan secara damai dalam bingkai sekuler sulit tercapai jika salah satu pihak memendam kebencian akidah.

Ketiga, fase pasca-kenabian hingga era modern, di mana permusuhan tersebut bermetamorfosis menjadi gerakan Zionisme global.

Upaya musuh-musuh Islam untuk membentuk opini bahwa pertarungan ini hanyalah sebatas persoalan teknis negara sekuler kecil di bawah tekanan zionisme, sejatinya merupakan strategi "pagar pengaman".

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam beberapa syarahnya menekankan bahwa memahami musuh secara syari adalah bagian dari kewaspadaan iman. Jika umat Islam meyakini bahwa persengketaan ini bisa berakhir hanya dengan perbaikan taraf hidup, maka umat tersebut tengah mengabaikan peringatan sejarah yang sudah berumur ribuan tahun.

Konflik ini akan terus berlanjut karena ia bersifat ideologis. Selama Islam tetap tegak sebagai sistem nilai yang menolak dominasi kebatilan, selama itu pula upaya perusakan akan dilakukan.

Permusuhan Yahudi terhadap Islam adalah sebuah garis panjang yang ditarik dari kedengkian masa lalu menuju ambisi masa depan. Mengenali akar historis ini bukanlah untuk memelihara kebencian, melainkan untuk memposisikan diri secara tepat dalam percaturan peradaban yang tidak pernah benar-benar netral.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 28 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)