Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 12 Juli 2026
home masjid detail berita

Parade Pendusta Akhir Zaman: Menggugat Klaim Para Nabi Palsu

miftah yusufpati Jum'at, 30 Januari 2026 - 05:45 WIB
Parade Pendusta Akhir Zaman: Menggugat Klaim Para Nabi Palsu
Angka tiga puluh yang disebutkan Nabi adalah jumlah yang memiliki pengaruh signifikan atau klaim yang masif, bukan berarti membatasi jumlah pendusta-pendusta kecil lainnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam struktur teologi Islam, jabatan kenabian telah dinyatakan tertutup rapat sejak wafatnya Muhammad SAW. Namun, sejarah mencatat sebuah anomali yang terus berulang: munculnya individu-individu yang mengklaim menerima mandat langit.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menempatkan fenomena nabi palsu ini bukan sekadar sebagai gangguan sosiologis, melainkan sebagai tanda kecil kiamat yang bersifat sistemik.

Laporan yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini merujuk pada teks otoritatif dalam ash-shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan peringatan dini tentang kemunculan para petualang spiritual ini:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Artinya, tidak akan terjadi hari kiamat hingga dibangkitkan para dajjal pendusta yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.

Penggunaan istilah dajjalun kazzabun memberikan penegasan bahwa klaim kenabian pasca-Muhammad bukan sekadar kesalahan pemahaman, melainkan sebuah bentuk penyesatan besar yang memiliki karakter seperti Dajjal.

Interpretasi Awadh bin Ali membawa kita pada catatan sejarah yang sangat dinamis. Daftar pendusta ini dimulai bahkan sebelum sang Nabi wafat, melalui sosok Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah dan al-Aswad al-Ansi di Yaman.

Sejarah juga mencatat sisi unik dalam drama kenabian palsu ini melalui Sajah binti Harits, seorang wanita yang mengklaim nabi dan sempat menjalin aliansi melalui pernikahan dengan Musailamah. Meskipun beberapa dari mereka seperti Sajah dan Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi akhirnya kembali ke pangkuan Islam, eksistensi mereka telah menjadi penggenap awal dari nubuat tersebut.

Seiring berjalannya waktu, motif pengakuan kenabian ini berkembang. Muncul al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi yang membalut klaimnya dengan sentimen kecintaan kepada ahlul bait, hingga al-Harits al-Kadzdzab pada era dinasti Umayyah.

Di masa yang lebih modern, Awadh bin Ali menyoroti pergerakan Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan, India, sebagai representasi dari tanda kiamat ini yang tetap relevan hingga abad ke-20 dan seterusnya.

Secara interpretatif, kemunculan tiga puluh pendusta ini mencerminkan kerapuhan psikologis massa yang mudah tergiur oleh pesona spiritualitas instan. Fenomena ini menjadi ujian bagi nalar iman umat untuk tetap berpegang pada prinsip khatamun nabiyyin (penutup para nabi). Keberhasilan para pendusta ini dalam mengumpulkan pengikut menunjukkan bahwa menjelang kiamat, batas antara otoritas wahyu yang asli dan delusi pribadi akan semakin kabur di mata orang-orang yang tidak memiliki landasan ilmu yang kokoh.

Awadh bin Ali mengingatkan bahwa angka tiga puluh yang disebutkan Nabi adalah jumlah yang memiliki pengaruh signifikan atau klaim yang masif, bukan berarti membatasi jumlah pendusta-pendusta kecil lainnya. Kajian ini memberikan navigasi bahwa setiap kali muncul klaim kenabian baru, jam eskatologis dunia sebenarnya sedang berdetak lebih cepat. Masyarakat diminta waspada terhadap dajjal-dajjal kecil ini sebagai bentuk antisipasi sebelum munculnya Dajjal besar di penghujung zaman.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 12 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan