LANGIT7.ID-Jakarta; - Jagat media sosial belakangan ini dihebohkan oleh kisah inspiratif nan bersahaja dari seorang ulama muda asal Kudus, Jawa Tengah. Sosok yang akrab disapa Mbah Riyan itu menjadi perbincangan hangat publik setelah diketahui memiliki kapasitas keilmuan Islam tingkat dunia, meski kehidupan sehari-harinya dijalani secara sangat sederhana sebagai seorang kuli bangunan.
Nama aslinya adalah Suprianto, tetapi di panggung akademisi dan literasi keislaman internasional, ia lebih dikenal dengan nama pena Syekh Ibnu Harjo Al-Jawi. Masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya di Kudus selama ini mengenalnya tak lebih dari seorang tetangga yang ramah, pekerja serabutan yang mandi keringat di proyek bangunan saat siang hari, dan sesekali mengisi waktu senggangnya dengan memancing di tepi sungai.
Namun di balik penampilan fisiknya yang jauh dari kesan glamour dan tanpa simbol-simbol kebesaran agama, Mbah Riyan merupakan seorang ulama 'Allamah yang mutafannin (menguasai berbagai disiplin ilmu agama). Kepakarannya teruji secara nyata lewat kemampuannya dalam melakukan tahqiq (penelitian serta penyuntingan kritis) dan ta'liq (pemberian catatan kaki atau penjelasan) terhadap naskah-naskah klasik (turats) yang rumit.
Kedalaman analisis hukum Islam yang ia hasilkan melalui karya tulis berbahasa Arab terbukti menembus batas-batas negara. Ribuan kitab klasik yang telah dilahapnya, dipadukan dengan penguasaan bahasa Arab yang mendalam serta metodologi penulisan yang presisi, membuat karya-karyanya menjadi rujukan berharga bagi para akademisi keislaman di mancanegara. Bahkan, kualitas studinya dinilai melampaui standar lulusan S3 perguruan tinggi Timur Tengah, meskipun ia sendiri tidak pernah mengecap pendidikan di luar negeri.
Istilah mastur yang disematkan kepada Mbah Riyan merujuk pada konsep dalam tradisi tasawuf (wali atau ulama mastur), berasal dari kata satara yang berarti tertutup atau tersembunyi. Seseorang yang bergelar mastur adalah insan bertaraf keilmuan atau spiritual tinggi yang kedudukannya disembunyikan oleh Allah SWT dari pandangan mata manusia awam. Tirai penutup (sitar) tersebut bisa berupa profesi rakyat biasa, penampilan yang sangat bersahaja, atau kehidupan yang sama sekali jauh dari atribut panggung agama, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keagungan ilmu yang ia simpan.
Baca Juga: Kisah Mbah Mardijiyono, 103 Tahun: Bukti Bahagia Itu Obat Mujarab untuk Hidup PanjangKarya-karya Mbah Riyan under nama pena Syekh Ibnu Harjo Al-Jawi berfokus pada ranah tahqiq dan catatan kritis (hasiyah atau ta'liq) atas kitab-kitab turats berbobot tinggi dalam kajian Fikih Mazhab Syafi'i, Ushul Fikih, serta Hadis. Lewat ketelitian tingkat tinggi, ia mengoreksi kekeliruan cetak naskah kuno, melacak sanad riwayat, serta mengurai ibarat (kalimat) kitab mu'tabar yang sulit difahami. Kitab-kitab hasil olahan tangannya dicetak dan disebarkan oleh penerbit-penerbit turats internasional di Timur Tengah, serta dikaji oleh para pakar dan penuntut ilmu di berbagai belahan dunia.
Selain mastur, ada juga istilah ulama prolifik. Ulama prolifik (mualif muktsir) adalah sebutan bagi para tokoh cendekiawan Islam yang memiliki produktivitas luar biasa tinggi dalam melahirkan karya tulis ilmiah, di mana kuantitas dan kualitas riset yang mereka hasilkan mampu melampaui rentang usia hidup manusia pada umumnya. Karakteristik keulamaan ini dicirikan oleh kedisiplinan dan keistiqamahan ekstrem dalam memanfaatkan waktu, di mana seluruh helai napas, pemikiran, dan energi mereka didedikasikan untuk riset (tahqiq), penyuntingan naskah (ta'liq*, serta penulisan kitab (tashnif) di berbagai disiplin ilmu seperti Fikih, Hadis, Tafsir, dan Ushul Fikih.
Dalam sejarah peradaban Islam, jejak ulama prolifik klasik seperti Imam As-Suyuthi atau Imam An-Nawawi terus berlanjut hingga kini pada sosok-sosok seperti Mbah Riyan (Syekh Ibnu Harjo Al-Jawi), yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik, kesibukan mencari nafkah, maupun ketiadaan gelar akademis formal tidak menjadi penghalang bagi seorang alim untuk terus melahirkan karya-karya monumental yang diakui secara internasional.
Metodologi keilmuan yang dimiliki Mbah Riyan terbilang fenomenal mengingat seluruh kedalaman ilmu tersebut diperoleh secara autodidaktik dan ketekunan yang intensif di luar jalur akademis formal Timur Tengah. Kuncinya terletak pada kecintaan mendalam terhadap kitab gundul dan pembiasaan membaca ribuan juz naskah klasik secara istiqamah saban malam. Penguasaan Saraf, Nahwu, Balagah, serta logika hukum (Mantiq) secara otentik membuatnya mampu menyusun argumen keagamaan yang sangat kokoh dan presisi.
Reputasi Mbah Riyan yang melintasi batas daratan Indonesia turut mendapat pengakuan langsung dari jajaran ulama ulung dunia. Salah satu apresiasi tinggi datang dari ulama senior Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Aziz Syahawi, yang memuji ketajaman riset dan kedalaman metodologi penyuntingan naskah yang dikerjakan oleh Mbah Riyan. Pengakuan dari tokoh mazhab Syafi'i kaliber dunia ini menegaskan bahwa kualitas literasi keislaman karya anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan para ulama muhaqqiq (peneliti naskah) papan atas internasional.
Aktivitas Mbah Riyan terbagi dalam dua dunia yang kontras namun harmonis. Jika siang hari jemarinya memegang cangkul dan cetok semen di lokasi proyek bangunan, maka malam harinya jemari yang sama menggoreskan pena, menyusun kitab-kitab keilmuan yang dipasarkan hingga ke kancah internasional. Hasil karyanya menjadi bukti nyata bahwa keringat pekerja kasar dan tinta emas keilmuan dapat menyatu dalam jiwa seorang hamba yang ikhlas.
Menariknya, Mbah Riyan bukanlah tipe ulama yang mengasuh pondok pesantren besar atau memiliki majelis taklim beranggota ribuan jemaah. Ia juga tidak berdakwah lewat mimbar ceramah atau media sosial. Dakwah yang ia usung adalah dakwah bil qalam (lewat pena) dan pengamalan nyata, membuktikan bahwa kontribusi besar bagi peradaban Islam tidak selalu lahir dari panggung populer, melainkan bisa tumbuh dari ketekunan di ruang sunyi.
Baca Juga: Mengenal Habib Bugak Asyi, Ulama Aceh yang Wakafnya Bertahan Lebih dari 200 TahunPuncak dari kehebohan publik terjadi ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundangnya ke Jakarta untuk menerima penghargaan bergengsi MUI Awards atas kontribusi keilmuannya yang luar biasa. Seluruh fasilitas, mulai dari akomodasi hingga transportasi menuju ibu kota, telah disiapkan secara cuma-cuma oleh panitia.
Namun keputusan yang diambil Mbah Riyan justru mengejutkan banyak pihak. Ia secara halus menolak untuk hadir dalam acara penganugerahan tersebut dan memilih tetap berada di rumahnya di Kudus, melanjutkan rutinitas sebagai pekerja bangunan. Apa yang dianggap sebagai pencapaian besar dan kehormatan oleh kebanyakan orang, baginya bukanlah sesuatu yang perlu dicari atau dirayakan di bawah sorotan lampu kamera.
Kehadiran Mbah Riyan memberikan pelajaran kesederhanaan yang amat dalam bagi masyarakat modern yang sering terjebak dalam budaya pencitraan dan pamer kealiman. Fenomena 'Ulama Kuli Bangunan' ini menampar anggapan umum bahwa derajat keilmuan hanya diukur dari gelar akademis, pakaian serba putih, atau barisan pengikut di media sosial. Mbah Riyan mengajarkan keikhlasan murni (ikhlas as-sirr), di mana ilmu diamalkan dan ditulis murni karena Allah SWT tanpa mengharapkan pujian, jepretan kamera, maupun tumpukan gelar.
Sikap rendah hati dan penolakannya terhadap popularitas semakin menguatkan pandangan masyarakat bahwa Mbah Riyan adalah sosok wali yang mastur (kekasih Allah yang tersembunyi). Banyak tetangga terdekatnya sendiri yang baru terperanjat usai berita penolakannya viral, sebab mereka sama sekali tak menyangka bahwa kuli bangunan yang saban hari mereka sapa adalah ulama kaliber dunia.
Kisah hidup Mbah Riyan memberikan teguran sekaligus penyejuk bagi peradaban modern yang sering kali mengukur martabat seseorang dari gelar, pakaian, maupun jumlah pengikut di media sosial. Ia membuktikan bahwa ilmu yang ikhlas dan kepakaran sejati akan tetap memancarkan cahayanya hingga ke tingkat global, meskipun dibungkus dalam balutan hidup yang paling sunyi dan jauh dari riuk tepuk tangan manusia.
Baca Juga: Mengenang Syekh Hamad Al Thani: Tokoh di Balik Lahirnya Al Jazeera dan Diplomasi Media Global(zhd)