LANGIT7.ID, Jakarta; -
Khutbah Pertamaالحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ المُمُتَّقُونَ.
Jamaah Salat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,Mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hiasilah hari yang mulia ini dengan rasa syukur atas nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada bangsa ini, yaitu nikmat kemerdekaan.
Saat ini, kita sedang duduk bersimpuh khusyuk di dalam rumah Allah, di atas tanah air Indonesia yang sejatinya tersiram oleh tetesan darah, keringat, dan air mata para pahlawan serta para syuhada. Bumi Nusantara ini berdiri kokoh karena pertolongan Allah yang memeluk pengorbanan jiwa dan raga para pejuang demi membebaskan anak cucunya dari cengkeraman penjajahan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 1:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath: 1).
Kemenangan dan kemerdekaan adalah karunia agung. Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan bukanlah hadiah cuma-cuma dari penjajah, melainkan rahmat Allah SWT yang diraih melalui ikhtiar dan pengorbanan panjang.
Sejarah mencatat bahwa Islam telah masuk ke bumi Nusantara sejak abad ketujuh Masehi. Meskipun terdapat beragam teori seperti teori Gujarat, Persia, maupun Cina, bukti sejarah yang kuat menunjukkan bahwa persentuhan Islam dengan masyarakat Nusantara telah dimulai sejak awal abad Islam melalui jalur perdagangan dan dakwah para saudagar serta mubaligh dari Jazirah Arab. Islam datang membawa kedamaian, mengangkat harkat martabat manusia, dan menyatukan berbagai suku di Nusantara di bawah naungan akidah tauhid dan ukhuwah.
Perjalanan Islam di Tanah Air berkelindan erat dengan perjuangan mengusir penjajah. Para ulama dan santri berdiri di garis terdepan dalam perlawanan. Pekik takbir yang digelorakan oleh para kiai seperti Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari menjadi pemantik keberanian rakyat untuk mempertahankan kedaulatan bangsa. Kemerdekaan Indonesia dibasahi oleh darah, keringat, dan doa para ulama, santri, serta seluruh pahlawan bangsa.
Jamaah Salat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,
Kini, tugas kita adalah mengisi kemerdekaan tersebut. Menerapkan syariat dan nilai-nilai Islam tidak harus dipertentangkan dengan bentuk negara. Dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), umat Islam memiliki kebebasan dan ruang yang luas untuk menjalankan syariatnya: mendirikan salat, menunaikan zakat, mengelola lembaga keuangan syariah, menjalankan pendidikan Islam, hingga menjaga akhlak bangsa. Mengamalkan ajaran Islam secara paripurna dalam bingkai kesepakatan nasional (NKRI) adalah wujud nyata dari menjaga amanah kemerdekaan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah Salat Jumat yang dirahmati Allah,Pada khutbah kedua ini, marilah kita merenungkan janji Allah SWT di dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A'raf: 96).
Allah SWT menyertai kemerdekaan bangsa ini dengan melimpahkan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa kaya—dari lautan yang luas, tanah yang subur, hingga kandungan mineral di dalam bumi. Mensyukuri nikmat SDA ini bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan dengan mengelolanya secara jujur, adil, amanah, dan ramah lingkungan demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan segelintir golongan semata.
Maka kemakmuran sebuah bangsa bertumpu pada dua hal utama, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Quraisy:
الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Al-Quraisy: 4)
Dua pilar tersebut adalah kesejahteraan ekonomi (at-'amaham min ju') dan jaminan rasa aman serta keadilan (aamanahum min khauf). Tugas kita bersama adalah menjaga stabilitas keamanan, menegakkan keadilan hukum, serta mengentaskan kemiskinan agar negeri kita benar-benar menjadi negeri yang Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُونِيْسِيَا بَلْدَةً آمِنَةً، مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاخْذُلْ مَنْ أَرَادَ بِهَذِهِ الْبَلْدَةِ سُوءًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
(zhd)