Pada kesempatan tersebut, Nurhidayat menyoroti jejak sejarah panjang Persis yang telah berdiri sejak tahun 1923 dan terus menunjukkan kontribusi nyata dalam menjaga keharmonisan masyarakat religius di Ibu Kota.
Ustaz Idrus mengingatkan bahwa cita-cita agung penegakan nilai keislaman dan kebangsaan tidak mungkin dicapai jika Persis berjalan sendiri tanpa dukungan mitra strategis.
Perwakilan peserta dari berbagai daerah serta badan otonom membagikan pandangan dan komitmen mereka untuk menindaklanjuti hasil pelatihan di wilayah masing-masing.
Selain mencetak instruktur materi, Badiklat Kader PP Persis juga berencana membentuk kader-kader yang memiliki spesialisasi sebagai Training Organization (TO).
Ustaz Jeje Zaenudin menaruh harapan besar agar ToT ini mampu mencetak para instruktur yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki jiwa perjuangan yang kokoh dalam mengawal dakwah organisasi.
Ustaz Jeje mengatakan, dirinya ingin membangun kepemimpinan berfondasi pelayanan umat bukan ingin dilayani umat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ia mengungkapan bahwa dirinya sudah lama mengenal sosok Prof Atif. Amin menilai Prof Atip memegang teguh prinsip hidup dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an.
Ia menjelaskan, persiapan dilakukan dengan sangat baik, mulai dari akomodasi hingga materi yang akan menjadi bahan pada muktamar nanti telah dipersiapkan dengan matang.
Ustaz Haris menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tranformasi bukan dakwahnya, melainkan gerakan dakwah yang fleksibel menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kemudian gerakan dakwah juga untuk mewujudkan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.