LANGIT7.ID, Jakarta - Jelang Muktamar ke -16 Persis, muncul beberapa nama kandidat calon ketua umum. Selain Ustaz Jeje Zaenudin, juga ada nama Prof Atip Latipul Hayat.
Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Amin Fauzi turut memberikan pandangan tentang sosok Guru Besar Universitas Padjadjaran tersebut. Menurut dia, Prof Atif memiliki integritas kepribadian dan intelektual yang tidak diragukan lagi.
"Beliau cerdas, tegas, jujur, terus terang, kritis, argumentatif, open-minded, egaliter, rendah hati, enerjik, optimis, dan progresif," kata Amin Fauzi dalam keterangan tertulis yang diterima
Langit7, Jumat (23/9/2022).
Ia mengungkapan bahwa dirinya sudah lama mengenal sosok Prof Atif. Amin menilai Prof Atip memegang teguh prinsip hidup dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an.
Baca Juga: Hamdan Zoelva: Ustaz Jeje Ulama-Negarawan dari PersisCalon ketum Persis tersebut, sambungnya, adalah orang yang istiqamah. Namun tidak sedikit yang menganggap bahwa Prof Atif dengan kesan negatif. Bahkan ada yang beranggapan angkuh, ambisius, dan kurang fleksibel.
"Tetapi sebenarnya itu hanya miss undersanding saja dari cara dia mengekspresikan dan mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya dan menyalurkan energi positif yang ada dalam dirinya," ujarnya.
Menurut dia, pendapat itu adalah wajar dalam saling bertukar pikiran. Ia menceritakan kalau dirinya pernah mengalami perdebatan dengan Prof Atif. Kala itu keduanya tengah berencana mendirikan Hima Persis.
Baca Juga: Kapolri: Persis Berperan Penting dalam Berikan Wawasan KeislamanKala itu mereka masih sekitar semester lima-an program S1. Kemudian mengajukan proposal pendirian Hima Persis kepada PP Persis dan almarhum ustaz Latif Mukhtar menyetujuinya. Sebelum mengajukan proposal, keduanya pun sempat bedebat.
"Dia katakan, kalau pendirian Hima sebagai Organisasi Otonom (Ortom) Persis dilegalkan, pemuda Persis yang tersisa hanya “
tukang beas hungkul!” (tukang beras doang!) Masuk akal! Kami juga tertawa mendengarnya," ujarnya.
Ia menambahkan, secara pribadi sebenarnya bisa memahami alasannya pada waktu itu. Dia bukan menolak pendirian Hima. Melainkan untuk sementara Hima itu berada di bawah Pemuda dulu. Nanti setelah beberapa tahun, baru menjadi Ortom.
Baca Juga: Lagi Naik Daun, Nasu Palekko Kuliner Pedas Khas Bugis(zhd)