LANGIT7.ID, Jakarta; - Oleh:
Dr. H. Ahmad Zuhdi
(Ketua Bidang Diklat LDK MUI Bekasi)KHUTBAH PERTAMAKhutbah Iالحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الكِتَابَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الهُدَى وَالفُرْقَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، إِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Salat Jumat yang dimuliakan Allah SWT, Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah ﷻ yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Sebagai khatib, saya berwasiat khusus untuk diri saya pribadi dan umumnya kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah ﷻ. Sebab, hanya dengan taqwa kita dapat meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,Dalam Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 4, Allah ﷻ berfirman:
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ
"Sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hukuman." (QS. Ali 'Imran [3]: 4).
Melalui ayat ini, Allah ﷻ memperkenalkan Al-Qur'an dengan salah satu nama mulianya, yaitu Al-Furqan (pembeda atau pemisah). Setidaknya, terdapat tiga makna mendasar dari Al-Qur'an sebagai Al-Furqan yang harus kita resapi dalam kehidupan berbangsa dan beragama:
Pertama, Al-Qur'an sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil.
Al-Qur'an menjadi tolok ukur atau barometer utama dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Pembeda ini melingkupi seluruh garis kehidupan manusia: mulai dari aspek aqidah (teologis), fikrah (pemikiran), ahkam (hukum-hukum), hingga nilai-nilai sosial yang semuanya bermuara pada kebenaran hakiki.
Kedua, Al-Qur'an sebagai pemisah dari zaman lokal menuju zaman global.
Al-Qur'an hadir membawa spirit persatuan seluruh umat manusia. Jika para nabi terdahulu diutus khusus untuk kaum atau ras tertentu, maka Rasulullah ﷺ diutus untuk seluruh alam. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أحَدٌ مِنَ الأنْبِيَاءِ قَبْلِي:... وكانَ النبيُّ يُبْعَثُ إلى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وبُعِثْتُ إلى النَّاسِ كَافَّةً
"Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun dari nabi-nabi sebelumku:... Dahulu seorang nabi diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia secara universal." (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, misi kerasulan kini tidak lagi dipikul secara individu, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen umat Islam.
Ketiga, Al-Qur'an sebagai pemisah menuju era kemandirian umat.
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ sebagai penutup para nabi, tugas kelanjutan risalah tidak lagi didampingi oleh figur nabi fisik, melainkan dialihkan ke pundak umat secara kolektif. Umat dituntut untuk mandiri melalui amal jama'i (kerja sama tim). Inilah pentingnya kita membangun sinergitas dan kolaborasi.
Sepakat dengan pemikiran pahlawan nasional sekaligus pencetus Mosi Integral, Bapak M. Natsir, dakwah umat harus mencakup dua pilar utama: Dakwah Bina'an (dakwah pembangunan/pembinaan internal) dan Dakwah Difa'an (dakwah pembelaan dari ancaman eksternal).
KHUTBAH KEDUAKhutbah IIالحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ.
Jamaah Salat Jumat yang berbahagia,Mengingat betapa besarnya tanggung jawab perubahan zaman ini, Al-Qur'an telah menganugerahkan tiga kehormatan besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ dibanding umat nabi-nabi sebelumnya:
1. Ummatan Wahidah (Umat yang Satu)Allah ﷻ menyebutkan term Ummatan Wahidah dalam QS. Al-Anbiya ayat 92 dan QS. Al-Mu'minun ayat 52. Menjadi Ummatan Wahidah bukan berarti harus seragam dalam suku, bangsa, atau mazhab. Namun, bersatu dalam misi ubudiyah di segala lini kehidupan, termasuk keberanian berkiprah dalam panggung siyasah syar'iyyah (politik yang berkeadilan dan beretika).
2. Ummatan Wasatha (Umat yang Moderat/Penengah) Islam pada hakikatnya telah mengajarkan prinsip wasathiyyah (moderasi/keseimbangan). Tugas mulia kita adalah mewujudkan profil umat yang ideal agar bisa menjadi teladan dan rujukan bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Sangat disayangkan jika umat Islam yang agung ini justru hanya menjadi pengekor dan penonton, bukannya menjadi pelopor dan teladan kebaikan.
3. Khairu Ummah (Umat Terbaik) Jika peran sebagai Ummatan Wahidah dan Ummatan Wasatha berhasil kita jalankan, maka predikat Khairu Ummah otomatis akan terwujud. Umat terbaik tidak hanya salih secara internal, tetapi mampu menyosialisasikan keluhuran ajaran Islam untuk seluruh manusia (ukhrijat lin-naas) serta aktif mencegah kehancuran dan kebathilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
M. Natsir mengingatkan bahwa dalam konteks ini, ada kelompok Ummat Dawah (masyarakat luas yang menjadi sasaran dakwah) dan Ummat Ijabah (umat Islam yang telah menerima dan siap menjalankan dakwah). Semoga Allah ﷻ memberikan kekuatan kepada kita semua untuk memegang teguh Al-Qur'an sebagai Al-Furqan dan menjalankan peran sebagai umat terbaik di tengah-tengah masyarakat.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
(zhd)