LANGIT7.ID, Jakarta; - Belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Ratusan santri putra dan putri Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur’an Daar Assalam Atthohiriyah mengikuti studi edukasi ke Gedung Parlemen DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan ini diikuti seluruh santri bersama para ustaz dan ustazah dengan penuh antusias. Para santri tidak hanya melihat Gedung DPR/MPR RI dari luar, tetapi berkesempatan masuk, mengikuti pemaparan, berdiskusi, bertanya, serta mendapatkan pengalaman langsung tentang salah satu pusat aktivitas kelembagaan negara.
Dalam sesi edukasi, pihak pengelola Gedung DPR/MPR RI memberikan penjelasan mengenai lingkungan dan fungsi gedung. Sejumlah santri kemudian aktif mengajukan pertanyaan dan mengikuti diskusi. Beberapa santri yang mampu menjawab pertanyaan juga memperoleh hadiah dari pengelola gedung.
Bagi sebagian santri, kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama memasuki Gedung DPR/MPR RI. Karena itu, kegiatan tidak sekadar menjadi perjalanan edukatif, tetapi juga menghadirkan pengalaman baru yang diharapkan melekat sebagai bagian dari proses pembentukan wawasan dan karakter santri.
Pengasuh Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur’an Daar Assalam Atthohiriyah, KH Qudsi Ahmad dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan penerapan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).
“Santri tidak cukup hanya belajar dari buku. Mereka perlu melihat langsung, merasakan suasananya, berdiskusi, dan mendapatkan pengalaman nyata. Hari ini mereka belajar di gedung yang menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran di luar kelas dapat mempertemukan pengetahuan yang diperoleh santri dengan realitas kehidupan. Dengan demikian, santri diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga wawasan kebangsaan serta pengalaman sosial yang lebih luas.
Usai kegiatan di Gedung DPR/MPR RI, rombongan melaksanakan salat Zuhur berjamaah di masjid kompleks DPR RI, dilanjutkan makan siang bersama.
Perjalanan edukasi kemudian berlanjut ke Museum Satria Mandala TNI. Di lokasi tersebut, para santri dan ustaz-ustazah mendapatkan pemaparan mengenai sejarah perjuangan bangsa serta berbagai koleksi yang menggambarkan perjalanan Tentara Nasional Indonesia.
Rangkaian kunjungan dari parlemen hingga museum sejarah tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan santri dengan pengalaman nyata. Pesan yang dibawa sederhana: pendidikan bukan hanya tentang apa yang dibaca di kelas, tetapi juga tentang apa yang dilihat, dialami, dan direnungkan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan, Ustaz Abdul Rahman; Sekretaris Yayasan, Ustazah Fitri; serta Wakil Ketua Yayasan Bidang Dakwah dan Pendidikan, Dr Muammar Khadafi.
(zhd)