Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 17 Januari 2026
home masjid detail berita

Jejak Panjang Syekh Yusuf: Ulama Pengembara, Pejuang Pengasingan

miftah yusufpati Senin, 06 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Jejak Panjang Syekh Yusuf: Ulama Pengembara, Pejuang Pengasingan
Menempuh jalan dari Gowa, Banten, hingga Cape Town, Syekh Yusuf menganyam ilmu, tarekat, dan perlawanan. Warisannya membuktikan: spiritualitas bisa menjadi senjata melawan kolonialisme. ILustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah pergolakan abad ke-17, dari pelabuhan Banten hingga tanah Gowa, nama Syekh Yusuf al-Maqassari bergaung sebagai ulama, pejuang, sekaligus penghubung dunia Islam Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan Timur Tengah. Ia lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1627, sebuah kerajaan yang baru memeluk Islam beberapa dekade sebelumnya.

Pada September 1644, Yusuf muda meninggalkan tanah air menuju Arabia. Perjalanan panjang itu membawanya singgah di Banten, di mana ia bersahabat dengan putra mahkota yang kelak menjadi Sultan Ageng Tirtayasa. Ia juga singgah di Aceh—pusat intelektual Islam di ujung barat Nusantara—mungkin termasuk di antara mereka yang menyesali kepergian ulama besar Nuruddin al-Raniri dari istana.

Seperti ditulis Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (2011), Yusuf menempuh pendidikan bertahun-tahun di berbagai kota di Timur Tengah. Di Kairo, ia menyalin karya sufi besar Mawlana Jami (w. 1492) di bawah bimbingan Ibrahim al-Kurani, guru besar Madinah yang juga membimbing Abd al-Ra’uf al-Sinkili. Yusuf sempat bergabung dengan tarekat Naqsyabandiyyah, sebelum akhirnya memilih jalan Khalwatiyyah dan dibaiat di Damaskus oleh Ayyub al-Khalwati (1586–1661).

Baca juga: Gus Muwafiq: NU Konsisten dengan Islam Nusantara Meski Dituding Aneh Aneh

Dari Murid ke Pemimpin Perlawanan

Ketika kembali ke Nusantara pada akhir 1660-an, Yusuf bukan lagi pelajar, melainkan ulama besar. Ia disambut di Banten oleh sahabat lamanya, Sultan Ageng Tirtayasa, yang saat itu berkuasa (1651–1683). Yusuf menikah dengan keluarga kerajaan dan menjalin korespondensi dengan elite Gowa.

Hubungan itu bukan sekadar persaudaraan spiritual. Ketika pasukan Belanda dan Bugis menggempur Gowa pada 1669, banyak orang Makassar mengungsi ke Banten, tempat Syekh Yusuf menjadi pelindung dan guru.

Namun, ketegangan politik meningkat. Pada 1683, setelah Belanda mencampuri urusan Banten dan menangkap Sultan Ageng, Syekh Yusuf memimpin perlawanan. Dari Karangnunggal ia mengorganisasi pasukan selama beberapa pekan sebelum akhirnya tertangkap pada Desember tahun itu.

VOC mengasingkannya ke Ceylon (Sri Lanka). Di pengasingan, Yusuf tak berhenti menulis surat kepada murid-muridnya di tanah air, menyebarkan ajaran dan semangat perlawanan. Hingga akhirnya, pada 1693, Belanda mengirimnya lebih jauh ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Di sana, Syekh Yusuf meninggal dunia pada 1699.

Baca juga: Mahasiswa Baru Unusia Dibekali Karakter Islam Nusantara, Mengapa?

Jejak Spiritual dan Jaringan Global

Pengaruh Syekh Yusuf tidak lenyap bersama jasadnya. Selama masa pengasingan, ia tetap menjadi otoritas tarekat Khalwatiyyah di wilayah yang ia tinggali. Model kepemimpinan spiritual di pengasingan ini kemudian menjadi teladan dalam berbagai kisah lokal seperti Sajarah Banten dan Hikayat Hasan al-Din.

Kedua teks itu mencoba mengaitkan tarekat Khalwatiyyah yang dibawa Syekh Yusuf dengan para muhaqqiqin (pencari hakikat) besar, bahkan dengan tokoh-tokoh abad sebelumnya seperti Sunan Gunung Jati. Dalam narasi-narasi hagiografis itu, Yusuf ditempatkan dalam garis silsilah wali yang berhubungan langsung dengan Nabi Muhammad, sebuah bentuk legitimasi spiritual yang memperkuat otoritasnya.

Menurut Laffan, pengaruh ini meluas hingga abad ke-18. Sebuah laporan kerajaan Gowa sebelum 1729 mencatat kedatangan murid utama Syekh Yusuf, Abd al-Basir (Tuang Rappang), dari Banten pada 1678, disusul rombongannya dari Cirebon pada 1684. Aktivitas tarekat Khalwatiyyah tercatat jelas di Sulawesi pada 1688.

Bahkan seorang pendeta Prancis, Nicholas Gervaise (1662–1729), dalam laporan yang ia tulis setelah mewawancarai dua pangeran Makassar di Paris, menggambarkan kehidupan asketis para pengikut Syekh Yusuf—tinggal di sel-sel kecil, disiplin, dan mempraktikkan zikir seperti sufi-sufi Timur Tengah.

Baca juga: Ketum PBNU: Islam Nusantara Jawaban atas Konflik Global

Warisan yang Melintasi Samudra

Kini, makam Syekh Yusuf di Cape Town menjadi situs ziarah lintas bangsa. Ia dihormati sebagai tokoh sufi, ulama, sekaligus pejuang anti-kolonial.

Warisan Yusuf al-Maqassari adalah bukti bagaimana Islam di Nusantara tumbuh dalam jejaring global: berakar di tanah lokal, tapi berdaun di Madinah dan Damaskus. Ia menunjukkan bahwa ilmu, spiritualitas, dan perlawanan bisa menyatu dalam satu sosok—dan dari Gowa hingga Afrika Selatan, pengaruh itu masih berdenyut hingga hari ini.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 17 Januari 2026
Imsak
04:18
Shubuh
04:28
Dhuhur
12:06
Ashar
15:30
Maghrib
18:19
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan