LANGIT7.ID-Sejarah eskatologi Islam menggambarkan sebuah fragmen yang mencekam sekaligus sublim tentang hari kebangkitan. Di bawah langit yang digulung layaknya lembaran perkamen, miliaran manusia dari seluruh lini masa peradaban akan dikumpulkan dalam satu hamparan putih yang luas. Namun, dalam kerumunan kolosal itu, terdapat satu sosok yang akan menerima penghormatan istimewa dari Sang Pencipta. Ia adalah Ibrahim Alaihissalam, manusia pertama yang akan mengenakan pakaian di hari ketika semua orang berdiri dalam keadaan tanpa busana.
Peristiwa ini bukan sekadar narasi pelengkap tentang hari kiamat, melainkan sebuah simbolisme tentang kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari nomor 3349 yang bersumber dari Ibnu Abbas, memberikan gambaran yang presisi mengenai kondisi manusia saat itu:
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًاSesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan dalam keadaan belum disunat.Setelah mengucapkan sabda tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyitir firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 104 yang menegaskan bahwa penciptaan manusia akan diulangi sebagaimana awal mulanya. Namun, di tengah kesetaraan biologis dalam keadaan "telanjang" tersebut, muncul sebuah anomali penghormatan:
وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُDan orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim. (HR. Al-Bukhari).
Mengapa Ibrahim Alaihissalam? Mengapa bukan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan penutup para nabi, atau Musa Alaihissalam yang berbicara langsung dengan Tuhan? Para ulama kelas dunia memberikan interpretasi yang mendalam atas teka-teki spiritual ini. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam magnum opusnya,
Fathul Bari, mengutip beberapa pendapat ulama mengenai alasan di balik keistimewaan ini.
Salah satu alasan interpretatif yang paling kuat berkaitan dengan pengorbanan Ibrahim saat peristiwa pembakaran oleh Raja Namrud. Ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api demi mempertahankan ketauhidan, dikisahkan bahwa pakaiannya dilepaskan oleh kaumnya sebagai bentuk penghinaan. Allah membalas kesabaran dan ketelanjangannya di jalan dakwah tersebut dengan menjadikannya manusia pertama yang berpakaian di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Pakaian tersebut adalah balasan (jaza) yang setimpal atas rasa malu dan derita yang ia tanggung demi meninggikan kalimatullah di bumi.
Selain itu, Imam Al-Qurthubi dalam kitab
At-Tadzkirah memberikan perspektif lain. Pemberian pakaian pertama kepada Ibrahim merupakan bentuk pengakuan atas statusnya sebagai Khalilullah atau Kekasih Allah yang paling senior di antara para nabi Ulul Azmi lainnya. Ini adalah bentuk keramahtamahan ilahiah bagi sang Bapak Para Nabi (Abul Anbiya) yang telah meletakkan fondasi monoteisme bagi umat-umat setelahnya.
Sayyid Qutb dalam
Fi Zhilalil Quran memandang peristiwa di Padang Mahsyar ini sebagai bentuk keadilan yang puitis. Hari kiamat adalah saat di mana segala topeng duniawi luruh. Manusia kembali kepada fitrah asalnya yang tanpa pelindung. Namun, bagi mereka yang telah menyerahkan seluruh jiwanya—sebagaimana Ibrahim yang menyerahkan dirinya ke dalam api—Allah akan memberikan pelindung sebelum yang lainnya mendapatkannya. Pakaian bagi Ibrahim adalah "bisyarah" atau kabar gembira yang nyata tentang keamanan dari rasa takut yang besar (al-faza al-akbar).
Di sisi lain, keistimewaan ini sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Muhammad SAW tetap merupakan pemimpin anak cucu Adam, namun pemberian pakaian kepada Ibrahim terlebih dahulu adalah bentuk penghormatan seorang anak kepada ayahnya, atau seorang nabi terakhir kepada leluhur kenabiannya.
Pesan interpretatif dari peristiwa 13 Syawal atau bulan-bulan lainnya dalam kalender iman adalah tentang integritas. Ibrahim Alaihissalam mengajarkan bahwa siapa pun yang rela kehilangan segalanya demi kebenaran, termasuk kehilangan rasa aman dan kehormatannya di mata manusia, akan dipulihkan kehormatannya oleh Tuhan di saat yang paling menentukan. Pakaian Ibrahim di hari kiamat adalah mahkota bagi jiwa yang lurus (hanif) dan pengingat bagi kita semua bahwa pakaian ketakwaan (libasut taqwa) adalah sebaik-baiknya bekal untuk menghadapi hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna.
(mif)