LANGIT7.ID-Sejarah peradaban manusia sering kali mencatat penemuan teknologi atau wilayah baru sebagai tonggak kemajuan. Namun, dalam cakrawala spiritual Islam, salah satu capaian kemanusiaan yang paling fundamental justru terekam di sebuah meja makan di Palestina ribuan tahun silam. Di sana, Nabi Ibrahim Alaihissalam mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang membangun tradisi keramahtamahan terhadap tamu, sebuah fragmen yang kelak menjadi standar moral universal bagi umat beriman.
Fragmen ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan divalidasi oleh wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 24-28, Allah Azza wa Jalla secara retoris bertanya untuk menarik perhatian pembaca atas peristiwa tersebut:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَSudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu para malaikat) yang dimuliakan? (QS. Adz-Dzariyat: 24).
Interpretasi atas ayat ini menyuguhkan sebuah drama etika yang sangat halus. Dikisahkan, para tamu tersebut masuk menemui Ibrahim tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak dikenal oleh Ibrahim. Namun, alih-alih bersikap curiga atau menutup pintu, Ibrahim menyambut mereka dengan salam yang setimpal. Di sinilah kepribadian Ibrahim sebagai al-mukramin (yang dimuliakan) sekaligus pemulia tamu mulai terlihat.
Kepiawaian Ibrahim dalam menjamu tamu menjadi rujukan utama bagi para ulama dunia. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan beberapa poin penting mengenai adab Ibrahim saat itu. Pertama, Ibrahim pergi menemui keluarganya secara diam-diam (ragha ila ahlihi) untuk menyiapkan hidangan. Tindakan ini merupakan puncak adab; agar tamu tidak merasa terbebani atau merasa merepotkan tuan rumah.
Kedua, hidangan yang disajikan bukanlah sisa makanan atau hidangan ala kadarnya. Ibrahim membawa faja'a bi 'ijlin samin, seekor anak sapi yang gemuk yang telah dimasak. Bagi masyarakat agraris saat itu, menyembelih ternak terbaik untuk orang asing adalah pengorbanan finansial yang besar. Namun bagi Ibrahim, tamu adalah amanah langit yang harus dipenuhi dengan standar terbaik.
Ketiga, cara penyajiannya. Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut ke hadapan para tamu (faqarrabahu ilaihim) dan mempersilakan dengan kalimat yang sangat sopan, "Silakan Anda makan." Hal ini kontras dengan gaya tuan rumah yang hanya meletakkan makanan di kejauhan atau sekadar menawarkan lewat kata-kata tanpa tindakan nyata.
Menariknya, saat para tamu tersebut tidak menyentuh hidangan—karena mereka sebenarnya adalah malaikat yang tidak membutuhkan makan—Ibrahim sempat merasa takut. Ketakutan ini bersifat manusiawi, namun para tamu segera menenangkan hatinya dan memberikan kabar gembira mengenai kelahiran Ishaq. Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Quran al-Azhim menekankan bahwa keberkahan berupa kabar gembira tentang keturunan lahir justru setelah Ibrahim menunjukkan kedermawanannya.
Tradisi menjamu tamu yang diinisiasi Ibrahim ini kemudian diserap menjadi bagian inti dari ajaran Islam. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berkali-kali menekankan bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Muhammad SAW tidak hanya memerintah, tetapi ia mengikuti millah (ajaran) leluhurnya, Ibrahim, yang telah menjadikan meja makan sebagai ruang diplomasi langit dan bumi.
Pelajaran sosiologis dari pribadi Ibrahim adalah bahwa agama tidak hanya tegak di atas menara tauhid, tetapi juga di atas fondasi kedermawanan sosial. Ibrahim mengajarkan bahwa kepedulian terhadap orang asing adalah ujian keikhlasan yang sesungguhnya. Meja makan Ibrahim menjadi monumen abadi bahwa keramahtamahan adalah bahasa universal yang menembus batas identitas.
Melalui kisah ini, Al-Quran ingin menegaskan bahwa Ibrahim adalah sosok yang utuh. Ia adalah petarung di medan ketauhidan, sekaligus pelayan yang rendah hati bagi siapa pun yang mengetuk pintunya. Keramahtamahan Ibrahim adalah cermin dari jiwanya yang telah selesai dengan kepentingan ego, menyisakan ruang luas bagi kasih sayang kepada sesama makhluk.
(mif)