Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 15 Januari 2026
home masjid detail berita

Hadis Riwayat Al-Hakim dan Saat Indonesia Kehilangan H Agus Salim

miftah yusufpati Jum'at, 15 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Hadis Riwayat Al-Hakim dan Saat Indonesia Kehilangan H Agus Salim
Haji Agus Salim dan Sukarno. Foto: Ist
LANGIT7.ID-"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, dialah orang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, dialah orang celaka." — (HR. Al-Hakim)

New York, 1947. Aula megah markas Perserikatan Bangsa-Bangsa bergema oleh suara seorang lelaki tua berpeci. Haji Agus Salim. Diplomat ulung. Pendiri bangsa. Sorot matanya tajam, kata-katanya mengalir dalam bahasa Inggris yang fasih. Lalu, seakan ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan tak bisa dibatasi satu bahasa saja, ia beralih ke Prancis. Kemudian Arab. Para delegasi dunia tertegun.

“Indonesia tidak meminta belas kasihan. Indonesia menuntut haknya sebagai bangsa merdeka,” ujarnya, tanpa teks di tangan, tanpa ragu di suara.

Bayangkan. Negeri yang bahkan belum genap dua tahun merdeka, masih berdarah melawan Belanda, mengirim utusan yang berdiri sejajar dengan para negarawan dunia. Ia bukan sekadar berbicara—ia memaksa dunia mendengar.

Baca juga: Rrefleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (11): Bangun Fasilitas Olahraga dan Karakter Sejak Dini, Kunci Lahirkan Generasi Juara

Menurut catatan Rosihan Anwar dalam "Haji Agus Salim: Diplomat Ulung Pendiri Bangsa" (Kompas, 2011), Salim menguasai sembilan bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Jepang, Latin, dan sedikit Mandarin. Semuanya dipelajari otodidak. Tidak ada Harvard. Tidak ada Oxford. Tidak ada beasiswa ke universitas ternama. Hanya rasa ingin tahu, disiplin keras, dan kegigihan nyaris fanatik.

Sekarang, tujuh dekade kemudian, pertanyaan itu menyergap kita: di mana sosok seperti itu? Masihkah ada pemimpin yang berani berdiri di forum dunia, berbicara tanpa teks, menguasai bahasa internasional, dan membuat lawan bicara terdiam bukan karena sopan santun diplomasi, melainkan karena kekuatan logika dan argumentasi?

Buku "100 Tahun Kebangkitan Nasional" (LP3ES, 2008) menyebut generasi perintis kemerdekaan adalah polymath—manusia serba bisa. Soekarno mengutip Shakespeare dan Al-Qur’an dalam satu tarikan napas, berorasi dalam bahasa Belanda dan Inggris tanpa tersandung. Hatta menulis artikel ekonomi di media Eropa dengan bahasa akademik setara profesor. Sutan Sjahrir memikat intelektual Leiden dengan manifesto politiknya.

Dan Agus Salim? Ia menjadikan bahasa sebagai senjata diplomasi. Seperti dicatat Audrey Kahin dalam "Haji Agus Salim: The Grand Old Man" (Cornell University Press, 1997), Salim muda rela menjadi penerjemah sukarela bagi misionaris Eropa, hanya demi mempraktikkan bahasa asing dan membaca buku-buku yang dilarang pemerintah kolonial. Baginya, “Siapa menguasai bahasa, ia menguasai pikiran lawan.”

Baca juga: Upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI Makin Dekat, Mensesneg Pastikan Semua Siap

Kontraskan dengan hari ini. Banyak pejabat kita kesulitan berbicara bahasa Indonesia dengan baik, apalagi bahasa asing. Di forum internasional, sebagian besar membaca teks terjemahan kaku yang disiapkan staf. Mata terpaku pada kertas. Suara tanpa roh. Tidak ada improvisasi, tidak ada nyawa. Publik di rumah hanya disuguhi foto-foto “diplomasi” untuk pencitraan, bukan bukti kapasitas intelektual.

Generasi emas dulu lahir dari keterdesakan dan cita-cita besar. Mereka belajar bahasa asing bukan untuk pamer, tetapi untuk membobol pagar ilmu yang dipasang kolonial. Kini, di zaman internet, ketika semua bahasa dunia ada di ujung jari, kita justru jarang melahirkan diplomat yang benar-benar piawai.

Kita sering bepergian ke luar negeri, tetapi jarang pulang membawa gagasan yang mengguncang. Kita banyak hadir di forum dunia, tetapi sering menjadi pelengkap, bukan pengarah percakapan. Kita punya semua fasilitas—gedung megah, dana riset, teknologi—namun kerap gagap di podium.

Jika ukuran kita adalah keberanian tampil setara di panggung global, maka jawabannya getir: kita tertinggal. Dulu, miskin dan terjajah, para tokoh bangsa berkeliling dunia, memukau hadirin dengan logika tajam. Kini, merdeka dan serba punya, kita justru kehilangan orator yang diingat dunia.

Sejarah memberi kita cermin. Agus Salim tidak lahir dari keluarga superkaya. Ia bukan lulusan universitas Eropa. Tetapi ia punya kombinasi yang nyaris punah di ruang kekuasaan hari ini: iman, ilmu, dan keberanian. Seperti dicatat Taufik Abdullah dalam Agama dan Perubahan Sosial (LP3ES, 1983), Salim membangun dirinya dengan kesungguhan yang tak kenal kompromi.

Baca juga: Kemerdekaan Menurut Islam: Antara Tauhid, Kedaulatan, dan Martabat Manusia

Hari ini, kita membutuhkan lebih banyak “Agus Salim” baru. Orang yang menguasai bahasa dunia, memahami geopolitik, dan berani berkata benar di hadapan siapa pun, tanpa tunduk pada tekanan. Jika tidak, kita akan tetap menjadi penonton di panggung sejarah—bertepuk tangan untuk tokoh masa lalu, sambil menyadari bahwa kita tak lagi punya yang setara.

Di aula PBB tahun 1947 itu, tepuk tangan menggema. Bukan hanya untuk Agus Salim, tetapi untuk sebuah bangsa yang berani bicara setara. Kini, gema itu semakin samar. Dan pertanyaan yang menghantui itu pun kembali: kapan terakhir kali dunia bertepuk tangan untuk kita?

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 15 Januari 2026
Imsak
04:17
Shubuh
04:27
Dhuhur
12:05
Ashar
15:30
Maghrib
18:18
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan