LANGIT7.ID, Jakarta - Giri Kedaton adalah kerajaan yang unik di Nusantara. Sebab awalnya kerajaan ini tidak didirikan sebagai kerajaan namun sebagai pesantren. Giri Kedaton atau Kasunanan Giri terletak di Gresik, Jawa Timur dan menjadi pusat belajar Islam santri dari seluruh Nusantara.
Giri Kedaton didirikan Raden Paku alias
Sunan Giri dan dipimpin oleh penguasa bergelar susuhunan pada abad ke-15 hingga abad ke-17. Namun, setelah Giri ditaklukkan oleh Kesultanan Mataram pada 1636, penguasa Giri bergelar panembahan.
Budayawan Irfan Afifi menjelaskan, Giri Kedaton itu menjadi pusat padepokan yang terletak di Gresik. Bahkan, dalam catatan Belanda, Giri Kedaton disebut sebagai pusat keagamaan. Dia mencontohkan catatan pelayaran Portugis yang menyebut Giri Kedaton dipimpin oleh seorang raja.
“Ini mungkin maksudnya adalah
Sunan Giri, yang raja-raja lainnya di Tanah Jawa selalu berbicara dengan menyembah kepadanya. Ini laporan dari sumber Portugis,” kata Irfan Afifi kepada Langit7.id, Rabu (2/11/2022).
Giri Kedaton juga dicatat seorang pelaut Belanda bernama Olivier Van Noort yang berkunjung ke Gresik pada 1646. Dia menyebut bahwa raja tua itu berumur 120 tahun. Olivier menggambarkan sosok raja itu sebagai seorang pendeta tertinggi di Tanah Jawa, jauh dari kota dan mempunyai istana dengan banyak rumah.
Baca Juga: Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya
“Ini juga mendeskripsikan susunan Giri Kedaton, sehingga ini memang dikenal, menjadi pusat, menurut catatan-catatan Belanda juga dikenal sebagai pusat otoritas spiritual yang diakui oleh raja-raja di sekujur Pulau Jawa, maupun raja-raja di daerah luar Jawa. Ini menurut catatan-catatan Belanda,” kata Irfan Afifi.
Giri Kedaton juga disebutkan oleh pelancong Belanda bernama Jacob Van Heemskerck menyebut raja itu dalam suratnya pada 4 Juli 1602 sebagai Uskup Besar. Penulis-penulis Eropa lain juga menyebut Sunan Giri sebagai Paus alias Paus Van Java.
Kenapa Sunan Giri disebut Paus? Irfan menjelaskan, hal itu tersebut dikaitkan dengan otoritas paling tinggi dan diakui umat Islam pada masa itu. Itu disamakan dengan otoritas tertinggi agama Kristen di Eropa, yang memiliki hirarki sampai ke Paus.
“Dia ketika orang-orang Belanda melihat agama Islam di Nusantara, dia ingin mencari pusat, siapa pemimpin pusatnya ini. Nah, di banyak catatan disebutkan memang Sunan Giri pemimpin tertinggi yang diakui,” kata Irfan Afifi.
Giri Kedaton Bertransformasi Jadi KerajaanDalam Babad Tanah Jawi versi JJ Meinsma, W.L Olthof, hingga versi Yosodipuro diceritakan peralihan Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak. Sebelum raja pertama Kerajaan Demak, Raden Fatah, berkuasa, Sunan Giri didaulat sebagai raja pertama dalam masa transisi. Sunan Giri didaulat menjadi raja selama 40 hari agar proses transisi kerajaan berjalan lancar.
Baca Juga: Dolanan Cublak-Cublak Suweng, Karya Sunan Giri Sarat Nilai Moral
“Dia hanya menjadi raja transisi sementara agar pergantian kekuasaan Majapahit ke Demak berlangsung mulus, sehingga 40 hari dia menjadi raja, baru kemudian dilemparkan ke Raden Patah. Ini dicatat dalam sumber-sumber Babad, sehingga kemudian susunan di Bukit Giri kemudian dinamai Giri Kedaton, karena memang dia pernah menjadi raja selama 40 hari,” kata Irfan.
Alasan Sunan Giri Jadi Rujukan Seluruh NusantaraMenurut Irfan Afifi, Sunan Giri menjadi rujukan di seluruh Nusantara tidak lepas dari statusnya sebagai salah satu Wali Songo. Wali Songo memiliki jaringan atau simpul. Simpul itu ada di Tanah Jawa, Sumatera, Malaka, Filipina, India, dan Nusantara secara umum. Semua itu berjejaring.
Saat itu, pusat penyebaran Islam rata-rata berkumpul di Masjid Demak. Setelah Sunan Ampel meninggal dunia, Sunan Giri ‘naik tahta’. Itu karena Sunan Giri pernah ditambatkan sebagai raja Demak selama 40 hari dan otoritas ruhaniah-nya meningkat.
“Sehingga banyak sekali dari wilayah-wilayah luar Jawa kemudian berguru ke Giri. Daerah-daerah lain seperti Pulau Hitu, Pulau Banda, Ambon, dan pulau-pulau lain juga dicatat dalam sumber Belanda bahwa mereka sering menyerahkan upeti semacam hadiah kepada Sunan Giri yang saat itu otoritas ruhaniyah sangat diakui,” jelas Irfan.
Baca Juga: Saat Sunan Giri Haramkan Wayang, Sunan Kudus Gepengkan Biar Halal
Bahkan, raja-raja Jawa dulu menaruh hormat kepada Sunan Giri. Irfan mencontohkan perpindahan Demak ke Pajang juga atas restu dari Sunan Giri. Joko Tingkir, Raja Pajang, juga mendapatkan pengesahan dari Sunan Giri. Begitu pula dengan Mataram.
“Bahkan Sunan Giri sendiri meramalkan nanti setelah Pajang, akan muncul sebuah kerajaan besar yang ada di Mataram,” ujar Irfan.
Babad Tanah Jawi menggambarkan Sunan Giri memiliki otoritas ruhani yang sangat besar, karena dia pernah mengawali proses transisi masyarakat Jawa memeluk Islam. Itu menjadi penanda penting. Kemudian, Jawa menjelma seperti pusat otoritas ruhani yang kemudian menyebar ke Nusantara.
“Oleh karena itu, dalam sumber Belanda dia (Sunan Giri) disebut Paus Van Java. Dia dikenal dengan gelar Hanyokrowati, gelar raja sebenarnya karena dia memang pernah menjadi raja,” ujar Irfan.
Baca Juga: Pondok Pesantren: Titik Awal Penyebaran Peradaban Islam di Nusantara
Selain otoritas ruhani itu, Sunan Giri sebagai seorang wali yang menjadi raja Islam pertama di Tanah Jawa sebelum Demak. Akhirnya, Giri Kedaton semakin meningkat kuasa ruhani atau otoritas ruhaninya di sepanjang Nusantara.
Popularitas Sunan Giri sebagai raja sekaligus wali itu membuat umat Islam seluruh Nusantara berbondong-bondong berguru kepadanya. Dari murid-muridnya inilah yang membuat Giri menjadi pusat bagi penyebaran Islam. Dia juga melegitimasi santri-santrinya untuk menyebarkan Islam di daerah masing-masing.
“Misal di Minang, ada Datuk Ribandang, nanti ada di Makassar, ada di banyak tempat, yang memang menyandarkan otoritas ruhaninya ke Sunan Giri. Nanti, kita juga perlu bedakan bahwa semenjak Sunan Giri Kedaton berumur tua, kemudian dilanjutkan oleh Sunan Giri Prapen, kemudian diteruskan oleh Panembahan Kawis Guwo, kemudian diteruskan lagi oleh Panembahan Agung,” ujar Irfan Afifi.
Giri Kedaton MelemahDjoko Suryo via paparan bertajuk “Tradisi Santri dalam Historiografi Jawa: Pengaruh Islam di Jawa” dalam Seminar Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa (2000) mengungkapkan, Babad ing Gresik menyebut Pesantren Giri sebagai Kerajaan Giri.
Baca Juga: Makna Lagu Gundul-Gundul Pacul, Kritik Sunan Kalijaga ke Penguasa
Kerajaan Giri dipimpin oleh Sunan Giri atau Raden Paku yang mengangkat dirinya sebagai ‘raja pendhita’ atau raja ulama. Dua sejarawan asal Belanda, H.J. de Graaf dan Samuel Wiselius juga menyebut pesantren itu sebagai ‘kerajaan ulama’.
Giri Kedaton tetap eksis sepeninggal Sunan Giri. Kepemimpinan kedatuan ini dilanjutkan secara turun-temurun hingga ditaklukkan Kesultanan Mataram islam pada 1636.Sejak takluk kepada Kesultanan Mataram Islam, status Giri Kedaton bukan sebagai kerajaan mandiri lagi, melainkan berubah menjadi vasal atau wilayah taklukan.
“Giri akan melemah saat, misalnya dalam serangan Mataram pada masa Panembahan Kawis Guwo. Jadi, dulu gelarnya adalah Susuhunan, Giri, Kedaton, kemudian ada Susuhunan Giri Prapen, kemudian pengaruh turun otoritas ruhaninya pada Panembahan Kawis Guwo pada masa Kerajaan Pajang. Sehingga akhirnya pengaruh-pengaruh otoritas ruhaninya semakin melemah,” pungkas Irfan.
(jqf)