LANGIT7.ID, Jember - Pondok pesantren di Tanah Air sudah berusia lebih dari setengah millennium atau hampir seribu tahun. Pesantren tak hanya menjadi sentra pendidikan Islam, namun berperan sebagai lembaga sosial, kultural bahkan politik.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, mengatakan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tahan banting hingga saat ini dalam mewujudkan peradaban Islam di Indonesia.
Secara historis, keberadaan pesantren kerkembang sejak era Walisongo. Unsur-unsur pendidikan yang sudah mengakar di Jawa tidak dibuang, tapi Walisongo mereformasi dan memodifikasinya.
Pesantren diramu dari watak pendidikan Jawa saat itu. Mulai dari Mandala, Ashram, hingga Padepokan, dan sentuhan kitab etik bagi pelajar seperti ta’limul muta’allim dan pesulukan.
Aguk Irawan MN dalam bukunya ‘Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara (Dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebuireng dan Ploso) melacak akar etika pesantren. Dalam perkembangannya, pesantren memiliki orisinalitas yang berbeda dengan kuttab, madrasah, dan jami’ah. Dari sini bisa dilihat bahwa pesantren tidak hanya menjadi pondasi pendidikan Islam saja, namun juga dalam dinamisasi budaya.
“Yang tidak sesuai dengan misi dakwah dan pendidikan dibuang, yang masih relevan dipertahankan dan dikembangkan. Karena dinamika ini, maka hingga setengah millennium, pesantren menjadi sebuah ‘warisan pendidikan dan budaya’ yang tetap anggun hingga kini,” kata Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).
Gus Rijal menjelaskan, pada era Walisongo, pesantren menjadi kawah candradimuka kaderisasi para dai yang hendak dikirim ke luar Jawa. Ampel Denta, tanah perdikan yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya, telah menjadi lahan persemaian kaderisasi dai. Para santri yang dianggap sudah mumpuni, dikirim ke wilayah Nusantara Timur melalui rute armada dagang yang dikelola Nyi Gede Pinatih, salah satu saudagar kaya di Tuban.
“Sang saudagar ini, selain memuat komoditas ekspor, juga mengangkut para santri Sunan Ampel ke wilayah timur,” kata Gus Rijal.
Sunan Giri, anak angkat Nyi Gede Pinatih, menjadi santri kinasih Sunan Ampel. Ia lalu melanjutkan proyek Islamisasi di wilayah Nusantara Timur. Ia mendirikan GIri Kedaton sebagai titik pijak penyebaran Islam.
Jika di Sumatera ada Kerajaan Aceh yang punya reputasi politik dan dakwah jempolan dalam kurun abad ke-XVI-XVII, maka di era yang semasa, Giri Kedaton memainkan peranan yang sama. Khususnya pada penguatan jaringan Islam di Nusantara Timur.
Giri Kedaton menjadi sentra pendidikan kaum bangsawan muslim dari wilayah timur. Seorang pangeran bakal dikirim ke Giri Kedaton yang berlokasi di Gresik, belajar agama dan tata negata, sebelum kemudian dilantik menjadi raja. Raja-raja kepulauan Maluku, Sulawesi dan Sumbawa banyak menempuh pendidikan di Giri Kedaton.
“Para santri lainnya diutus Sunan Giri menyebarkan Islam di Gowa, Tallo, Bali, Sumbawa, Ternate, Banjar dan beberapa kepulauan lain. Termasuk kawasan pesisir Papua. Proses islamisasi di Papua bahkan berjalan penuh tantangan,” ucap Gus Rijal.
Giri Kedaton lalu menjadi perlambang restu bagi para sultan dari berbagai daerah. Tak sah rasanya jika seorang sultan belum mendapatkan legitimasi dari Giri Kedaton. Dengan demikian, Giri Kedaton yang di awal fokus pada pendidikan dan dakwah, mulai merambah wilayah politik.
Gus Rijal mengutip pendapat KH Saifuddin Zuhri, Jika Gajah Mada dianggap sebagai ‘pemersatu’ Nusantara melalui kiprah politiknya, maka Sunan Giri bisa disebut sebagai pemersatu melalui kiprah pendidikan dan dakwahnya.
Di sisi lain, kata Gus Rijal, Sunan Kalijaga memilih melakukan kaderisasi di setiap daerah. Ada banyak jejak keberadaan salah satu walisongo yang dikaruniai usia panjang ini, yang biasanya ditandai dengan adanya petilasan. Dari sini, bisa dilihat jika sejak awal, para Walisongo melakukan upaya inovatif dalam menjalankan misi dakwah Islam.
“Bukan menggunakan kekuatan politik, melainkan menitikberatkan pada aspek dakwah dan kiprah kependidikan. Ini yang tampaknya menjadi kunci dari keberhasilan dakwah damai di kawasan Nusantara yang membentang dari Pattani, Malaysia, Singapura, Brunei, Mindanao-Filipina, dan Indonesia,” tutur Gus Rijal.
(jqf)