LANGIT7.ID, Jakarta - Wayang merupakan salah satu kesenian yang memiliki ikatan sejarah dengan perkembangan dakwah Islam di Nusantara. Dakwah menggunakan media wayang dipopulerkan oleh Wali Songo.
Namun, siapa sangka jika Wali Songo sempat berdebat terkait hukum wayang. Hal tersebut disampaikan Gus Baha melalui kanal
YouTube Hidayah Robbi. Ia mengatakan, permintaan Raja Kesultanan Demak, Raden Fatah dan keinginan Sunan Kalijaga menjadikan wayang sebagai media dakwah sempat terbentur hukum wayang.
Perdebatan itu bermula ketika Sunan Kalijaga ingin berdakwah melalui media wayang. Sebab, wayang kala itu merupakan kesenian tradisional yang amat melekat di masyarakat Jawa. Namun, wayang yang digunakan Sunan Kalijaga adalah wayang
thengul yang berbentuk arca/manusia.
"Sunan Kalijaga saking inginnya berdakwah di daerah Pajang hingga Sragen, sampai membuat wayang
thengul, wayang
thengul itu wayang orang," kata Gus Baha.
Sunan Giri pun tak setuju karena wayang
thengul memiliki bentuk yang menyerupai manusia. Secara hukum fikih, menurut Sunan Giri, orang yang membuat patung manusia di akhirat nanti akan mendapat hukuman dari Allah dengan diperintahkan meniupkan ruh ke dalamnya.
"Sunan Giri tidak terima. Sunan Giri berkata, 'itu haram membuat patung. Kalau membuat patung itu nanti di akhirat disuruh memberi nyawa'. Sunan Kalijaga tidak begitu banyak ngaji, karena beliau mantan preman yang menjadi wali.
Ngaji fashlun itu, enggak begitu banyak ngaji," kata Gus Baha.
Perdebatan kedua Sunan itu akhirnya ditengahi oleh Sunan Kudus yang dikenal lebih alim dan lebih senior. Sunan Kudus mengusulkan agar wayang tersebut diubah bentuk agar tidak menyalahi hukum fikih.
"Sunan Kudus berkata, 'Sudah
gini aja, wayangnya itu penyetkan jadi wayang kulit, karena kalau wayang
thengul itu (berbentuk) patung. Tapi kalau gepeng (seperti) kulit sudah tidak bisa dikasih nyawa, sudah penyet semua," kata Gus Baha.
Cerita Sunan Kalijaga menggepengkan wayang juga disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya. Sunan Kalijaga mengubah bentuk wayang menjadi pipih agar tidak menyerupai patung bernyawa.
"Mereka luar biasa cerdas dalam mengislamkan budaya. Masalah urusan bentuk wayang, mereka juga mengerti patung adalah haram. Makanya mereka
penyet, sett, menjadi tipis, bukan bentuk berjasad," kata Buya Yahya.
Kisah Sunan Kalijaga mengubah cerita dan bentuk wayang juga dikonfirmasi oleh Putu Setia dalam buku
Bali yang Meradang (2008) dan Achmad Chodjim dalam buku
Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat (2013).
(jqf)