Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 08 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita
Khazanah Islam di Nusantara

Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya

Muhajirin Kamis, 01 September 2022 - 15:00 WIB
Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya
Masjid Menara Kudus, salah satu peninggalan Wali Songo (foto: wikipedia)
LANGIT7.ID, Yogyakarta - Salah satu kehebatan Walisongo dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa adalah menyebarkan Islam secara damai lewat kebudayaan tanpa peperangan. Hal itu memungkinkan dilakukan sebab Walisongo memiliki maqam spiritual yang tinggi mengalahkan spiritualitas Jawa yang sudah eksis sebelumnya.

Menurut Budayawan Irfan Afifi, sebelum para wali menyebarkan Islam, sudah ada peradaban spiritual yang berkembang di tengah masyarakat. Irfan menyebut masyarakat setempat bukanlah orang bodoh yang sering dianggap sebagai penganut animisme.

Dalam Al-Qur’an Surah Yunus ayat 47 disebutkan bahwa Allah mengutus nabi dan rasul ke setiap umat. Menurut Irfan, tidak menutup kemungkinan ada nabi dan rasul yang pernah diutus di tengah masyarakat Jawa sebelum Nabi Muhammad diutus.

Itu bisa terlihat dari peradaban spiritual yang sudah terbentuk sebelum kedatangan para wali. Di sisi lain, para wali itu menyebarkan Islam menggunakan pendekatan kearifan lokal. Itu karena, masyarakat sudah punya peradaban, tinggal dipoles agar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Baca Juga: Budayawan: Islam dan Budaya Jawa Tidak Terpisahkan

Pada era wali, kertas juga belum ada. Jadi, tidak perlu membayangkan para wali itu menyebarkan Islam seperti hari ini dengan mengajarkan teks dalil atau melalui tabligh akbar seperti sekarang.

“Zaman itu belum ada kertas, njenengan bayangin zaman para wali. Gimana caranya mengajarkan Islam, kertas tidak ada, budaya teks belum ada” kata Irfan saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Bantul, Selasa (30/8/2022).

Maka itu, para wali mengambil jalan dakwah paling strategis. Mereka membentuk sebuah masyarakat yang tidak fokus pada hukum, tapi fokus pada pembentukan kualitas manusia yang punya akhlak tinggi sesuai ajaran Islam.

“Gimana mau ngajarin (dalil) Quran, wong tidak ada kertas. Tidak ada apa-apa. Makanya, peninggalan para Sunan itu, mereka menulis dalam aksara Jawa, bukan aksara Pegon. Karena tidak ada kertas, akhirnya pendekatan menyebarkan Islam diubah, pendekatan bukan teks, tapi basisnya adalah kearifan,” ucap Irfan.

Baca Juga: Dari Syekh Subakir hingga Mbah Wasil, Penyebar Islam di Nusantara

Dalam Islam dikenal tiga pendekatan yakni Bayani, Burhani, dan Irfani. Para wali melakukan pendekatan irfani, karena memang sangat sesuai dengan kondisi masyarakat Jawa yang sudah memiliki peradaban spiritual.

“Jejaknya masih terasa. Orang sini kalau disodori teks malah bingung. Orang Jawa itu, “itu kiai boleh, berarti boleh”. Pendekatan keteladanan. Tidak Usah tanya hukumnya apa, dalilnya apa, kelamaan itu.” tutur Irfan.

Sebagai Sufi, para wali di Jawa digerakkan etos insaniyah (kemanusiaan) untuk menyebarkan Islam yang rahmatan lil-alamin. Berbeda dengan penyebaran Islam di wilayah yang lebih barat, seperti India. Islam berawal digerakkan oleh dua jalan yakni kultural dan struktural militer secara bersamaan.

“Kalau di Arab lebih ke teks, kalau di Eropa itu pendekatannya bayani lebih rasional. Kalau di sini irfani, pendekatan kebudayaan, kearifan budaya,” kata Irfan.

Di Jawa digerakkan oleh gerakan kultural para sufi, sampai muncul kekuatan struktural melalui bangsawan-bangsawan Jawa untuk mengorganisasi gerakan kultural. Kemampuan rohani yang mendasari kemampuan para wali dibentuk melalui laku tarekat yang mereka anut.

Baca Juga: Wayang dalam Pandangan Islam, Cara Brilian Sunan Kalijaga Mengislamkan Budaya

Kepribadian ini mereka anut berdasarkan sumber syariat yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka mendidik masyarakat melalui keseimbangan ilmu tasawuf-tarekat, fiqh, teologi, dan kemasyarakatan. Para wali juga mengembangkan pembentukan karakter dan jati diri manusia muslim yang tangguh.

“Jadi, para wali pengen mengajak orang Jawa dengan pola laku kemanusiaan, makanya pendekatannya laku spiritual,” ucap Irfan.

Metode dakwah para wali itu tidak terlepas dari peradaban spiritual di Jawa yang sudah berkembang sebelum abad ke-14. Gerakan kultural menjadi dasar pengajaran dan pendidikan masyarakat. Para wali di Jawa memilih menggunakan kekuatan kultural dan menjalani laku membangun jati diri manusia Jawa.

“Sehingga, gagasan-gagasan spiritualitas ini mungkin juga disadari oleh para wali. Ini peradaban spiritual sudah tinggi, kalau hanya mengajarkan benar salah, diguyu, diketawain,” kata Irfan.

Maka itu, ketika melihat buku-buku tentang para wali, mereka melakukan gerakan kultural serta gerakan politik yang sangat hati-hati karena ada kerajaan di Tanah Jawa yang berdiri kokoh. Mereka lebih banyak berdialog dengan masyarakat secara langsung, misal dengan model cangkriman atau tebak-tebakan.

Baca Juga: Dolanan Cublak-Cublak Suweng, Karya Sunan Giri Sarat Nilai Moral

“Misalnya Sunan Bonan ketemu siapa, kalau kamu bisa angkat ini, saya pindah. Begitu caranya, bukan model tabligh akbar. Tabligh akbar itu abad 20-an. Di sini tidak ada tradisi itu. Dulu modelnya bahkan lewat pertanyaan, tapi modelnya cangkriman,” ucap Irfan.

Itu pula yang menjadi alasan umat Islam bisa berdampingan secara damai, karena tidak ada pendekatan militer. Tidak seperti di India yang sampai hari ini masih berkutat konflik, karena umat Hindu punya pengalaman buruk terhadap umat Islam.

“Para wali memilih menyebarkan Islam lewat jalan kearifan, karena sudah ada peradaban spiritual sebelumnya,” pungkas Irfan.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 08 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:54
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan