Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Wayang dalam Pandangan Islam, Cara Brilian Sunan Kalijaga Mengislamkan Budaya

Muhajirin Kamis, 17 Februari 2022 - 16:00 WIB
Wayang dalam Pandangan Islam, Cara Brilian Sunan Kalijaga Mengislamkan Budaya
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Akhir-akhir ini ramai perbincangan mengenai kesenian wayang. Kesenian tersebut sudah ada sebelum Islam masuk ke Nusantara. Wayang kulit merupakan mahakarya besar milik nenek moyang kaum bumiputra.

Kala itu, wayang seperti simbol kemajuan peradaban. Keberagaman jenis wayang kulit, dari wayang purwa hingga beber, menjadi buktinya. Cerita, bahasa, hingga situasi kisah wayang kerap dianggap sumber kearifan lintas zaman.

Wayang eksis sedari masa Hindu, Buddha, serta Islam. Bahkan, wayang digunakan menjadi media dakwah yang punya andil besar dalam perkembangan Islam di Nusantara. Tokoh muslim yang identik dengan dakwah melalui wayang tentu saja Sunan Kalijaga, salah satu ulama dari Walisongo.

Namun, tak ada yang mampu menjelaskan secara rinci terkait kapan pastinya wayang kulit masuk ke Nusantara. Ada yang menyebut wayang kulit telah masuk sejak masa kejayaan Hindu-Buddha. Ada pula yang mengungkap wayang sejatinya telah hadir jauh hari sebelum Hindu-Buddha atau pengaruh budaya India tiba di Nusantara.

Pada masa kejayaan Islam di Nusantara, eksistensi wayang justru menigkat. Kaum bumiputra kala itu tak melihat Islam sebagai ancaman. Cerita wayang kulit yang awalnya dominan budaya Hindu mulai disisipi literatur Islam sebagai inspirasi. Cabolek, Centhini, dan Tajusalatin menjadi beberapa contoh.

Dalam deretan kesusteraan itu, unsur-unsur Islam terlihat mulai masuk dalam cerita wayang. Toleransi tingkat tinggi para elit kerajaan menyebabkan lapisan bawah dengan mudah tertarik memeluk Islam. Budaya Hindu dimasuki unsur Islam, dan umat Hindu dengan senang dan bahkan bangga karena budaya mereka dianggap bisa sejalan dengan Islam.

"Misalnya, kesenian wayang kulit disisipi cerita-cerita tentang Islam, bahkan kemudian para penyebar Islam terutama Walisongo memakai wayang kulit sebagai peraga dakwah. Istilah-istilah pun bisa beralih secara perlahan, misalnya, senjata sakti kalimosodo (kalimasada) berasal dari kalimat syahadat, dan seterusnya," kata Putu Setia dalam buku Bali yang Meradang (2008).

Dalam pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, Walisongo memang menggunakan wayang sebagai sarana untuk berdakwah. Sebenarnya, mereka bisa berdakwah tanpa menggunakan wayang pun juga tidak masalah. Namun, kala itu, wayang menjadi kesenian yang sangat dekat dengan masyarakat.

"Wayang ini adalah budaya yang orang bisa berkumpul di situ. Makanya, beliau (Sunan Kalijaga) masuk dakwah melalui pewayangan ini," kata Buya Yahya melalui kanal Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (17/2/2022).

Sebagaimana dikatakan Putu Setia, Buya Yahya menyebut beberapa kisah asli wayang yang tergolong syirik seperti keberadaan dewa-dewa Hindu dan Buddha, dikemas sedemikian rupa secara lebih Islami untuk menghilangkan kesyirikan.

Lalu, di dalamnya dimodifikasi dengan memberikan cerita-cerita Islami, membuat beberapa tokoh wayang tambahan, dan mengubah bentuk wayang menjadi pipih agar tidak menyerupai patung bernyawa.

"Mereka luar biasa para ulama, cerdas mereka di dalam mengislamkan budaya. Kemudian masalah urusan bentuk wayang mereka juga ngerti, diskusikan dengan para ulama, patung adalah haram. Mekanya mereka penyet menjadi tipis, bukan bentuk berjasad," kata Buya Yahya.

Dari sisi cerita, Sunan Kalijaga menjadikan Pandawa yang beranggotakan lima orang penegak kebenaran sebagai lambang dari lima Rukun Islam. Sedang Dharmakusuma sebagai putra Pandu yang pertama diberi jimat yang disebut "kalimasada" alias kalimat syahadat.

Demikian pula sosok Bima yang selalu berdiri tegak dan kokoh dilambangkan sebagai Shalat. Arjuna yang senang bertapa dilambangkan sebagai puasa. Terakhir, Nakula dan Sadewa sebagai lambang zakat dan haji.

Jadi, Sunan Kalijaga benar-benar menghargai budaya. Tak ada sisi-sisi agama Islam yang diajarkan oleh Sunan tanpa melalui budaya. Rukun Islam dan Iman diperkenalkan dengan menggunakan budaya Jawa. Wayang kulit digunakan sebagai sarana untuk berdakwah.

"Seni musik (gamelan) dan seni tari semakin hidup. Dengan menghormati budaya itulah Sunan Kalijaga berhasil mengajak orang Jawa untuk memeluk Islam. Tak perlu ada pemaksaan dalam mengajak orang untuk pindah agama, cukuplah budaya itu sendiri yang bicara. Itulah kearifan Sunan Kalijaga," tutur Achmad Chodjim dalam buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat (2013).

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)