LANGIT7.ID, Yogyakarta - Islam dan budaya jawa seringkali dipertentangkan dan dianggap tidak berkaitan. Padahal banyak produk budaya yang merupakan manifestasi dari ajaran Islam seperti slametan hingga tradisi-tradisi menjelang Ramadhan.
“Relasi Islam dan Jawa itu sebenarnya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apa yang kita sangka sebagai kebudayaan Jawa hari ini sebenarnya, itu hampir semua sudah disofistikasi, bersentuhan, berinteraksi dengan Islam,” kata Budayawan Irfan Afifi kepada LANGIT7.ID, Selasa (30/8/2022).
Meski satu kesatuan, tapi Islam dan budaya Jawa tidak berbaur, sebab, berbaur berarti menghilangkan sifat asli. Sementara, budaya memiliki logika-logikanya sendiri. Islam pun tetap pada sifat keislamannya. Al-Qur’an tetap berbahasa Arab, tapi bukan berarti tidak boleh diterjemahkan atau ditafsirkan menurut sudut pandang dan bahasa Jawa.
“Sehingga kalau kita lihat, kejawaan dan Islam, tidak bisa terpisahkan,” kata Irfan Afifi.
Baca Juga: Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil
Dia mencontohkan beberapa tradisi atau produk budaya Jawa yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam seperti wayang dan gamelan. Ada pula tradisi Slametan, Kenduren, Grebeg Syuro, Grebeg Besar, hingga Grebeg Kecil.
Tradisi-tradisi tersebut mengambil landasan dari nilai-nilai Islam. Baik dari waktu pelaksanaan maupun motivasi pelaksanaan. Islam bersifat universal, sehingga setiap orang berhak mengamalkan nilai Islam di tengah masyarakat.
“Banyak contoh, wayang, gamelan,
slametan, kenduren, grebeg syuro, grebeg besar, grebeg kecil, seluruhnya ada dalam bingkai struktur kosmologi perputaran waktu siklik, bulan-bulan Islam,” kata Irfan.
Tradisi-tradisi tersebut merupakan upaya masyarakat Jawa mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Agar bisa berkesinambungan, maka dibuatlah semacam perayaan sehingga menjadi tradisi.
Baca Juga: PPPIJ: Seni-Budaya Merupakan Anugerah dari Allah untuk Manusia
Irfan mencontohkan
nyadran di bulan Sya’ban yang disebut sebagai bulan penutup amal baik dan buruk. Nyadran bertujuan memohonkan ampunan pada orang tua atau leluhur yang sudah meninggal dunia, sebagai ungkapan rasa berbakti kepada orang tua.
“Misal
Nyadranan, itu bukan hanya bukan bid’ah, itu sunnah yang sudah ditradisikan,” ucap Irfan Afifi.
Tradisi itu diambil dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, Imam Ahmad, dan Imam Abi Syaibah. Rasulullah SAW bersabda:
“Ini adalah bulan sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.”
Baca Juga: Tradisi Jawa Sambut Tahun Baru Islam, Sedekah Hingga Ziarah
Berdakwah dengan pendekatan budaya memang lebih cepat sampai ke tengah masyarakat. Orang Jawa memiliki banyak produk budaya, sehingga para wali mengambil hati masyarakat Jawa menggunakan budaya tersebut.
“Tradisi kita di masyarakat sampai di Kraton seluruhnya terhubung dengan kalender keislaman, berhubungan dengan struktur pandangan dunia Islam,” pungkas Irfan.
(jqf)