LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Pembicaraan tentang Islam di Tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari dimensi
kebudayaan dan
spiritualitas yang membentuk cara masyarakat memahami agama.
Dalam konteks itu, budayawan Irfan Afifi menilai bahwa proses Islamisasi di Jawa pada masa awal justru menekankan kedalaman spiritual dan
kemanusiaan, bukan sekadar aspek hukum formal.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam diskusi bertema “Menelusuri Jejak Resonansi Islam di Tanah Jawa” pada rangkaian
RDK Festival 1447 Hijriah, yang diselenggarakan oleh
Jama'ah Shalahuddin UGM pada Jumat (13/3/2026) di lingkungan Universitas Gadjah Mada.
Baca juga: Salim A Fillah: Islam di Tanah Jawa Tumbuh Lewat Resonansi Budaya, Bukan DominasiMenurut Irfan, salah satu persoalan mendasar dalam wacana kebudayaan saat ini adalah penggunaan istilah “
kearifan lokal” yang dinilainya problematis.
Irfan Afifi menyatakan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju dengan istilah local wisdom yang sering diterjemahkan menjadi “kearifan lokal”.
“Apakah ketika kita punya kearifan itu harus bernilai lokal? Lalu kalau Amerika punya kearifan, apakah tidak disebut lokal? Ini menjadi tidak adil,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kata kearifan sendiri berasal dari kata arif, yang secara etimologis memiliki akar pada konsep ma’ruf dan ma’rifat dalam tradisi Islam.
Dalam tradisi tersebut, kearifan bukan sekadar pengetahuan biasa, tetapi buah dari pengalaman spiritual yang mendalam.
“Hikmah itu berasal dari hati yang sudah disinari cahaya hikmat dari Tuhan,” katanya.
Irfan menilai para penyebar Islam di Jawa adalah tokoh-tokoh yang telah mencapai tingkat spiritual tinggi.
Menurutnya, para wali tidak memandang kehidupan hanya dari sudut pandang hitam-putih hukum syariat semata.
“Penyebar Islam di Tanah Jawa adalah orang-orang yang sudah sampai pada puncak ma’rifat,” jelasnya.
Baca juga: Riset dan Inovasi Harus Jadi Rahmat bagi SemestaDari pengalaman spiritual itu lahir konsep-konsep sosial seperti adab dan ‘urf, yang kemudian membentuk praktik kehidupan masyarakat.
Ia juga menyinggung manuskrip kuno Kropak Ferrara yang konon ditulis oleh tokoh yang dikenal sebagai Sunan Khalifah atau Sunan Bonang. Dalam naskah tersebut tercatat 25 aturan yang dinisbatkan kepada Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh awal dalam penyebaran Islam di Jawa.
Menurut Irfan, pendekatan yang tergambar dalam teks tersebut berbeda dengan pendekatan keagamaan yang sering ditemui pada masa kini.
Irfan menjelaskan bahwa Islamisasi awal di Jawa menekankan keseimbangan antara dimensi lahir dan batin.
“Dalam sejarah disebutkan bahwa berislam itu harus kaffah, lahir dan batin. Jiwanya harus taslim. Itu ma’rifatnya para wali,” ujarnya.
Sementara kecenderungan praktik keberagamaan saat ini menurutnya terlalu menekankan aspek formal.
“Saat ini banyak orang memakai pakaian yang sesuai syariat atau fiqih sehingga terlihat muslimah. Tetapi belum tentu pemikiran dan usahanya sudah Islam,” katanya.
Menurut Irfan, Islam tidak boleh dipahami hanya melalui pendekatan hukum semata.
“Berislam itu tidak boleh memaksa. Islam datang untuk menyempurnakan kemanusiaan kita. Ia adalah agama fitrah yang membawa manusia menuju puncak kefitraannya,” tambahnya.
Pentingnya Tazkiyatun NafsSalah satu aspek yang menurut Irfan mulai terabaikan dalam praktik keberagamaan saat ini adalah konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.
Baca juga: Masa Depan Bangsa di Piring Anak, Upaya Menyelamatkan Generasi dari Ancaman StuntingIa menilai bahwa banyak pendekatan dakwah yang kini lebih menekankan aspek hukum dan ancaman dosa tanpa menumbuhkan kesadaran spiritual.
“Hari ini modus berislam sering hanya soal hukum. Bila tidak taat fiqih maka masuk neraka,” ujarnya.
Padahal menurutnya, bahkan orang yang memiliki ilmu tasawuf yang tinggi sekalipun bisa berbahaya jika tidak disertai proses pembersihan jiwa.
“Kalau jiwa tidak dibersihkan, ilmu bisa dipakai untuk mencari pamrih,” kata Irfan.
Karena itu, teladan utama dalam beragama tetaplah Muhammad, terutama dalam praktik akhlak yang luhur.
Di akhir pemaparannya, Irfan Afifi menegaskan bahwa peninggalan Islamisasi di Tanah Jawa tidak hanya berupa teks atau dokumen sejarah.
Menurutnya, warisan paling nyata justru hadir dalam bentuk kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
“Peninggalan Islamisasi di Tanah Jawa itu bukan teks, tetapi kebudayaan itu sendiri,” ujarnya.
Dengan cara itulah Islam beresonansi dengan kehidupan masyarakat Jawa, menjadi bagian dari cara hidup, nilai, dan praktik kemanusiaan yang terus bertahan hingga hari ini.
(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)(est)