LANGIT7.ID-Bulan Syawal dalam kalender Hijriah sering kali diidentikkan dengan kemenangan dan kegembiraan. Namun, bagi sejarah kenabian Muhammad SAW, Syawal tahun ke-10 setelah risalah turun adalah palagan kesabaran yang nyaris melampaui batas kemanusiaan. Di tengah hawa panas semenanjung Arab, sang Nabi melangkah sejauh 60 mil dari Mekah menuju dataran tinggi Thaif. Langkah itu bukan sekadar perjalanan dakwah biasa, melainkan sebuah upaya mencari suaka politik di tengah kepungan intimidasi yang kian mencekik.
Konteks sosiopolitik saat itu sangatlah getir. Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Dua pilar penyangga dakwah Nabi telah runtuh: Khadijah, sang istri yang menjadi sandaran emosional dan finansial, serta Abu Thalib, sang paman sekaligus pelindung politik yang disegani Quraisy. Wafatnya Abu Thalib membuat pagar pelindung klan Bani Hasyim retak, memberikan celah bagi kaum kafir Quraisy untuk meningkatkan eskalasi kekerasan terhadap Nabi.
Dalam catatan Ibnu Hisyam melalui kitab
as-Sirah an-Nabawiyyah, Nabi Muhammad berangkat ke Thaif dengan harapan mendapatkan perlindungan dari Bani Thaqif. Strategi ini diambil untuk memecah kebuntuan dakwah di Mekah yang sudah stagnan dan penuh ancaman pembunuhan. Nabi menemui tiga pemimpin Bani Thaqif: Abdu Yalail, Mas'ud, dan Habib. Harapannya sederhana: sebuah tempat berlindung di mana Islam bisa bernapas tanpa intimidasi.
Namun, realitas di lapangan jauh lebih pahit dari perkiraan. Alih-alih mendapatkan suaka, Nabi justru dihina dengan kata-kata yang menyayat. Tidak berhenti di sana, para pemimpin Thaif mengerahkan massa, mulai dari kaum budak hingga anak-anak, untuk berbaris di pinggir jalan dan melempari Nabi dengan batu. Darah mengucur dari tumit suci sang Nabi, membasahi sandal dan tanah gersang Thaif. Zaid bin Harithah, yang setia mendampingi, berkali-kali pasang badan hingga kepalanya terluka demi melindungi sang kekasih Allah.
Kejadian ini terekam sebagai fragmen paling emosional. Syekh Safiurrahman al-Mubarakfuri dalam
Ar-Rahiq al-Makhtum menggambarkan betapa hancurnya perasaan Nabi saat itu. Di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Shaibah bin Rabi'ah, Nabi tersungkur dan mengadu dalam sebuah doa yang sangat masyhur:
اللهم إليك أشكو ضعف قوتي وقلة حيلتي وهواني على الناسYa Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya tipu dayaku, dan kehinaanku di mata manusia.
Inilah titik terendah secara lahiriah, namun sekaligus puncak tertinggi secara batiniah. Ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menimpakan Gunung Akhsyabain kepada penduduk Thaif sebagai balasan atas kekejian mereka, Nabi justru menunjukkan kelasnya sebagai Rahmatan lil Alamin. Ia menolak tawaran tersebut dan justru mendoakan masa depan mereka.
Langkah ini mencerminkan apa yang oleh para ulama disebut sebagai sabar aktif. Nabi tidak membalas dendam meski memiliki kesempatan. Beliau justru memandang jauh melampaui rasa sakit fisiknya, berharap bahwa dari tulang sulbi penduduk yang beringas itu akan lahir generasi yang menyembah Tuhan yang Esa. Sebuah optimisme di tengah keputusasaan.
Safiurrahman al-Mubarakfuri menekankan bahwa peristiwa Thaif adalah filter bagi keteguhan hati. Syawal yang berarti meninggi, benar-benar menjadi saksi meningginya derajat kemanusiaan Muhammad. Beliau pulang dari Thaif tanpa jaminan keamanan formal, namun dengan kekuatan spiritual yang kian kokoh.
Penolakan di Thaif memang menutup pintu suaka di timur Mekah, namun justru membukakan jalan menuju peristiwa Isra Mikraj dan akhirnya hijrah ke Madinah. Pahitnya Syawal di Thaif mengajarkan bahwa suaka politik yang hakiki bukanlah pada janji para pemimpin suku, melainkan pada ketulusan memegang prinsip di tengah badai cobaan. Luka di kaki Nabi akhirnya sembuh, namun doa yang beliau panjatkan di bawah naungan pohon anggur itu terus mengalir, menjadi bukti bahwa cinta dan doa jauh lebih kuat daripada lemparan batu paling tajam sekalipun.
(mif)