Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 06 Juli 2026
home masjid detail berita

Fenomena Dakwah: Kelembutan yang Menyatukan dan Kekasaran yang Menjauhkan

ahmad zuhdi Senin, 06 Juli 2026 - 17:30 WIB
Fenomena Dakwah: Kelembutan yang Menyatukan dan Kekasaran yang Menjauhkan
Fenomena Dakwah: Kelembutan yang Menyatukan dan Kekasaran yang Menjauhkan. Foto: Pexels/Muhammad Adil.
LANGIT7.ID-, Jakarta - - ‎Menyampaikan kebaikan memerlukan seni tersendiri. Niat yang baik saja sering kali tidak cukup jika tidak dibersamai dengan cara penyampaian yang benar.

‎Hal ini disampaikan oleh Dosen IAIPI Bandung, Ustaz Robi Permana dalam Kajian Hamalatul Hadis (Kahadis), Senin (6/7/2026). Dalam kajiannya, ia mengangkat tema penting mengenai bagaimana kelembutan mampu menyatukan hati, sementara kekasaran justru memicu kerenggangan, mengubah niat awal yang ingin memperbaiki menjadi sikap saling membenci.

Baca juga: Menjaga Otoritas Ulama di Era Algoritma: Menakar Peran AI dalam Dakwah

‎Pembahasan ini bersandar pada sebuah hadis dari Aisyah Ra, di mana Nabi Saw bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.

‎Artinya: Sesungguhnya kelembutan tidak terdapat pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya buruk. (HR Muslim no 2594).

‎Ustaz Robi kemudian menjabarkan beberapa poin penting Fikih Hadis yang sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, dunia pendidikan, maupun aktivitas dakwah:

‎1. Kelembutan membuka hati untuk menerima kebenaran

‎Kelembutan adalah kunci hati dan sebab utama diterimanya sebuah nasihat. Tujuan akhir dari pendidikan dan nasihat bukan sekadar menyampaikan kebenaran secara tekstual, tetapi bagaimana mengantarkan kebenaran tersebut agar sampai dan meresap di dalam hati.

‎"Kebenaran yang disampaikan dengan ketulusan dan kasih sayang akan jauh lebih mudah melahirkan kesadaran, penerimaan, serta perubahan positif," ujarnya.

‎ 2. Cara menyampaikan memengaruhi penerimaan nasihat

‎Nasihat yang benar secara konten dapat kehilangan pengaruh dan tuahnya apabila disampaikan dengan menyelipkan kesombongan, penghinaan, atau kemarahan yang dikuasai oleh hawa nafsu dan kebencian. Sesuai prinsipnya, tujuan nasihat bukanlah untuk menunjukkan kemenangan atau superioritas atas orang lain, melainkan menghendaki petunjuk dan perbaikan bersama.

Baca juga: Ustadz Fauzan Hidayatullah Ingatkan Dai Jangan Mudah Mengkafirkan, Dakwah di Era Digital Harus Moderat dan Kreatif

‎"Oleh karena itu, seseorang bisa saja benar dalam isi nasihatnya, namun keliru dalam metode penyampaiannya," tuturnya.

‎ 3. Pendidikan dari kasih sayang menumbuhkan kasih sayang

‎Apa yang keluar dari hati dengan landasan kasih sayang akan sampai ke hati pula dengan penuh cinta. Proses pendidikan yang dibangun di atas rasa kasih sayang, kelembutan, dan kebijaksanaan cenderung melahirkan ekosistem yang positif, mulai dari munculnya rasa cinta, penerimaan yang tulus, kepercayaan yang kuat, kesediaan untuk mengikuti arahan, hingga perbaikan yang nyata.

‎4. Nasihat yang dikuasai amarah melahirkan penolakan

‎Sebaliknya, apabila sebuah nasihat sudah bercampur dengan arogansi, amarah ego, dan kebencian, maka ia akan membuahkan hasil yang berkebalikan, yaitu sikap menjauh dan permusuhan.

‎"Dampak dari pola komunikasi yang keras dan arogan biasanya bukanlah perbaikan perilaku, melainkan memicu kerenggangan, kebencian, pembangkangan, permusuhan, hingga perpecahan di tengah masyarakat," ungkapnya.

Baca juga: Muhammadiyah Perkuat Dakwah Kampus, Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Politik Praktis

‎ 5. Ukuran keberhasilan nasihat bukan kemenangan ego

‎Seorang pendidik, tokoh masyarakat, maupun pemberi nasihat harus senantiasa bertanya pada diri sendiri: Apakah aku ingin memperbaikinya, atau aku hanya ingin memenangkan diriku atasnya? Jika tujuannya murni untuk perbaikan, maka instrumen utamanya adalah kasih sayang.

‎"Namun jika yang dominan adalah nafsu amarah dan keinginan mengalahkan lawan bicara, nasihat tersebut dengan mudah berubah menjadi alat untuk melukai dan merendahkan martabat sesama," katanya.

‎Pendidikan dan nasihat, apabila dibangun di atas kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan, akan menghasilkan cinta, penerimaan, dan perbaikan. Sebaliknya, apabila dibangun di atas kesombongan, amarah, dan kebencian, akan menghasilkan sikap menjauh, permusuhan, dan perpecahan.

‎Untuk memperkuat prinsip kelembutan ini, Ustaz Robi juga memaparkan beberapa landasan lainnya yang menjadi pilar utama dalam berinteraksi:

‎1. Sikap kasar menyebabkan manusia menjauh

‎Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 159, kelembutan merupakan bentuk rahmat Allah yang luar biasa. Sekiranya seseorang bersikap keras dan berhati kasar, tentulah manusia di sekitarnya akan menjauhkan diri.

‎"Ayat ini menjadi dalil konkret bahwa kelembutan merupakan magnet yang menyatukan, sementara kekasaran adalah faktor utama yang memecah belah," urainya.

Baca juga: Pandji Pragiwaksono Kagumi Gaya Dakwah Khalid Basalamah yang ‘Engaging'

‎2. Nasihat harus disampaikan dengan hikmah dan cara terbaik

‎Surah An-Nahl ayat 125 memerintahkan agar ajakan ke jalan Allah dilakukan dengan kebijaksanaan, pengajaran yang baik, dan ruang diskusi yang sehat. Ini membuktikan bahwa kebenaran materi harus berjalan selaras dengan kebaikan metodologi.

‎3. Perintah berkata lembut bahkan berlaku kepada Firaun

‎Saat Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Firaun yang telah melampaui batas, instruksi-Nya tetap jelas: berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut (QS. Taha: 43-44). Pelajaran pentingnya adalah, jika Firaun yang mengaku tuhan saja diperintahkan untuk dihadapi dengan kelembutan, maka seorang Muslim tentu jauh lebih berhak untuk diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kesantunan.

‎4. Mengubah musuh menjadi sahabat dengan kebaikan

‎Melalui Surah Fussilat ayat 34, Allah menjelaskan hukum sebab-akibat dalam hubungan sosial. Menolak keburukan dengan cara yang lebih baik mampu mengubah permusuhan yang sengit menjadi hubungan persahabatan yang sangat setia. Kebaikan memiliki daya magis untuk mengubah kebencian menjadi cinta.

‎Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah mengingatkan bahwa siapa saja yang terhalang atau menjauhkan diri dari sikap lembut, maka sesungguhnya ia telah terhalang dari seluruh pintu kebaikan.

‎Rasulullah menegaskan kepada Aisyah bahwa Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam seluruh urusan (HR Bukhari dan Muslim). Ruang lingkup ini bersifat universal, mencakup tata kelola keluarga, institusi pendidikan, organisasi, hingga tata laksana kepemimpinan publik.

‎Pesan Rasulullah kepada para sahabat saat diutus berdakwah sangat jelas: permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari menjauh (HR Bukhari dan Muslim). Evaluasi dampak komunikasi menjadi poin krusial yang harus diperhatikan oleh setiap pengajar.

Baca juga: Tanpa Ragu, Abu Bakar Memilih Islam: Ketika Dakwah Diterima Tanpa Ragu

‎Ketika seorang sahabat meminta wasiat, Rasulullah berulang kali menekankan kalimat: jangan marah (HR Bukhari).

‎"Di sinilah pentingnya memisahkan antara kemarahan yang didasari karena membela syariat Allah dengan kemarahan yang dipicu oleh ego serta kepentingan pribadi," pungkasnya.


(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 06 Juli 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:54
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan