Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita
Ramadhan Bercahaya

Menghidupkan Spirit Al-Badi, Jalan Umat Menuju Ekosistem Riset yang Berkemajuan

esti setiyowati Ahad, 15 Maret 2026 - 06:00 WIB
Menghidupkan Spirit Al-Badi, Jalan Umat Menuju Ekosistem Riset yang Berkemajuan
Menghidupkan Spirit Al-Badi, Jalan Umat Menuju Ekosistem Riset yang Berkemajuan. Foto: RDK UGM.
Dunia saat ini sedang memasuki babak disrupsi baru yang lebih kompleks. Jika sebelumnya manusia menghadapi perubahan besar akibat pandemi dan perubahan iklim, kini tantangan lain muncul berupa konflik geopolitik dan perang tarif global.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Prof Arif Satria dalam ceramah bertajuk “Asinkron Ekosistem Riset: Dari Politik Anggaran yang Tidak Berpihak sampai Lemahnya Budaya Ilmiah” pada acara Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, setiap disrupsi dalam sejarah peradaban manusia selalu melahirkan inovasi baru yang mengubah dunia.

Baca juga: Irfan Afifi: Islam di Tanah Jawa Dibangun dari Marifat, Bukan Sekadar Fiqih

“Kita sedang berada di situasi baru, di mana disrupsi baru telah hadir. Kita mengalami disrupsi yang semua orang sudah bisa membaca. Ketika disrupsi perubahan iklim, Covid, yang telah mengubah tatanan kehidupan,” ujarnya.

Kini, lanjutnya, dunia menghadapi disrupsi lain berupa perang tarif dan dinamika geopolitik yang semakin tajam.

Namun dalam setiap krisis selalu tersimpan peluang dan inspirasi bagi lahirnya terobosan teknologi.

Dalam ceramahnya, Arif Satria mengisahkan perjalanan seorang ilmuwan Muslim dunia, Omar Yaghi.

Ia berasal dari keluarga Palestina yang hidup dalam kondisi serba terbatas di wilayah gurun. Saat berada di pengungsian, persoalan paling mendasar yang ia hadapi adalah kelangkaan air.

Setiap pagi ia harus bangun lebih awal hanya untuk mendapatkan air.

Pengalaman hidup dalam krisis itulah yang justru menumbuhkan daya pikirnya.

Alih-alih meratapi keadaan, Omar Yaghi mulai berpikir: bagaimana jika air bisa didapatkan dari udara?

Pemikiran itu kemudian membawanya pada penemuan metal-organic framework (MOF), sebuah material berpori yang mampu menangkap berbagai molekul dari udara.

Baca juga: Salim A Fillah: Islam di Tanah Jawa Tumbuh Lewat Resonansi Budaya, Bukan Dominasi

Teknologi ini memungkinkan manusia “memanen” unsur dari udara, termasuk air.

“Udara itu tidak sia-sia karena mengandung banyak zat yang bisa dimanfaatkan dan dikapitalisasi,” kata Arif.

Melalui penemuan tersebut, manusia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumber air dari tanah karena air dapat diambil langsung dari udara.

Penemuan besar itu menjadikan Omar Yaghi dikenal sebagai salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia.

Arif Satria menyebut jumlah ilmuwan Muslim penerima Nobel masih sangat sedikit, bahkan tidak sampai 15 orang.

Karena itu, kisah Omar Yaghi menjadi contoh bahwa krisis justru bisa menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya inovasi besar.

“Kadang-kadang krisis membawa inspirasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan bahwa World War II juga memicu lahirnya teknologi penting seperti komputer dan radar.

Meneladani Asmaul Husna dalam Inovasi

Menurut Arif Satria, sumber inspirasi terbesar bagi seorang ilmuwan sejatinya juga bisa ditemukan dalam nilai-nilai spiritual Islam.

Salah satunya melalui pemaknaan dua nama Allah dalam Asmaul Husna, yakni Al-Khaliq dan Al-Badi.

Baca juga: Riset dan Inovasi Harus Jadi Rahmat bagi Semesta

Keduanya sama-sama berarti Maha Pencipta, namun memiliki makna yang berbeda.

Al-Khaliq merujuk pada penciptaan sesuatu dari bahan yang sudah ada, sementara Al-Badi bermakna menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada.

“Inovator sejati adalah orang yang mampu menginternalisasi sifat Allah Al-Badi,” jelasnya.

Artinya, seorang ilmuwan harus memiliki keberanian berpikir baru, imajinasi kuat, dan keyakinan bahwa ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia.

Dengan keyakinan itu, manusia terdorong untuk terus menyingkap rahasia alam semesta.

“Ciri Al-Badi itu adalah yakin bahwa ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia,” kata Arif.

Karena itu, tugas manusia adalah mengungkap potensi yang tersembunyi di alam.

Contohnya adalah udara yang selama ini dianggap biasa, padahal mengandung banyak unsur penting seperti oksigen, metana, dan berbagai molekul lain yang dapat dimanfaatkan.

Dari Base Practice Menuju Future Practice

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Arif menilai banyak negara, termasuk Indonesia, masih berada pada tahap base practice, yaitu sekadar mengikuti praktik yang sudah ada.

Baca juga: Masa Depan Bangsa di Piring Anak, Upaya Menyelamatkan Generasi dari Ancaman Stunting

Pada tahap ini sebuah bangsa cenderung menjadi follower. Padahal untuk menjadi pemimpin peradaban, sebuah bangsa harus bergerak menuju future practice.

Future practice adalah kemampuan membayangkan teknologi masa depan sebelum teknologi itu benar-benar hadir.

“Jika kita ingin menjadi leader, kita harus berpikir tentang masa depan,” ujarnya.

Kepemimpinan masa kini, kata Arif, tidak lagi sekadar memimpin diri sendiri atau memimpin organisasi.

Lebih dari itu, seorang pemimpin harus mampu memimpin perubahan bahkan memimpin masa depan.

Di sinilah pentingnya kemampuan foresight dan forecasting teknologi masa depan.

Misalnya, memprediksi teknologi energi apa yang akan dominan di masa depan, apakah tetap energi fosil atau energi alternatif.

Beberapa negara bahkan sudah mulai mengembangkan teknologi energi baru, seperti turbin hijau yang dikembangkan di Jepang.

Arif Satria menegaskan bahwa kemajuan ekonomi suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari kekuatan riset dan inovasi.

Pertumbuhan ekonomi dunia saat ini semakin didorong oleh tiga kekuatan utama, yaitu riset dan pengembangan (R&D), inovasi teknologi, dan kewirausahaan (entrepreneurship).

Negara yang mampu mengembangkan tiga kekuatan ini akan menjadi pusat kemajuan peradaban.

Baca juga: Membangun Supremasi Hukum dari Nilai-Nilai Islam dan Kekuatan Civil Society

Sejarah juga menunjukkan bahwa kebangkitan bangsa-bangsa besar selalu ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itu, ia mendorong agar semangat inovasi terus dibudayakan dalam ekosistem riset Indonesia.

“Sudah saatnya kita menginternalisasi sifat Al-Badi agar menemukan Omar Yaghi yang lain,” katanya.

Ilmu untuk Kemanfaatan

Meski demikian, Arif mengingatkan bahwa tujuan utama menjadi ilmuwan bukan sekadar menghasilkan teknologi atau meraih penghargaan internasional.

Lebih dari itu, ilmu harus memberi manfaat bagi manusia.

Dalam perspektif Islam, seorang ilmuwan harus berorientasi menjadi khoirunnas anfauhum linnas, yakni manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.

“Inilah orientasi utama ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dengan semangat tersebut, riset dan inovasi tidak hanya menjadi alat kemajuan teknologi, tetapi juga sarana ibadah dan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat manusia.

Di tengah berbagai disrupsi global yang terus bermunculan, Arif Satria menilai umat Islam memiliki sumber inspirasi besar dalam ajaran agamanya.

Ketika nilai-nilai spiritual seperti semangat Al-Badi dipadukan dengan budaya ilmiah yang kuat, bukan tidak mungkin akan lahir lebih banyak ilmuwan Muslim yang menghadirkan solusi bagi tantangan dunia. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)