LANGIT7.ID - Yogyakarta, - Masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh
pembangunan infrastruktur, kemajuan teknologi, atau
pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, masa depan bangsa juga ditentukan oleh apa yang dimakan anak-anaknya hari ini.
Pesan inilah yang disampaikan Rektor Universitas Alma Ata, Prof. dr. Hamam Hadi, dalam acara
Ramadhan Public Lecture di
Masjid Kampus UGM, Rabu (11/3/2026).
Dalam ceramah bertajuk “Masa Depan Bangsa di Piring Anak: Menyelamatkan Generasi dari Stunting”, ia menegaskan bahwa persoalan
stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan persoalan masa depan bangsa.
Baca juga: Membangun Supremasi Hukum dari Nilai-Nilai Islam dan Kekuatan Civil Society“
Stunting adalah ketika anak memiliki skor tinggi badan menurut umur kurang dari minus dua. Artinya, anak tersebut memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan anak seusianya,” ujarnya.
Menurut Hamam, kondisi tersebut terjadi karena kekurangan asupan gizi secara kronis dalam jangka waktu yang panjang. Kekurangan gizi ini umumnya dipicu oleh dua faktor utama, yakni keterbatasan kemampuan keluarga menyediakan
makanan bergizi serta penyakit infeksi yang membuat anak sulit menyerap nutrisi.
“Anak-anak yang sering sakit biasanya juga mengalami kesulitan makan. Akibatnya asupan gizi mereka tidak tercukupi,” katanya.
Hamam menjelaskan,
stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini berkembang dalam waktu lama dan sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Karena itu, prevalensi stunting paling banyak ditemukan pada kelompok masyarakat miskin.
Secara global, kata dia, sekitar 150 juta balita di dunia mengalami stunting atau sekitar 23 persen dari seluruh anak balita. Sementara di Indonesia, prevalensi stunting masih mencapai 19,8 persen.
“Artinya dari setiap lima anak di Indonesia, satu di antaranya mengalami stunting,” ujarnya.
Di tingkat dunia, Asia menyumbang sekitar 50 persen kasus stunting, disusul Afrika sekitar 40 persen. Indonesia bahkan tercatat sebagai penyumbang kasus stunting terbesar kelima di dunia setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan.
“Ini menjadi catatan penting bagi kita semua,” katanya.
Isi Piring Menentukan Masa DepanDalam ceramahnya, Hamam mengaitkan persoalan gizi dengan ajaran Islam. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah'Abasa ayat 24 yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan makanannya.
Baca juga: Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan ManusiaMenurut dia, umat Islam selama ini sering memandang makanan hanya dari aspek halal dan haram. Padahal, ada aspek lain yang tidak kalah penting, yakni kandungan gizi, manfaat kesehatan, dan kecukupan jumlahnya.
“Biasanya anak-anak yang mengalami stunting terbiasa mengonsumsi makanan yang kualitas gizinya rendah, jumlahnya kurang, dan tidak seimbang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perhatian terhadap gizi harus dimulai sejak masa kehamilan. Menurutnya, isi piring ibu hamil sangat menentukan masa depan anak yang dikandungnya.
Kekurangan gizi selama masa kehamilan dapat memicu metabolic programming pada janin, yaitu kondisi ketika tubuh janin beradaptasi terhadap kekurangan nutrisi dan membawa dampak kesehatan sepanjang hidupnya.
“Kondisi ini seperti blueprint kehidupan seseorang. Kesehatan, kemampuan akademik, hingga kualitas hidupnya sangat dipengaruhi oleh kondisi gizi ketika masih dalam kandungan,” jelasnya.
Dampak Jangka PanjangHamam menegaskan bahwa stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak. Dampaknya jauh lebih luas, termasuk meningkatkan risiko penyakit tidak menular sejak usia muda.
“Anak yang mengalami stunting berisiko lebih tinggi terkena penyakit seperti diabetes melitus di usia yang lebih dini,” katanya.
Lebih jauh, dampak kesehatan tersebut bahkan dapat diwariskan hingga tiga generasi.
Dari sisi ekonomi, stunting juga menimbulkan kerugian besar bagi negara. Jika sekitar 20 persen orang dewasa memiliki riwayat stunting, maka kondisi tersebut dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) hingga 2–3 persen setiap tahun.
“Jika dihitung, kerugian ekonomi itu bisa mencapai sekitar Rp400 triliun hingga Rp600 triliun per tahun,” ujarnya.
Baca juga: Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan DiabolismeFokus pada 1000 Hari PertamaMeski demikian, Hamam menilai Indonesia sebenarnya telah menunjukkan kemajuan dalam upaya menurunkan angka stunting. Dalam lima tahun terakhir, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp28,5 triliun untuk berbagai program intervensi gizi.
Hasilnya, angka stunting mulai menunjukkan tren penurunan.
“Pendekatan ini sebenarnya sudah berada di jalur yang benar. Jika konsisten dilanjutkan, target penurunan stunting hingga 14 persen pada 2029 bisa tercapai,” katanya.
Menurut dia, kunci keberhasilan penurunan stunting terletak pada fokus intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Kelompok yang perlu menjadi prioritas antara lain calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah dua tahun.
“Jika fokus pada kelompok ini, kita tidak perlu menghabiskan anggaran hingga ratusan triliun rupiah,” ujarnya.
Usulan Pendekatan HybridHamam juga menyoroti kebijakan program makan bergizi gratis (MBG) yang dinilai membutuhkan anggaran sangat besar. Program tersebut diperkirakan menghabiskan sekitar Rp335 triliun atau sekitar Rp1 triliun setiap hari.
Baca juga: Tausiyah di UGM, Mahfud MD Singgung Oligarki dan Turunnya Kualitas DemokrasiMenurut dia, berbagai analisis menunjukkan pendekatan tersebut belum tentu menjadi solusi paling efektif untuk menurunkan stunting.
Ia menyarankan pendekatan hybrid, yaitu program yang lebih terarah pada kelompok masyarakat miskin dan wilayah prioritas.
Selain fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, program makanan bergizi juga dapat diarahkan pada anak sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Jika pendekatan ini dilakukan, pemerintah bisa menghemat anggaran dalam jumlah besar tanpa mengurangi dampak program,” ujarnya.
Dalam penutup ceramahnya, Hamam mengingatkan bahwa menjaga kesehatan generasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat.
Ia mengutip peringatan dalam Al-Qur'an agar manusia tidak meninggalkan generasi yang lemah, serta hadis Nabi yang menyebut seseorang berdosa jika menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.
“Anak yang mengalami stunting bukan menjadi aset bangsa, tetapi justru berpotensi menjadi beban bagi keluarga dan negara,” katanya.
Karena itu, menurut Hamam, upaya menurunkan stunting harus dimulai dari kesadaran bersama, termasuk memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi keluarga sehari-hari.
“Masa depan bangsa sesungguhnya dimulai dari isi piring anak-anak kita,” ujarnya.
(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)(est)