Di tengah suasana Ramadhan yang sarat refleksi, sebuah pertanyaan besar mengemuka, apa sebenarnya makna kesejahteraan? Apakah sekadar angka statistik ekonomi, atau sesuatu yang lebih dalam dari itu?.
Pemerintah telah lama mencanangkan visi Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita besar tentang Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur. Tetapi pertanyaannya sederhana sekaligus berat, apakah cita-cita itu benar-benar bisa tercapai?
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Noorhaidi Hasan, menyampaikan refleksi mendalam tentang hubungan antara spiritualitas Ramadhan, etika pribadi, dan tantangan dunia akademik Indonesia di Masjid Kampus UGM, Yogyakarta.
Dunia saat ini sedang memasuki babak disrupsi baru yang lebih kompleks. Jika sebelumnya manusia menghadapi perubahan besar akibat pandemi dan perubahan iklim, kini tantangan lain muncul berupa konflik geopolitik dan perang tarif global.
Dalam konteks itu, budayawan Irfan Afifi menilai bahwa proses Islamisasi di Jawa pada masa awal justru menekankan kedalaman spiritual dan kemanusiaan, bukan sekadar aspek hukum formal.
Menurut Salim A Fillah, konsep resonansi menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana Islam berkembang di Jawa. Berbicara resonansi berarti ada kesamaan frekuensi yang kemudian dimanfaatkan untuk menjadi satu energi dalam membangun kebersamaan. Inilah yang ditempuh oleh para Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa, ujarnya.
Direktur Penelitian Universitas Gadjah Mada, Mirwan Ushada, menegaskan bahwa riset dan inovasi tidak semestinya hanya ditujukan untuk kepentingan individu atau bangsa semata, tetapi juga harus memberi manfaat luas bagi manusia, makhluk hidup, dan lingkungan.
Dalam ceramah bertajuk Masa Depan Bangsa di Piring Anak: Menyelamatkan Generasi dari Stunting, ia menegaskan bahwa persoalan stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan persoalan masa depan bangsa.
Dalam ceramah bertajuk Peran Civil Society dan Gerakan Islam dalam Penegakan Supremasi Hukum, ia mengajak umat Islam melihat kembali hubungan antara nilai-nilai Islam, masyarakat sipil, dan cita-cita keadilan dalam kehidupan bernegara.
Dalam kesempatan itu, Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Elan Satriawan, menyampaikan tausiyah bertajuk Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia Indonesia.
Dalam ceramahnya di mimbar Ramadhan Public Lecture, ia mengangkat tema Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme, yang menyoroti bagaimana pengaruh kejahatan dan tipu daya setan dapat memengaruhi cara berpikir manusia, termasuk dalam kehidupan sosial dan intelektual.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengingatkan pentingnya menjaga kedaulatan rakyat sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Dalam ceramah yang mengangkat tema Hermeneutika Nuzulul Quran: Membaca Kembali Misi Transformasi Sosial dalam Konteks Modernitas, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu menjelaskan bahwa pendekatan hermeneutika dapat membantu umat Islam memahami makna mendalam dari peristiwa turunnya Al-Quran.