LANGIT7.ID, Yogyakarta,- - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan
Mahfud MD mengingatkan pentingnya menjaga kedaulatan rakyat sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Pesan itu disampaikannya dalam tausiyah di mimbar
Ramadhan Public Lecture bertema “Indonesia Pasca-Reformasi: Masihkah Rakyat yang Berdaulat” di
Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Baca juga: Din Syamsuddin: Nuzulul Quran Mengandung Misi Transformasi SosialDalam ceramah yang disampaikan pada Jumat (7/3/2026) tersebut,
Mahfud mengajak masyarakat melihat persoalan kedaulatan dari sudut pandang sejarah. Menurutnya, sejarah menyimpan pesan perjuangan yang berulang dalam perjalanan umat manusia.
“Kalau ingin sukses, lihatlah sejarah masa lalu. Apa yang pernah kita capai dan apa yang gagal kita raih,” kata Mahfud.
Ia mengingatkan pesan
Presiden Soekarno tentang Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Bagi Mahfud, sejarah membuktikan bahwa bangsa yang dipimpin oleh orang baik akan menjadi kuat, sedangkan bangsa yang diatur oleh pemimpin yang buruk akan mengalami kemunduran bahkan kehancuran.
Mahfud juga menyinggung perjalanan Indonesia sejak merdeka. Menurutnya,
kemerdekaan telah membuka pintu bagi kemajuan bangsa, termasuk dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
“Karena kita merdeka dan memiliki kedaulatan, Indonesia bisa maju dari waktu ke waktu. Ini yang harus kita syukuri dan pertahankan,” ujarnya.
Baca juga: Strategi Diplomasi Indonesia ala Jusuf Kalla di Tengah Arus MultipolarDalam konteks demokrasi, Mahfud menilai masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah. Namun ia mengingatkan bahwa
kebebasan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab.
“Dalam negara demokrasi Anda boleh protes apa pun. Tetapi jangan sampai menimbulkan kekacauan atau membuat pemerintahan macet, karena yang akan sengsara adalah rakyat,” kata Mahfud.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap mencintai Indonesia dengan penuh kesabaran.
“Jangan pernah marah dan jangan lelah mencintai Indonesia,” tuturnya.
Dalam ceramahnya, Mahfud turut menyinggung posisi Indonesia dalam dinamika politik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ia pun mempertanyakan sikap Indonesia yang dinilainya belum sepenuhnya menunjukkan keberanian dalam hubungan internasional.
Menurutnya, menyampaikan empati atau belasungkawa atas tragedi kemanusiaan merupakan bagian dari sikap moral sebuah negara berdaulat.
“Kalau mengucapkan berduka saja tidak bisa, lalu di mana kedaulatan kita?” ujarnya.
Baca juga: Menelusuri Jejak Integrasi Ilmu dan Agama dalam IslamMahfud kemudian mengingatkan kembali prinsip Dasasila Bandung yang menegaskan penolakan terhadap penjajahan dan intervensi antarnegara. Sikap empati terhadap penderitaan bangsa lain, menurutnya, juga merupakan bagian dari komitmen terhadap nilai tersebut.
Selain tantangan dari luar, Mahfud menilai kedaulatan rakyat juga menghadapi gangguan dari dalam negeri. Salah satunya adalah menguatnya pengaruh oligarki dalam praktik politik.
Ia menilai kedaulatan rakyat terkadang hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan melalui mekanisme demokrasi, namun setelah kekuasaan diperoleh, kepentingan rakyat justru diabaikan.
“Demokrasi kita harus dibangun secara beradab,” kata Mahfud.
Menurutnya, setelah reformasi kualitas demokrasi Indonesia memang mengalami kemajuan, namun dalam beberapa tahun terakhir terlihat adanya gejala penurunan. Dan itu perlu diperbaiki dengan niat tulus demi kemajuan bangsa.
Dalam tausiyahnya, Mahfud menjelaskan bahwa kekuatan negara bertumpu pada tiga pilar utama, yakni rakyat, pemerintah, dan ulama atau cendekiawan.
Baca juga: Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya Tauhid“Rusaknya sebuah bangsa dimulai dari rusaknya rakyat. Tetapi rusaknya rakyat sering kali karena pemerintahnya rusak,” kata Mahfud mengutip pandangan ulama besar Imam Al-Ghazali.
Ia menambahkan, kerusakan pemerintah juga bisa terjadi ketika para ulama tidak lagi berani menegakkan amar makruf nahi munkar karena terlalu mencintai kedudukan dan harta.
Mahfud juga mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW tentang sebab runtuhnya bangsa-bangsa besar di masa lalu, yaitu ketika hukum tidak ditegakkan secara adil.
“Ketika orang besar melakukan kesalahan tidak dihukum karena punya kekuasaan atau bisa membayar, sementara rakyat kecil langsung dihukum berat,” ujarnya.
Di akhir ceramahnya, Mahfud menegaskan bahwa keadilan merupakan kunci utama bagi tegaknya kedaulatan sebuah negara. Menurutnya, suatu negara akan kuat apabila diperintah secara adil, meskipun negara itu bukan negara Muslim.
Namun, jika sebuah negara berpenduduk Muslim mampu menegakkan keadilan, maka negara tersebut akan menjadi kuat dan dihormati. “Kunci kedaulatan itu adalah keadilan,” pungkasnya.
(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT.ID)Baca juga: Dari Diferensiasi ke Integrasi, Memadukan Kecerdasan dan Kemanusiaan(est)