LANGIT7.ID-, Yogyakarta - Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang kian pesat telah membawa manusia pada kemajuan luar biasa. Namun di balik itu, muncul pula tantangan besar, yakni terpisahnya rasionalitas dari nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Inilah pokok gagasan yang disampaikan Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, dalam ceramah bertajuk “Dari Diferensiasi ke Integrasi Kecerdasan dan Kemanusiaan dalam Praktik Kehidupan” pada rangkaian
Ramadhan Public Lecture di
Masjid Kampus UGM, Senin (2/3/2026).
Dalam paparannya, Baiquni mengajak jamaah merefleksikan sejarah panjang peradaban manusia. Umat-umat terdahulu, kata dia, mampu memadukan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup.
Baca juga: Bhima Yudhistira: Indonesia Emas Terancam Jadi 'Indonesia Cemas' Akibat Ketimpangan StrukturalIa mencontohkan keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai bukti tingginya peradaban lebih dari seribu tahun silam.
“Peradaban itu lahir dari integrasi antara kecerdasan dan nilai kehidupan,” ujarnya.
Menurut Baiquni, ketika Islam lahir dan berkembang menjadi peradaban luhur di Timur Tengah, Eropa, Afrika Utara hingga Asia Tenggara, penyebarannya tidak semata-mata melalui ekspansi kekuasaan, melainkan melalui dakwah ilmu pengetahuan dan akulturasi budaya.
Nilai-nilai Islam, katanya, kompatibel dengan kehidupan di berbagai belahan bumi karena bertumpu pada prinsip ketauhidan dan keimanan yang universal.
Namun, ia juga menekankan bahwa perkembangan zaman dan kondisi geografis melahirkan diferensiasi budaya, struktur sosial, dan tatanan kemasyarakatan yang semakin variatif. Diferensiasi ini pada satu sisi memperkaya peradaban, tetapi pada sisi lain berpotensi memisahkan unsur-unsur penting dalam kehidupan manusia.
Momentum Ramadan, lanjutnya, mengingatkan umat pada wahyu pertama: Iqra’ — bacalah. Membaca tidak hanya teks, tetapi juga konteks. Membaca adalah proses riset dan pengayaan ilmu pengetahuan. “Allah memberikan derajat lebih tinggi bagi orang berilmu. Membaca berarti memahami manusia, lingkungan hidup, bahkan alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya,” kata Baiquni.
Ia menguraikan bagaimana perjalanan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain melalui darat dan laut melahirkan pertukaran gagasan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, hingga mencapai puncaknya pada Revolusi Industri di Eropa. Pada fase inilah, menurutnya, terjadi pemisahan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Ramadhan Public Lecture: Menelisik Ancaman Arus Balik Kolonialisme di Timur TengahDampaknya terasa hingga kini. Ekspansi kolonialisme dan eksploitasi sumber daya alam atas nama kemajuan telah menyebabkan kerusakan lingkungan di berbagai belahan dunia. Dalam konteks ini, Baiquni mengingatkan bahwa Al-Qur’an kerap menutup penjelasannya dengan ajakan refleksi: agar manusia berpikir, menggunakan akal dan pandangannya untuk memahami fenomena di sekitarnya.
“Ilmu pengetahuan tidak cukup hanya rasionalitas. Ia harus dipandu nurani dan spiritualitas,” tegasnya.
Ia menawarkan paradigma integratif: pertemuan antara nalar, naluri, dan nurani. Manusia dibekali akal dan pancaindra untuk menjalankan tugasnya di bumi, sekaligus hati untuk menerima cahaya ilahi sebagai penuntun arah.
Dari spirit inilah berkembang beragam disiplin ilmu — engineering, farmasi, ilmu sosial, diplomasi, kesehatan, hingga kebudayaan.
Baiquni menilai, bangsa-bangsa yang menafikan dimensi spiritual mungkin tampak maju secara material, tetapi menghadapi kekosongan makna.
Di sinilah peluang bagi umat Islam untuk menghadirkan kembali integrasi kecerdasan dan kemanusiaan sebagai tawaran peradaban.
Ceramah tersebut menegaskan bahwa tantangan masa kini bukan lagi sekadar menghasilkan inovasi, melainkan memastikan bahwa inovasi itu berpijak pada nilai.
Baca juga: Merawat Tenun Kebangsaan lewat Surah Al-Hujurat, Pesan Prof Zuly Qodir di Masjid UGMDari diferensiasi yang memisahkan, umat manusia diajak bergerak menuju integrasi—memadukan akal dan iman, ilmu dan etika, kemajuan dan kemanusiaan.m,ingga melahirkan karya agung yang bertahan lintas zaman.
Ia mencontohkan keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai bukti tingginya peradaban lebih dari seribu tahun silam.
“Peradaban itu lahir dari integrasi antara kecerdasan dan nilai kehidupan,” ujarnya.
Menurut Baiquni, ketika Islam lahir dan berkembang menjadi peradaban luhur di Timur Tengah, Eropa, Afrika Utara hingga Asia Tenggara, penyebarannya tidak semata-mata melalui ekspansi kekuasaan, melainkan melalui dakwah ilmu pengetahuan dan akulturasi budaya.
Nilai-nilai Islam, katanya, kompatibel dengan kehidupan di berbagai belahan bumi karena bertumpu pada prinsip ketauhidan dan keimanan yang universal.
Namun, ia juga menekankan bahwa perkembangan zaman dan kondisi geografis melahirkan diferensiasi budaya, struktur sosial, dan tatanan kemasyarakatan yang semakin variatif.
Diferensiasi ini pada satu sisi memperkaya peradaban, tetapi pada sisi lain berpotensi memisahkan unsur-unsur penting dalam kehidupan manusia.
Momentum Ramadan, lanjutnya, mengingatkan umat pada wahyu pertama: Iqra’ — bacalah. Membaca tidak hanya teks, tetapi juga konteks. Membaca adalah proses riset dan pengayaan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Benteng Antikorupsi: Wakil Ketua KPK Tekankan Kejujuran dan Hidup Sederhana“Allah memberikan derajat lebih tinggi bagi orang berilmu. Membaca berarti memahami manusia, lingkungan hidup, bahkan alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya,” kata Baiquni.
Ia menguraikan bagaimana perjalanan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain melalui darat dan laut melahirkan pertukaran gagasan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, hingga mencapai puncaknya pada Revolusi Industri di Eropa.
Pada fase inilah, menurutnya, terjadi pemisahan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan.
Dampaknya terasa hingga kini. Ekspansi kolonialisme dan eksploitasi sumber daya alam atas nama kemajuan telah menyebabkan kerusakan lingkungan di berbagai belahan dunia.
Dalam konteks ini, Baiquni mengingatkan bahwa Al-Qur’an kerap menutup penjelasannya dengan ajakan refleksi: agar manusia berpikir, menggunakan akal dan pandangannya untuk memahami fenomena di sekitarnya.
“Ilmu pengetahuan tidak cukup hanya rasionalitas. Ia harus dipandu nurani dan spiritualitas,” tegasnya.
Baca juga: Napas Spiritual dalam Kebijakan Publik, Menuju Keadilan dan KemanfaatanIa menawarkan paradigma integratif: pertemuan antara nalar, naluri, dan nurani. Manusia dibekali akal dan pancaindra untuk menjalankan tugasnya di bumi, sekaligus hati untuk menerima cahaya ilahi sebagai penuntun arah.
Dari spirit inilah berkembang beragam disiplin ilmu — engineering, farmasi, ilmu sosial, diplomasi, kesehatan, hingga kebudayaan.
Baiquni menilai, bangsa-bangsa yang menafikan dimensi spiritual mungkin tampak maju secara material, tetapi menghadapi kekosongan makna. Di sinilah peluang bagi umat Islam untuk menghadirkan kembali integrasi kecerdasan dan kemanusiaan sebagai tawaran peradaban.
Ceramah tersebut menegaskan bahwa tantangan masa kini bukan lagi sekadar menghasilkan inovasi, melainkan memastikan bahwa inovasi itu berpijak pada nilai.
Dari diferensiasi yang memisahkan, umat manusia diajak bergerak menuju integrasi—memadukan akal dan iman, ilmu dan etika, kemajuan dan kemanusiaan.
(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)(est)