LANGIT7.ID, Yogyakarta,- - Direktur Eksekutif CELIOS,
Bhima Yudhistira Adhinegara, memberikan peringatan keras terkait arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai kian menjauh dari realitas rakyat kecil.
Dalam tausiyah ekonomi di
Masjid Kampus UGM, Ahad (1/3/2026), Bhima menyebut bahwa ambisi "
Indonesia Emas 2045" mustahil tercapai jika pemerintah masih menjalankan kebijakan yang "ugal-ugalan" dan hanya menguntungkan segelintir elite.
Bhima menyoroti program unggulan seperti
Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki anggaran fantastis sebesar Rp335 triliun. Namun, di lapangan, program ini justru memukul para
pedagang kecil.Baca juga: Ramadhan Public Lecture: Menelisik Ancaman Arus Balik Kolonialisme di Timur TengahIa mengungkapkan temuan bahwa
Badan Gizi Nasional (BGN) cenderung memotong tujuh hingga delapan rantai pasok dengan membeli telur langsung dari peternak besar, bukan dari warung atau pasar tradisional.
"BGN bahkan meminta harga di bawah Rp1.500 per butir. Ini mematikan ekosistem UMKM kita. Programnya besar, anggarannya besar, tapi masih mengawang-awang dan tidak menjejak ke tanah," ujar Bhima di hadapan jamaah Masjid Kampus UGM.
Kritik serupa ia arahkan pada kebijakan impor 105.000 mobil pickup 4x4 dari India. Menurutnya, industri otomotif dalam negeri sangat mampu memenuhi kebutuhan tersebut, dan spesifikasi penggerak empat roda (4x4) dianggap belum mendesak bagi petani sayur di daerah.
Sementara di saat yang sama, masyarakat merasakan beban pajak yang kian tinggi, namun tax ratio (rasio pajak) nasional tetap rendah di bawah 11 persen.
"Ekonomi naik di atas 5 persen, tapi pembayaran pajak turun. Ini indikasi nyata bahwa perputaran ekonomi hanya terjadi di segelintir orang saja," tegasnya.
Baca juga: Merawat Tenun Kebangsaan lewat Surah Al-Hujurat, Pesan Prof Zuly Qodir di Masjid UGMMengenai isu ketenagakerjaan, Bhima membela generasi muda (Gen Z) yang sering dicap manja. Berdasarkan data SAKERNAS, lulusan sarjana kini membutuhkan waktu hingga 12 bulan hanya untuk mendapatkan panggilan kerja.
Sebanyak 7,8 juta Gen Z bahkan terpaksa menjadi pekerja kasar karena minimnya lapangan kerja berkualitas.
Ia menyebut Gen Z adalah "generasi yang diwarisi ketimpangan struktural." Akibat tekanan ekonomi ini, sepanjang tahun 2025 tercatat peningkatan signifikan masyarakat yang harus berkonsultasi ke psikiater.
"Mereka kehilangan akses pada sumber daya alam yang sudah habis diberikan ke perusahaan asing," tambahnya.
Di akhir tausiyahnya, Bhima mengajak kaum muda untuk merebut kembali akses pendidikan, termasuk beasiswa LPDP yang belakangan dipenuhi anak-anak pejabat. Ia mendorong pemuda Muslim untuk memiliki gagasan progresif demi membangun ekonomi umat.
Sebagai inspirasi, ia mengutip semangat perjuangan Palestina yang tetap optimis meski telah dijajah selama 78 tahun. Baginya, perubahan harus dilakukan secara kolektif dengan visi yang jelas, dimulai dari niat yang tulus dan penguatan literasi (Iqra).
Baca juga: Napas Spiritual dalam Kebijakan Publik, Menuju Keadilan dan Kemanfaatan"Kalau kaum muda tidak melakukan perubahan sekarang, maka dinasti politik akan makin masif, korupsi makin terdesentralisasi, dan semakin banyak yang putus asa," pungkasnya. (
Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID) (est)