LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Dalam rangkaian ceramah
Ramadan di Kampus UGM 1447 H, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY,Prof Dr Zuly Qodir, menekankan bahwa keragaman yang ada di Indonesia bukanlah sebuah kebetulan, melainkan
sunatullah (ketentuan Allah).
Di mimbar
Ramadhan Public Lecture yang digelar di Masjid Kampus UGM pada Jumat, 27 Februari 2026, Prof Zuly memaparkan bagaimana nilai-nilai Islam seharusnya menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan inklusif seperti tertulis dalam
surah Al Hujurat.Baca juga: Benteng Antikorupsi: Wakil Ketua KPK Tekankan Kejujuran dan Hidup SederhanaProf Zuly menegaskan bahwa Indonesia diciptakan sebagai bangsa yang majemuk. Karenanya, bahwa ada gagasan yang menginginkan Indonesia menjadi seragam, misalnya hanya dihuni oleh satu agama saja, hal itu justru bertentangan dengan
sunatullah (ketentuan Allah).
Mengacu pada pandangan tokoh bangsa seperti
Cak Nur dan
Gus Dur, ia menekankan bahwa Islam adalah agama yang mengayomi. Siapa pun yang beriman kepada Allah dan mengamalkan kebajikan akan merasakan indahnya surga, sehingga tidak ada ruang untuk merasa paling benar sendiri.
Kritik Terhadap Etika Politik dan SosialDalam ceramahnya, Prof Zuly menyoroti kondisi sosial politik saat ini. Ia mengaku prihatin ketika melihat sesama anggota partai atau kelompok saling "gontok-gontokan" hanya demi kursi dapil.
"Agak aneh jika mengaku sebagai orang beriman, namun yang terjadi bukan
musyawarah untuk
kemaslahatan, melainkan musyawarah yang dipaksakan lewat voting," ungkap beliau.
Menurutnya, voting sering kali hanya menunjukkan kekuatan jumlah tanpa merepresentasikan kebutuhan nyata masyarakat luas.
Baca juga: Napas Spiritual dalam Kebijakan Publik, Menuju Keadilan dan KemanfaatanSementara dalam konteks stabilitas bangsa, Prof Zuly memuji peran organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah yang menjadi pilar utama kedamaian di tengah keberagaman etnis, kelas sosial, hingga isu gender di Indonesia.
Merujuk pada Surat Al-Hujurat ayat 11-12, Prof Zuly mengingatkan umat Muslim untuk menjaga lisan dan jempol di media sosial. Kurangnya filter di dunia digital membuat orang mudah mengomentari, mencari kesalahan, dan menjatuhkan orang lain.
"Surah Al Hujurat ayat 11, melarang kita mengolok-olok atau memanggil sesama dengan panggilan yang buruk. Kemudian ayat 12, memberikan pesan besar agar manusia tidak mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus)," terangnya.
Pesan Al-Qur'an ini sangat relevan untuk menyaring informasi agar tidak terjebak dalam fitnah atau hoaks yang dapat merusak persatuan.
Tujuan dari diciptakannya manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa seperti dijelaskan dalam surah Al-Hujurat ayat 13 adalah agar saling mengenal dan tolong-menolong.
Dalam implementasinya, Prof Zuly menekankan tiga poin penting yakni, menghindari kesombongan dengan tidak merasa paling hebat atau paling benar, toleran terhadap perbedaan pandangan, namun tegas menolak kejahatan dan tindakan yang mencederai orang lain.
Mengutip sosiolog Prancis, Prof Zuly menjelaskan bahwa ketaatan hukum bermula dari pembiasaan yang terkadang harus dipaksakan hingga akhirnya menjadi karakter yang baik.
Baca juga: Menemukan Indonesia di Era Kepalsuan, Kembali ke Otoritas Ilmu dan AdabOleh karena itu, umat Islam diajak untuk tidak membiasakan hal-hal buruk.
"Paling penting adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan," tutupnya.
Dengan keberagamaan yang inklusif, Indonesia dapat mewujudkan pembangunan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harmonis secara sosial.
(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID). (est)