LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Saat ini, di masa yang disebut sebagai
Post-Truth, era "pasca-kebenaran" atau era kebohongan, emosi dan opini populer jauh lebih laku dijual daripada data yang terverifikasi. Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan ancaman serius bagi fondasi
peradaban manusia.
Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIKA, Adian Husaini menyebut masa ini sebagai era matinya kepakaran dan munculnya manusia-manusia yang sok tahu.
Baca juga: Kondisi Hukum Indonesia: Sebuah Laporan tentang KeadilanProf Tom Nichols lewat buku
The Death of Expertise telah memotret realitas di
Amerika Serikat di mana otoritas ilmu tidak lagi dihargai. Saat
pandemi melanda, mereka yang memiliki otoritas ilmu justru kalah suara oleh sosok-sosok populer yang hanya bermodal jempol di layar ponsel.
Kondisi ini diperparah dengan lahirnya "Generasi Cemas", di mana permainan anak-anak beralih dari alat nyata ke dunia digital berbasis
smartphone.
Adian mengatakan, sebuah riset menunjukkan korelasi positif antara tingkat
kecemasan dengan durasi penggunaan
media sosial.
"Kita hidup di zaman di mana siapa pun bisa menulis berita tanpa melalui uji kompetensi wartawan yang ketat seperti dulu. Dampaknya? Masyarakat menjadi "sok tahu". Mereka menjejerkan judul-judul berita, merasa telah paham segalanya, lalu dengan ringan menyebarkan fitnah," kata Adian Husaiani di mimbar Ramadhan Public Lecture di
Masjid Kampus UGM pada Selasa, 24 Februari 2026.
Rasulullah SAW telah memprediksi zaman penuh tipu daya ini dalam sebuah hadits:
“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum” (HR Ibnu Majah).
Baca juga: Bagaimana Al-Qur'an Memandu Kehidupan Berbangsa dan Bernegara?Adian mengatakan bahwa era post-truth juga membawa disrupsi besar di dunia akademik. Pada 2017, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sudah mengingatkan pilihannya hanya dua, berubah atau punah.
Prof Clayton Christensen memperkirakan bahwa dalam 10-15 tahun ke depan, separuh kampus di Amerika dan Korea Selatan akan tutup, mengikuti nasib mal dan media cetak yang kehilangan relevansi.
"Pendidikan kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu disiplin ilmu (prodi). Persoalan dunia saat ini sudah lintas disiplin, bahkan polymed. Jika perguruan tinggi dan para pakar justru ikut arus populisme tanpa verifikasi, maka hancurlah otoritas ilmu tersebut," ucap Adian.
Gaza dan Runtuhnya Legitimasi Moral BaratDi tengah kekacauan informasi ini, peta dunia berubah dengan cepat. Siapa yang menyangka bahwa di jantung Amerika Serikat, kini terdapat wali kota bahkan gubernur Muslim? Di New York, basis Yahudi yang kuat, seorang wali kota kini tak ragu menyatakan Ramadhan sebagai bulan favoritnya.
Namun, pelajaran peradaban terbesar datang dari Gaza. Dunia menyaksikan bagaimana sebuah bangsa yang diboikot sejak 2007, dibantai habis-habisan, namun tidak mengalami stres massal.
Baca juga: Menjemput Ridha Melalui Ekonomi Inklusif dan Mobilitas Sosial"Seorang ibu menggendong jenazah anaknya dengan penuh ketabahan, menyerahkan segalanya kepada Allah. Inilah akhlak mulia di tengah penderitaan yang luar biasa," tambahnya.
Seorang ilmuwan Jepang menyebut Gaza sebagai "kuburan peradaban Barat" secara moral. Barat yang menjanjikan kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan terbukti gagal memenuhinya.
"Zionisme sedang memasuki fase akhirnya (the last phase of Zionism). Legitimasi moral mereka runtuh," kata Adian.
Solusi: Menegakkan Adab dan Pendidikan Manusia
Lalu bagaimana umat Islam menemukan Indonesia di tengah badai ini?
"Jawabannya adalah menegakkan adab-adab ilmu. Jika otoritas ilmu rusak, peradaban pun ikut rusak," tegasnya.
Ia mengatakan, Islam membangun peradaban dimulai dari membangun manusianya, bukan sekadar benda atau teknologinya.
"Pendidikan Barat cenderung melahirkan manusia yang pandai berinovasi (to create), namun kepintaran itu justru berujung pada alat pembunuh massal atau teknologi (seperti AI) yang mengancam diri mereka sendiri," tambah Adian.
Baca juga: Membangun Pendidikan Karakter, Meneladani Akhlakul Karimah untuk Masa Depan IndonesiaKi Hajar Dewantara pernah mengingatkan bahwa jika kita mentah-mentah mengambil pendidikan Barat, masyarakat akan terjebak dalam "kemurkaan diri" (individualisme) dan "kemurkaan benda" (materialisme).
Sebagai solusi, Ki Hajar menawarkan konsep yang sejalan dengan tasawuf, yakni syariat, hakikat, tarekat, dan makrifat.
"Islam menawarkan konsep yang tidak pernah berubah: Al-Qur'an dan Sunnah yang terjaga, kiblat yang tetap, dan sejarah yang autentik. Menemukan Indonesia di era post-truth berarti kembali pada konsep manusia yang paling bermanfaat bagi sesama (Anfa'uhum linnaas)," tutupnya.
(est)