Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 15 April 2026
home masjid detail berita

Bagaimana Al-Qur'an Memandu Kehidupan Berbangsa dan Bernegara?

esti setiyowati Senin, 23 Februari 2026 - 06:00 WIB
Bagaimana Al-Qur'an Memandu Kehidupan Berbangsa dan Bernegara?
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak mengisi tausiyah di Masjid Kampus UGM pada Ahad, 22 Februari 2026. Foto: RDK UGM.
LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah untuk mengenyangkan spiritualitas.

Hal tersebut diungkap Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam mimbar Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM pada Ahad, 22 Februari 2026.

Mengangkat tema "Bagaimana Al-Qur'an Memandu Kehidupan Bernegara?", Dahnil Anzar menarik dari esensi berpuasa.

Baca juga: Membangun Pendidikan Karakter, Meneladani Akhlakul Karimah untuk Masa Depan Indonesia

Ia menyitir ungkapan Khalil Gibran yang menyebutkan bahwa puasa sejatinya adalah jalan untuk mengenyangkan ruhani dan batin melalui rasa lapar fisik.

"Dari rasa lapar itulah, muncul kesabaran yang melahirkan empati serta simpati. Nilai kesabaran inilah yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan kita sebagai warga negara," ungkap Dahnil Anzar di rangkaian acara Ramadhan di Kampus UGM.

Dalam memahami eksistensi negara, Al-Qur'an memberikan panduan yang bersifat prinsipil melalui Surah Al-Hujurat ayat 13.

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal (li-ta'arafu).

Menariknya, kata Dahnil, Al-Qur'an tidak secara kaku mengatur bentuk negara—apakah harus republik, monarki, atau lainnya. Bentuk negara adalah hasil ijtihad masing-masing bangsa.

Namun, Al-Qur'an memberikan empat prinsip utama yang harus hadir dalam setiap kehidupan bernegara, yaitu keadilan, musyarawah, persatuan, dan amanah.

"Dari empat prinsip ini, keadilan diletakkan sebagai prinsip paling utama dalam bernegara. Seperti diketahui, keadilan adalah diskursus yang tidak pernah selesai," kata Dahnil Anzar.

Meski keadilan absolut hanya milik Allah SWT, tugas kita adalah menghadirkan keadilan relatif yang bisa dirasakan semua orang. Ibnu Taimiyah menekankan bahwa seorang negarawan harus memiliki dua prinsip: menjaga agama dan mensiasati dunia.

Baca juga: Ramadhan: Jembatan Menuju Perdamaian Antariman dan Reinterpretasi Relasi Muslim-Non Muslim

Kemudian masuk dalam prinsip kedua yaitu musyawarah. Dalam konteks demokrasi Indonesia, musyawarah bukan sekadar kumpul-kumpul, melainkan proses pengambilan keputusan yang didasari ilmu.

Dahnil mengatakan, Al-Qur'an mengulang kata "ilmu" hingga 180 kali. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban maju tidak boleh meminggirkan tradisi ilmiah dalam politik.
Keputusan yang diambil tanpa kapasitas keilmuan yang mumpuni hanya akan melahirkan kebijakan yang rapuh.

"Esensi dari kehidupan dan peradaban yang maju adalah ilmu. Dalam kehidupan bernegara tradisi ilmu ini harus dihidupkan," pesannya.

Kemudian pada prinsip persatuan, Dahnil menyebut tantangan terbesar di era demokrasi adalah menunjuk pemimpin yang amanah dan berintegritas.

"Kita perlu belajar dari tradisi intelektual Islam, seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam memvalidasi hadis. Mereka mengajarkan pentingnya sanad (sumber) yang jelas. Di era banjir informasi saat ini, warga negara dan pemimpin harus memiliki kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah tersulut oleh kabar yang tidak jelas kebenarannya," katanya.

Ada sebuah kisah reflektif antara Ali bin Abi Thalib dengan para sahabatnya. Ketika Ali diprotes karena masa kepemimpinannya penuh gejolak dibanding masa Abu Bakar dan Umar, Ali menjawab dengan cerdas, "Di masa Abu Bakar dan Umar, rakyatnya adalah orang-orang seperti aku dan Usman. Sedangkan di masa saya, rakyatnya adalah orang-orang seperti kalian."

Pesan ini menegaskan bahwa pemimpin adalah cermin dari rakyatnya, dan rakyat adalah cerminan dari kepemimpinannya. Kepemimpinan yang kuat harus ditopang oleh tatanan masyarakat yang juga kuat dan beradab.

Baca juga: Menilik Peluang Menjadi Muslim Negarawan di Era Modern

Di akhir tausiyahnya, Dahnil menekankan pentingnya memperkuat Ukhuwah Wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan, selain membangun Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Ia berkaca pada kondisi akhir-akhir ini di mana ada seorang WNI yang mengalami krisis identitas dan lebih bangga pada negara asing sambil menegasikan negaranya sendiri.

Padahal, kata Dahnil, kecintaan pada Tanah Air adalah bagian penting dari ajaran Rasulullah SAW.

Lewat momentum Ramadhan ini, Dahnil Anzar berpesan untuk menghadirkan komitmen membangun negara yang berkeadilan, mengedepankan musyawarah berbasis ilmu, menjaga persatuan, dan amanah dalam memegang tanggung jawab.

Jika prinsip-prinsip Al-Qur'an ini diinternalisasi dalam kehidupan bernegara, maka peradaban Indonesia yang maju dan bermartabat bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID).

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 15 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:55
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)