LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Berbicara tentang Islam di Tanah Jawa berarti berbicara tentang proses panjang dialog kebudayaan. Islam tidak datang sebagai kekuatan yang mendominasi, tetapi hadir melalui resonansi nilai yang menemukan kesamaan frekuensi dengan
budaya lokal.Hal itu disampaikan budayawan sekaligus penulis
Salim A Fillah dalam kajian bertema “Menelusuri Jejak Resonansi Islam di Tanah Jawa” pada
RDK Festival 1447 Hijriah yang digelar oleh Jama'ah Shalahuddin UGM, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan 50 Tahun Ramadhan di Kampus UGM, sebuah tradisi intelektual keislaman yang telah berlangsung sejak 1976 dan menghadirkan berbagai tokoh nasional dalam forum keilmuan Ramadhan.
Baca juga: Riset dan Inovasi Harus Jadi Rahmat bagi SemestaMenurut Salim A Fillah, konsep resonansi menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana Islam berkembang di Jawa.
“Berbicara resonansi berarti ada kesamaan frekuensi yang kemudian dimanfaatkan untuk menjadi satu energi dalam membangun kebersamaan. Inilah yang ditempuh oleh para
Wali Songo dalam
menyebarkan Islam di Tanah Jawa,” ujarnya.
Dalam perspektif sejarah dakwah, para wali tidak sekadar datang membawa ajaran, tetapi berupaya menemukan titik temu antara nilai Islam dengan tradisi masyarakat. Pendekatan inilah yang membuat Islam mampu diterima secara luas tanpa menimbulkan benturan budaya yang tajam.
Ustaz Salim juga menyinggung naskah klasik Serat Wali Sana, yang memuat substansi tentang upaya mengislamkan Jawa. Naskah tersebut menggambarkan bahwa dakwah para wali tidak berlangsung secara sederhana, melainkan melalui proses perumusan strategi yang matang.
Menariknya, kata Salim, di internal Wali Songo sendiri terdapat dialektika dalam menentukan
strategi dakwah.
“Di dalam Serat Wali Sana tercatat bahwa para wali bermusyawarah. Mereka menyepakati tentang tauhid yang diajarkan sekaligus menepis risiko penyimpangan yang mungkin muncul,” jelasnya.
Salah satu hasil kesepakatan itu adalah penggunaan pendekatan teologis yang mudah dipahami masyarakat. Dalam hal ini,
Sunan Gunung Jati dan
Sunan Kalijaga menilai bahwa konsep akidah Asy’ariyah paling mudah menjelaskan ketauhidan kepada masyarakat Jawa saat itu.
Baca juga: Masa Depan Bangsa di Piring Anak, Upaya Menyelamatkan Generasi dari Ancaman StuntingDalam bahasa lokal, konsep ketuhanan tersebut dijelaskan secara sederhana,
"Allah sebagai noro wujud, noro butuh papan lan panggonan, noro butuh waktu, tidak membutuhkan tempat dan tidak terikat oleh waktu,".
Pemahaman inilah yang kemudian menjadi ikatan teologis yang disepakati dalam gerakan dakwah para wali.
Strategi Dakwah melalui Budaya PopulerSalim juga menyoroti bagaimana strategi dakwah para wali tidak lepas dari kreativitas budaya.
Dalam catatan Babat Cirebon, disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati pernah berguru kepada ulama besar seperti Zakaria al-Ansari, yang memiliki sanad keilmuan hingga Ibn Hajar al-Asqalani di Mesir.
Dari latar keilmuan tersebut, lahir gagasan kreatif ketika Sunan Kalijaga mengusulkan penggunaan cerita Mahabharata dan Ramayana sebagai media dakwah.
Usulan ini sempat memunculkan perdebatan. Sunan Giri mempertanyakan penggunaan kisah yang mengandung unsur kepercayaan agama lain dalam penyiaran Islam.
Namun Sunan Kalijaga memberikan analogi dari kisah Ibrahim, yang dalam Al-Qur’an pernah menyebut bulan, bintang, dan matahari ketika berdialog dengan masyarakat penyembah benda langit.
“Memasuki wilayah yang nyaman bagi masyarakat yang didakwahi, kemudian pelan-pelan memahamkan tentang kebenaran yang lebih baik,” kata Salim menjelaskan logika pendekatan tersebut.
Baca juga: Membangun Supremasi Hukum dari Nilai-Nilai Islam dan Kekuatan Civil SocietyPendekatan budaya itu kemudian melahirkan inovasi dakwah melalui seni wayang.
Dalam prosesnya, cerita-cerita epik tersebut mengalami rekonstruksi. Para dewa digambarkan sebagai karakter manusia, sementara pesan moral diarahkan pada pencarian kebenaran yang berujung pada kalimat syahadat.
Bahkan bentuk visual wayang juga mengalami perubahan. Tokoh dengan perut kecil melambangkan keprihatinan dan pengendalian diri, sementara mulut kecil melambangkan penjagaan lisan. Sebaliknya, tokoh jahat digambarkan dengan tubuh yang mencerminkan sifat tamak dan tidak mampu mengendalikan diri.
Strategi ini menjadikan wayang sebagai media masifikasi dakwah yang sangat efektif, terutama di wilayah pesisir Jawa tempat para wali berdakwah.
Pada akhirnya, Salim A Fillah menegaskan bahwa keberhasilan dakwah para wali tidak lepas dari tradisi musyawarah berbasis ilmu.
Dialektika yang terjadi di antara para wali bukanlah konflik, melainkan proses intelektual untuk memastikan bahwa strategi dakwah tetap selaras dengan prinsip akidah dan fikih.
“Musyawarah Wali Songo didasari atas ilmu, lalu mereka menyepakati strategi dakwah yang resonan dengan masyarakat,” ujarnya.
Melalui resonansi itulah Islam tumbuh di Jawa, bukan sebagai kekuatan yang menaklukkan budaya, tetapi sebagai nilai yang berdialog, menyatu, dan perlahan membentuk peradaban.
(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID) Baca juga: Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia(est)