LANGIT7.ID, Yogyakarta,- - Direktur Penelitian
Universitas Gadjah Mada, Mirwan Ushada, menegaskan bahwa riset dan inovasi tidak semestinya hanya ditujukan untuk kepentingan individu atau bangsa semata, tetapi juga harus memberi manfaat luas bagi manusia, makhluk hidup, dan lingkungan. Hal itu disampaikan dalam mimbar
Ramadhan Public Lecture di
Masjid Kampus UGM, Kamis (12/3/2026).
Dalam ceramah bertajuk “Membangun Ekosistem Riset dan Inovasi untuk
Rahmatan Lil ‘Alamin”, Mirwan menjelaskan bahwa konsep riset dalam kerangka Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (
Iptek) memiliki cakupan yang lebih luas dibanding sekadar penelitian.
“Riset sejatinya terdiri dari
penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapannya di masyarakat,” ujar Mirwan.
Baca juga: Masa Depan Bangsa di Piring Anak, Upaya Menyelamatkan Generasi dari Ancaman StuntingIa menjelaskan, tujuan riset pada dasarnya menghasilkan dua hal utama, yaitu invensi dan
inovasi. Invensi merupakan penemuan baru, sementara inovasi adalah penerapan dari penemuan tersebut sehingga memberi manfaat nyata.
Menurutnya, proses riset dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni penghuluan dan penghiliran.
Pada tahap penghuluan, riset bertujuan memproduksi pengetahuan berbasis pengalaman empiris, termasuk menghasilkan temuan riset dasar.
Sementara penghiliran berkaitan dengan bagaimana hasil riset yang telah teruji dapat dipublikasikan, dipatenkan, diterapkan, bahkan dikomersialisasikan di tingkat industri.
“Jika ingin membangun ekosistem riset, kita harus melihat secara utuh faktor-faktor yang memengaruhinya. Pemerintah juga menekankan bahwa riset dan kampus harus memberikan dampak,” katanya.
Namun, Mirwan menambahkan, ketika dikaitkan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin, riset tidak hanya berhenti pada dampak ekonomi atau teknologi. Riset dan inovasi juga menjadi sarana untuk mengenali kebesaran Tuhan melalui ciptaan-Nya, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun lingkungan.
Investasi Riset dan Daya Saing BangsaMirwan menjelaskan bahwa ekosistem riset terdiri dari tiga komponen utama, yakni input, proses, dan output. Input mencakup investasi pendanaan, sumber daya alam, sumber daya manusia, serta teknologi.
Baca juga: Membangun Supremasi Hukum dari Nilai-Nilai Islam dan Kekuatan Civil SocietySejumlah negara maju, katanya, mampu berkembang pesat karena memadukan seluruh komponen tersebut dan berfokus pada produksi pengetahuan serta pembudayaan riset dan inovasi. Sistem ekonomi mereka bahkan telah memasuki fase knowledge-based economy, yaitu ekonomi yang pertumbuhannya didorong oleh penciptaan dan pemanfaatan pengetahuan.
Salah satu indikator penting dalam ekosistem ini adalah pengeluaran negara untuk penelitian dan pengembangan (R&D). Persentase belanja R&D terhadap produk domestik bruto (PDB) kerap digunakan untuk mengukur kemajuan suatu negara.
Mirwan mencontohkan beberapa negara yang memiliki investasi besar di bidang riset. Korea Selatan mengalokasikan sekitar 4,8 persen PDB untuk R&D, Jepang sekitar 3,2 persen, dan China sekitar 2,4 persen. Sementara itu, Indonesia masih berada di kisaran 0,2 persen.
“Perbedaan ini menunjukkan bahwa investasi pada riset berkorelasi kuat dengan kapasitas teknologi dan daya saing global,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, negara berkembang perlu meningkatkan investasi riset agar mampu keluar dari jebakan
middle income trap. Transformasi ekonomi juga perlu bergeser dari resource-based economy menuju
innovation-based economy, di mana pertumbuhan tidak lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi pada riset, ilmu pengetahuan, dan inovasi.
Mirwan menekankan bahwa budaya riset sebenarnya dapat dibangun sejak dini melalui kebiasaan sederhana yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis.
Ia mengutip pemikiran Robert Fulghum dalam buku
All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten, yang menyebut bahwa banyak kebijaksanaan lahir dari pengalaman sederhana di masa kanak-kanak.
Baca juga: Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia“Kebiasaan seperti banyak bertanya, berani mencoba, belajar dari pengalaman, jujur, sederhana, serta mau berbagi dan bekerja sama adalah dasar penting dalam riset,” katanya.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, juga selaras dengan ajaran Islam yang menekankan adab dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengucapkan salam, membaca doa sebelum dan sesudah berkegiatan, serta kebiasaan baik lainnya.
Menurut Mirwan, kebiasaan sederhana tersebut membentuk karakter disiplin dan rasa ingin tahu yang kemudian berkembang menjadi critical thinking, yang menjadi fondasi penting dalam riset dan inovasi.
Budaya ini kemudian berkembang di tingkat pendidikan menengah melalui penguatan observasi dan keterampilan bertanya, hingga pada jenjang pendidikan tinggi yang menekankan keterampilan ilmiah.
Penelitian sebagai Inti Tri DharmaDi perguruan tinggi, Mirwan menegaskan bahwa penelitian merupakan inti dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Hasil penelitian, katanya, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti presentasi ilmiah, publikasi akademik, hingga prototipe teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Penelitian itu tidak berdiri sendiri, tetapi harus terintegrasi dengan pengabdian masyarakat. Integrasi ini akan memperkuat budaya riset,” ujarnya.
Ia menilai pengalaman tersebut dapat menjadi dasar langkah strategis bagi kemajuan bangsa, antara lain melalui peningkatan investasi riset, penguatan universitas sebagai pusat riset, serta kolaborasi antara universitas, startup, dan industri untuk mempercepat hilirisasi inovasi.
AI Harus Jadi Mitra, Bukan PenggantiMirwan juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini semakin akrab digunakan, termasuk dalam pengambilan keputusan.
Baca juga: Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan DiabolismeIa mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tersebut tetap harus disertai pemahaman ilmiah yang memadai.
“Jika data pelatihan tidak cukup, AI bisa mengalami overfitting, halusinasi, atau menghasilkan keputusan yang bias,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, manusia tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI. Teknologi tersebut seharusnya menjadi mitra, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis manusia.
Riset sebagai Jalan Mengenal TuhanDalam perspektif Islam, Mirwan menegaskan bahwa riset dan inovasi juga merupakan sarana spiritual untuk mencari kebenaran dan mengenali kebesaran Allah SWT.
Ia menyinggung ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk membaca, berpikir, dan mengamati alam semesta.
“Riset dan inovasi adalah sarana pembelajaran untuk mencari kebenaran dari Allah SWT, mengenali kebesaran-Nya, dan mensyukuri nikmat-Nya,” katanya.
Ia mencontohkan pendekatan speaking plant, yakni metode memahami kondisi tanaman melalui pengamatan terhadap perubahan fisiknya, misalnya ketika tanaman kekurangan air.
Baca juga: Tausiyah di UGM, Mahfud MD Singgung Oligarki dan Turunnya Kualitas DemokrasiMenurutnya, kemampuan membaca tanda-tanda alam tersebut dapat menjadi refleksi bahwa ilmu pengetahuan dan riset merupakan bagian dari upaya manusia memahami ciptaan Tuhan.
“Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kemampuannya memproduksi ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi,” ujarnya.
Mirwan berharap penguatan ekosistem riset di Indonesia tidak hanya meningkatkan daya saing dan ketahanan ekonomi, tetapi juga menjadikan ilmu pengetahuan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (
Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)(est)