LANGIT7.ID-, Yogyakarta - Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations, Syamsuddin Arif, menyampaikan
tausiyah di
Masjid Kampus UGM, Yogyakarta, pada Ahad (8/3/2026).
Dalam ceramahnya di mimbar
Ramadhan Public Lecture, ia mengangkat tema “Merekonstruksi Budaya Ilmu di Tengah Kepungan Diabolisme”, yang menyoroti bagaimana pengaruh kejahatan dan tipu daya setan dapat memengaruhi cara berpikir manusia, termasuk dalam
kehidupan sosial dan intelektual.
Syamsuddin menjelaskan bahwa
Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia tentang keberadaan setan sebagai musuh yang nyata. Ia menyebutkan bahwa kata “setan” disebutkan sebanyak 88 kali dalam
Al-Qur’an, sedangkan kata yang merujuk pada iblis muncul sebanyak 11 kali.
Baca juga: Tausiyah di UGM, Mahfud MD Singgung Oligarki dan Turunnya Kualitas DemokrasiMenurut Syamsuddin, penting bagi umat Islam memahami perbedaan antara iblis dan setan. Para ulama, kata dia, menjelaskan bahwa iblis adalah nama individu, sementara setan merupakan kategori yang lebih luas.
“Iblis itu setan, tetapi setan belum tentu iblis. Ada setan yang bukan iblis,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengutip sebuah hadis
Nabi Muhammad SAW yang berpesan agar manusia berlindung kepada Allah dari setan yang berasal dari golongan jin maupun manusia.
Selain itu, Syamsuddin juga menyinggung pesan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam
Surah Yasin, yang mengingatkan bahwa setan adalah musuh manusia. Karena itu, manusia diingatkan agar tidak menyembah, menghamba, atau mengabdi kepada setan.
Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini, termasuk di Indonesia. Ia menilai bahwa dalam berbagai persoalan, baik ekonomi maupun politik di tingkat lokal dan internasional, sering kali tampak pengaruh-pengaruh yang menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.
Syamsuddin menjelaskan, pada prinsipnya setan memiliki tiga cara utama untuk memengaruhi manusia. Pertama adalah menyesatkan manusia agar menyimpang dari tujuan hidupnya. Padahal, kata dia, tujuan hidup manusia adalah mencari dan menemukan kebenaran serta kebaikan.
Baca juga: Din Syamsuddin: Nuzulul Quran Mengandung Misi Transformasi Sosial“Apabila manusia tidak berhasil mendapatkan kebenaran dan tidak berhasil menemukan kebaikan, berarti ia sudah terpengaruh oleh setan,” katanya.
Lebih lanjut ia memaparkan tiga jalan yang kerap digunakan setan dalam menggoda manusia, yakni syubhat, syahwat, dan khuthuwat.
Syubhat, jelasnya, merujuk pada keadaan yang serba samar dan tidak jelas, sehingga membuat manusia bingung membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang halal dan yang haram.
Adapun syahwat adalah dorongan keinginan atau nafsu yang sangat kuat terhadap sesuatu, yang dapat membuat manusia kehilangan kendali dan pertimbangan moral.
Sementara itu, khuthuwat berarti langkah demi langkah. Menurut Syamsuddin, godaan setan tidak selalu datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap yang sabar dan telaten hingga manusia akhirnya terjerumus.
Di akhir tausiyahnya, Syamsuddin mengingatkan kaum Muslimin agar senantiasa waspada sepanjang hayat. Ia mengajak umat Islam untuk terus memperkuat ketakwaan agar mampu menahan diri dari tiga bentuk godaan tersebut.
“Dengan takwa, manusia akan selalu ingat kepada Allah dan mampu menjaga diri dari tipu daya setan,” ujarnya. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID).
Baca juga: Strategi Diplomasi Indonesia ala Jusuf Kalla di Tengah Arus Multipolar(est)