LANGIT7.ID, - Yogyakarta - Pemahaman terhadap
peristiwa turunnya Al-Qur’an tidak cukup dilihat semata sebagai peristiwa historis keagamaan. Lebih dari
itu, ia menyimpan pesan transformasi sosial yang relevan bagi kehidupan manusia modern. Hal tersebut disampaikan oleh
Din Syamsuddin dalam
Ramadhan Public Lecture di
Masjid Kampus UGM pada Jumat (6/3/2026).
Dalam ceramah yang mengangkat tema “Hermeneutika Nuzulul Qur’an: Membaca Kembali Misi Transformasi Sosial dalam Konteks Modernitas”, mantan Ketua Umum
Majelis Ulama Indonesia itu menjelaskan bahwa pendekatan hermeneutika dapat membantu umat
Islam memahami makna mendalam dari peristiwa turunnya Al-Qur’an.
Baca juga: Strategi Diplomasi Indonesia ala Jusuf Kalla di Tengah Arus MultipolarMenurutnya, hermeneutika merupakan metode atau teori dalam penafsiran teks yang dikaitkan dengan realitas sosiologis di sekitarnya.
Melalui pendekatan ini, seseorang tidak hanya membaca teks secara literal, tetapi juga berupaya memahami makna, maksud, dan hakikat pesan yang terkandung di dalamnya.
“Dengan hermeneutika, teks tidak berdiri sendiri. Ia dipahami bersama konteks sosial dan realitas kehidupan manusia,” ujar Din.
Tiga Tingkatan Nuzulul Qur’anDalam tradisi Islam, peristiwa turunnya Al-Qur’an atau
nuzulul Qur’an dipahami terjadi dalam beberapa tingkatan. Din Syamsuddin menjelaskan bahwa secara teologis terdapat tiga tahap utama dalam proses turunnya wahyu.
Pertama, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam bentuk ilmu dan nilai-nilai ke
Lauhul Mahfudz, yakni tempat terpeliharanya seluruh ketetapan Ilahi.
Pada tingkat ini, tidak hanya Al-Qur’an, tetapi juga kitab-kitab suci lain yang pernah diturunkan kepada para nabi, termasuk lembaran wahyu kepada Ibrahim, berada dalam penjagaan tersebut.
Tahap kedua adalah turunnya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Din menyebut tempat ini sebagai “rumah kemenangan, kemajuan, dan kejayaan.”
Adapun tahap ketiga adalah turunnya wahyu secara bertahap kepada Muhammad melalui malaikat Jibril sesuai dengan konteks kehidupan manusia pada masa itu. Wahyu disampaikan secara berangsur-angsur untuk menjawab persoalan yang dihadapi
masyarakat.
Baca juga: Menelusuri Jejak Integrasi Ilmu dan Agama dalam Islam“Turunnya wahyu secara bertahap menunjukkan bahwa Al-Qur’an hadir untuk berdialog dengan realitas sosial,” jelasnya.
Melalui pendekatan hermeneutika, Din menilai bahwa peristiwa nuzulul Qur’an memiliki tiga makna besar. Makna pertama adalah manifestasi kasih sayang Allah SWT kepada manusia.
Al-Qur’an, menurutnya, merupakan petunjuk hidup bagi umat manusia. Dalam Al-Qur’an sendiri disebut sebagai
hudan linnas wa bayyinatin minal furqan, yakni petunjuk bagi manusia sekaligus pembeda antara yang benar dan yang salah.
Allah, kata Din, sejatinya telah membekali manusia dengan hidayah sejak kelahirannya. Hidayah pertama itu berupa potensi insani yang melekat pada diri manusia sejak diciptakan.
Proses penciptaan manusia dijelaskan secara bertahap: mulai dari pertemuan sperma dan ovum selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah (alaqah), lalu segumpal daging (mudghah), hingga terbentuk tulang yang kemudian dibungkus daging.
Setelah itu, Allah meniupkan ruh ke dalam janin. Pada saat itulah manusia dibekali hidayah dasar.
Mengutip pandangan mufasir terkenal Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam kitab Tafsir al-Maraghi, Din menjelaskan bahwa hidayah pertama tersebut terdiri dari tiga unsur utama: naluri, kekuatan indrawi, dan akal pikiran.
Namun manusia juga memiliki hawa nafsu yang cenderung ganda—dapat mengarah pada kebaikan maupun keburukan. Karena itulah Allah menurunkan hidayah kedua, yakni wahyu.
Baca juga: Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya Tauhid“Wahyu adalah ilmu dan nilai-nilai dari Allah yang berada di luar diri manusia, untuk menuntun potensi yang ada dalam diri manusia,” katanya.
Makna kedua dari nuzulul Qur’an, menurut Din, adalah manifestasi ilmu-ilmu Allah SWT.
Al-Qur’an bukan hanya kitab petunjuk spiritual, tetapi juga mengandung isyarat-isyarat ilmiah yang mendorong perkembangan pengetahuan.
Ayat-ayat Al-Qur’an sering kali menghadirkan tanda-tanda atau ayat yang dapat ditelusuri oleh para ilmuwan untuk memahami alam semesta.
Ia mencontohkan ayat dalam Surah Ar-Rahman yang menantang manusia dan jin untuk menembus langit dan bumi, tetapi dengan syarat memiliki kekuatan ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memisahkan iman dan ilmu.
“Jika para cendekiawan menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat isyarat kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang sangat luas,” ujar Din.
Makna ketiga dari nuzulul Qur’an adalah bahwa ayat-ayat Al-Qur’an merupakan tanda atau bukti kekuasaan Allah, bukan sekadar teks yang dibaca.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu berkembang berdasarkan dua prinsip utama. Pertama, adanya hubungan antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya.
Baca juga: Dari Diferensiasi ke Integrasi, Memadukan Kecerdasan dan KemanusiaanKedua, adanya analogi antara manusia sebagai mikrokosmos dan alam semesta sebagai makrokosmos.
Bila ilmu pengetahuan dikembangkan berdasarkan pandangan kosmologis ini, maka menurut Din tidak akan terjadi pertentangan antara sains dan wahyu.
“Jika terjadi pertentangan, kemungkinan ada kerancuan dalam memahami keduanya,” ujarnya.
Membaca Kembali Pesan IqraDi akhir ceramahnya, Din mengajak umat Islam untuk membaca kembali pesan awal Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad di Gua Hira pada bulan Ramadhan.
Pada masa itu, Nabi melakukan khalwat atau perenungan mendalam terhadap kondisi masyarakat Arab yang berada dalam era jahiliyah—ditandai dengan ketidakadilan sosial, penindasan terhadap perempuan, serta minimnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ketika malaikat Jibril memerintahkan Nabi dengan kata “Iqra” (bacalah), Nabi menjawab “ma ana bi qari”, yang oleh Din dimaknai bukan ketidakmampuan membaca teks, tetapi juga ketidakmampuan membaca realitas sosial.
Pesan iqra kemudian menjadi dorongan bagi umat Islam untuk menjadi umat yang gemar membaca—baik membaca teks, realitas sosial, maupun fenomena alam.
“Umat Islam tidak boleh terjebak pada buta aksara moral,” tegasnya.
Baca juga: Bhima Yudhistira: Indonesia Emas Terancam Jadi 'Indonesia Cemas' Akibat Ketimpangan StrukturalDin juga mengkritik sistem pendidikan modern yang masih memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Ia menilai pembagian ilmu secara terpisah (division of knowledge) justru melemahkan integrasi antara iman dan sains.
Pada akhirnya, pesan besar nuzulul Qur’an adalah membentuk manusia yang beriman sekaligus berilmu.
“Ringkasnya, nuzulul Qur’an mendorong umat Islam menjadi umat yang cerdas—lawan dari umat jahiliyah,” pungkasnya. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID).
(est)